Pasok Gas Pembangkit Listrik, PGN akan Bangun Tiga Hub Distribusi

Ilustrasi. Foto. Ist.

MOMENTUM, Bandarlampung--PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) akan membangun tiga hub distribusi gas alam cair (LNG) untuk memenuhi kebutuhan pasokan gas pembangkit listrik.

Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN Syahrial Mukhtar mengatakan, pembangunan infrastruktur LNG terbagi menjadi area barat, area tengah, dan area timur. 

“Kami akan membangun tiga hub. Pertama area barat akan bangun hub di Terminal Arun, untuk menyuplai kebutuhan gas di Nias, Krueng, dan sekitarnya. Kemudian area tengah, kami sudah memiliki FSRU Lampung, dengan sistem breakbulking ke kapal-kapal kecil untuk menyuplai small LNG carrier. Jadi, nanti FSRU Lampung bisa dibawa ke Kalimantan, Bali, NTT, dan NTB,” kata Syahrial melalui rilis yang diterima harianmomentum.com, Selasa (14-7-22020).

Menuru dia, hub area timur akan dibangun, perkiraan, di Ambon untuk melayani Indonesia tengah dan timur seperti Sulawesi, Maluku dan Papua. 

Pelaksanaan pembangunan infrastruktur LNG dilakukan secara stimulan untuk pembangkit yang sudah dibangun dan dibagi menjadi delapan cluster yakni Cluster Sumatera, Cluster Kalimantan Barat, Cluster Bali Nusra 1, Cluster Bali Nusra 2, Cluster Sulawesi, Cluster Maluku, Cluster Papua Utara dan Cluster Papua Selatan.

Syahrian menjelaskan, tahap quick win akan dilaksanakan dengan menggunakan pola operasi follower di lokasi PLTMG Nias, PLTMG Tanjung Selor, dan PLTMG Sorong yang ditargetkan selesai tahun ini.

Pada tahap ini, kata dia, ditargetkan dapat menyediakan harga yang lebih rendah dari HSD di plant gate pembangkit PLN. Perkiraan penghematan atas konversi penggunaan HSD ke PLN pertahun pada tahap quick win ini diestimasi sebesar Rp200 miliar.

“Kami telah bersama-sama dengan PLN menyepakati skema logistik yang paling optimal. Untuk lokasi Quick Win Nias menggunakan skema transportasi laut dengan LCT dan isotank, Tanjung Selor menggunakan transportasi darat dengan trucking dan isotank, sedangkan Sorong menggunakan pipa gas,” jelas Syahrial.

Setelah penandatanganan HoA yang dilakukan Pertamina dan PLN, Pertamina menugaskan PGN sebagai sub holding gas untuk menyediakan pasokan dan infrastruktur. PGN telah berkoordinasi secara intensif dengan PLN untuk menyelesaikan perjanjian komersial untuk jangka waktu 20 tahun untuk tahap quick win.

Menurut Syahrial, sejauh ini para pihak berkerja sama dengan baik dan menghasilkan progres yang positif. 

Diharapkan, dalam waktu dua sampai tiga tahun, program konversi pembangkit listrik BBM ke gas alam sudah terealisasi. Proyek ini juga termasuk ke dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) dan membutuhkan investasi yang sangat besar.

Sementara Direktur Utama PGN Suko Hartono menambahkan, langkah strategis ini sebagai wujud komitmen PGN dalam melaksanakan program yang ditujukan untuk memperkuat struktur usaha subholding gas dan meraih peluang pertumbuhan usaha dari meningkatnya kebutuhan dalam negeri akan pasokan gas untuk mendukung pembangunan pembangkit listrik.

"Selain itu, menjadi respon PGN dalam mendukung program pemerintah menargetkan perbaikan bauran energi primer bagi pembangkit listrik PLN, sekaligus menurunkan emisi gas rumah kaca,” tutur Suko.

PGN berkomitmen untuk bersinergi dengan PLN untuk meningkatkan utilisasi gas di sektor kelistrikan supaya dapat memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat. Pemanfaatan gas bumi untuk sektor kelistrikan juga membantu mengurangi ketergantungan pada energi impor dan subsidi BBM. Optimalisasi pemanfaatan gas bumi ini juga merupakan upaya PGN menyediakan energi dalam negeri untuk kesejahteraan masyarakat. (*).

Lapora: Ira/Rls.

Editor: M Furqon.


Berikan Komentar