Mitra PTPN VII, Sutrisno Produksi Tahu Tanpa Formalin

Perajin tahu mitra binaan PTPN VII, Sutrisno. Foto. Nur.

MOMENTUM, Bandarlampung--Perajin tahu asal Bandarlampung ini, Sutrisno, bersyukur menjadi mitra binaan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII. Usahanya mengolah produk makanan berbahan baku kedelai itu kini makin berkembang.

"Menjadi mitra binaan PTPN VII merupakan anugerah bagi kami sekeluarga. Kami ingin sukses seperti para mitra binaan yang terlebih dahulu dibimbing perusahaan perkebunan ini," ujar Sutrisno, Senin (14-9-2020).

Saat ditemui di kediamannya di Jl Pulau Singkep Sukarame Bandarlampung, Sutrisno sibuk mengaduk gilingan kedelai yang airnya direbus untuk dibuat tahu. Dibantu lima pekerja, usahanya kini mengolah 80 kilogram kedelai.

Ia berharap usaha yang ditekuni bisa berkembang dan lebih maju lagi. Apalagi saat ini telah mendapatkan suntikan tambahan modal dari PTPN VII.

"Saya berterima kasih telah diterima sebagai mitrabinaan PTPN VII. Bantuan dari PTPN VII kami gunakan untuk membeli mesin penggiling, tower, wajan dan stok kedelai," katanya.

Bantuan itu sangat membantu usahanya. Misalnya, kini jika listrik padam, dia tidak lagi menghadapi persoalah air karena sudah memiliki tower air. "Mengolah tahu ini membutuhkan air dalam jumlah banyak. Kalau listrik mati, kami kelabakan," ujarya.

Sebenarnya, Sutrisno mengaku kini tak ada lagi kendala dalam mengembangkan usaha memproduksi tahu. Apalagi, sudah menjadi mitra PTPN VII yang diharapkan terus berlanjut.

Begitu pun soal bahan baku, sudah bisa dipenuhi. Hanya masalah harga kedelai yang terus naik. "Sementara harga jual tahu tidak bisa serta merta dikanaikkan. Pelanggan bisa berkurang," cerita dia menyiasati kenaikan harga bahan baku dengan memperkecil ukuran tahu.

Sambil terus bekerja, Sutrisno bercerita awal mula menekuni usaha memproduksi tahu. Bapak dua anak ini mengaku memulai usaha membuka pabrik tahu sejak tahun 2011. 

Sebelum membuka usaha sendiri, ia pernah menjadi perajin tempe. Namun usaha hanya berlangsung sekitar dua tahun. Kemudian beralih profesi menjadi pedagang tahu milik mertuanya. 

"Dari berjualan tahu, saya bisa menyisihkan hasil untuk modal usaha membuat pabrik tahu sendiri," akunya. Ketika itu, dia mengali usaha memproduksi tahu dengan mengolah 10 kilogram kedelai setiap hari.

Tahu hasil produksinya, dia jual sendiri keliling pasar di Bandarlampung. "Setiap habis salah subuh, saya membawa tahu ke pasar. Pulang dari keliling menjual tahu, baru memproduksi lagi untuk dijual keesokan harinya," katanya.

Dia bersyukur, usaha yang ditekuni setiap tahun mengalami peningkatan. Dari awalnya hanya mengolah 10 kg kedelai, kini rata-rata setiap hari menghabiskan 80 kg kedelai.

Selama empat tahun, dia geluti usaha dengan menjual sendiri. Sambil mencari pelanggan yang bisa menampung hasil produksinya. "Percuma kita memproduksi banyak, bila tidak bisa terjual. Karena itu, saya memilih mencari pembeli dulu baru memproduksi tahu," katanya.

Meski sudah ada pembeli tetap, tapi Sutrisno masih aktif mempromosikan tahu produksinya. "Tahu kami memiliki keunggulan karena tidak menggunakan formalin (Pengawet). Jadi aman untuk dikonsumsi,” kata suami Puji Astuti.

Pria kelahiran 1984 bersyukur produksi tahunya banyak diminati masyarakat. Setiap hari mengolah 80 kg kedelai dengan hasil 24 ribu bungkus tahu berisi 10 buah per bungkus.

Setiap bungkus tahu potongan kotak dijual Rp2.200 per bungkus. Sedangkan untuk tahu bentuk kembang dijual Rp4.500 per bungkus karena tahunya lebih padat. Tahu ini dijual di Pasar Waydadi Sukarame, Pasar Koga dan Pasar Beringin. 

Kemudian Sutrisno menjelaskan proses pembuatan tahu. Pertama kedelai dicuci bersih dan direndam selama dua sampai tiga jam. Setelah itu, kedelai dimasukan ke mesin giling. Kemudian, disaring dan direbus selama 15 menit. 

Selanjutnya, setelah direbus, bahan tahu dimasukan ke dalam kolam ukuran besar untuk proses menjadi tahu. Dengan dicampur garam dan ragi tahu. Setelah beberapa menit dicampur dan diaduk hingga rata, sari kedelai dimasukan ke dalam cetakan dan didinginkan. Setelah dingin, baru dicetak dan siap dijual.

Persoalan limbah? Pria yang suka bermain sepak bola ini, menyatakan tidak ada masalah. Ampas perasan kedelai dijadikan makanan ternak sapi. Sutrisno bekerjasama dengan perusahaan peternak sapi yang siap mengambil limbahnya setiap hari.

Sedangkan limbah cairnya, Sutrisno membuat lobang resapan, sehingga tidak ada bau limbah yang bisa mengganggu tetatanga dan lingkungan sekitar.

Yang menarik, di pabrik tahu Sutrino, proses pengolahan tidak menggunakan bahan bakar kayu. Tapi menggunakan serbuk kayu lengkap dengan cerobong asap. Sehingga asap yang keluar dari pembakaran langsung masuk ke cerobong. (*)

Laporan/Editor: Nurjanah.

Berikan Komentar