Seandainya Gibran Nyalon Walikota di Bandarlampung

Andi Panjaitan, Pemred Harian Momentum.

MOMENTUM, Bandarlampung--Sejak ditetapkan sebagai bakal calon Walikota Solo dari PDI Perjuangan, Gibran Rakabuming Raka semakin gencar sosialisasi. 

Hampir setiap hari putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu berkeliling, memperkenalkan diri kepada masyarakat setempat.

Dalam kunjungannya, Gibran selalu membagikan paket sembako kepada warga yang belum tersentuh bantuan sosial dari pemerintah. Selama pandemi corona virus disease 2019 (Covid-19).

Setidaknya sudah 22.778 paket bantuan yang dia bagikan per 10 Juni 2020 lalu. Mungkin saat ini jumlahnya sudah lebih dari itu. Begitu keterangan yang dia bagikan melalui akun Instagram pribadinya; @gibran_rakabuming. 

Selama ini, tidak satupun lurah maupun camat di Solo yang melarang dia bersosialisasi. Tidak ada juga Ketua RT yang menghalangi tim Gibran saat membagikan paket sembako.

Apakah karena dia seorang anak presiden atau disebabkan aparatur di sana lebih paham regulasi ketimbang di Bandarlampung? Entahlah.

Saya jadi berpikir, bagaimana seandainya kalau Gibran nyalon walikota di Bandarlampung. Apakah dia akan tetap mendapat perlakuan istimewa seperti di kampungnya.

Atau justru bernasib serupa dengan bakal calon walikota di sini; M Yusuf Kohar dan Rycko Menoza. Saban hari mendapat aksi penolakan dari oknum lurah dan ketua RT. 

Tapi saya yakin. Jika Gibran melakukan hal serupa di Bandarlampung, tidak akan ada aparatur yang berani mengganggunya.

Selain anak presiden, tindakan Gibran bersosialisasi dan membagikan paket sembako juga tidak melanggar aturan manapun. Apalagi statusnya masih bakal calon. Belum resmi terdaftar sebagai calon walikota di Komisi Pemilihan Umum (KPU). 

Seharusnya, lurah dan ketua RT di Bandarlampung bisa lebih bijak menyikapi kegiatan serupa yang diprakarsai oleh M Yusuf Kohar dan Rycko Menoza.

Terlepas bantuan yang diberikan berbau politik atau tidak, seharusnya berterima kasih jika ada pihak yang membantu warganya di tengah kondisi sulit saat ini. Bukannya malah menghalangi. 

Toh, bentuk bantuan itu sama halnya dengan beras yang pernah dibagikan pemerintah kota (Pemkot) Bandarlampung, beberapa bulan lalu.

Kala itu, aparatur terlihat begitu antusias mengawal pembagian bantuan yang dilabeli dengan kalimat “Bantuan Walikota Herman HN”. Bahkan, saat pendistribusiannya, aparatur juga dengan sengaja melibatkan warga yang menggunakan kaos bertuliskan “Eva Dwiana” calon walikota.

Saran saya, mohon kiranya bapak Walikota Herman HN memberangkatkan aparatur lurah dan camat di Bandarlampung untuk studi banding ke Kota Solo, Jawa Tengah.

Agar wawasan mereka bertambah luas dan lebih bijak dalam menghadapi persoalan apapun. Termasuk menyikapi pemilihan walikota (Pilwakot) yang sebentar lagi akan dilaksanakan. 

Berlaku adillah terhadap semua kandidat calon walikota. Jangan pernah tebang pilih. Tabikpun. (**)

Berikan Komentar