Ketika Kebiasaan Kecil Menentukan Masa Depan Bumi

Tanggal 15 Jun 2026 - Laporan Harian Momentum. - 140 Views
Ilustrasi. Ist.

Oleh: Dinda Oktav Ramadhani, Alya Faiza Rafif, Shofia Ramadhani, Ahmad Muhtarom*

MOMENTUM -- Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim, pencemaran lingkungan, dan penumpukan sampah, keberlanjutan (sustainability) tidak lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan. Berbagai persoalan lingkungan yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa bumi sedang menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Sayangnya, masih banyak orang yang menganggap menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab pemerintah atau organisasi tertentu. Padahal, masa depan bumi juga ditentukan oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari oleh setiap individu.

Hasil wawancara dengan sejumlah mahasiswa dari berbagai program studi menunjukkan bahwa penggunaan barang sekali pakai masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Plastik kemasan, botol minuman sekali pakai, dan kantong kresek masih banyak digunakan karena dianggap praktis dan mudah diperoleh.

Padahal, kemudahan tersebut menyimpan konsekuensi jangka panjang. Sampah plastik membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai. Akibatnya, sampah dapat mencemari tanah, sungai, dan laut serta mengganggu keseimbangan ekosistem.

Di sisi lain, kesadaran untuk menerapkan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan mulai tumbuh di kalangan mahasiswa. Sebagian narasumber mengaku telah membiasakan diri membawa tumbler dan tas belanja pakai ulang (totebag) untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Ada pula yang mulai memilih produk yang lebih tahan lama dan dapat digunakan berulang kali.

Meskipun terlihat sederhana, langkah-langkah tersebut merupakan bentuk nyata penerapan prinsip keberlanjutan dalam kehidupan sehari-hari. Perubahan besar sering kali berawal dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Selain persoalan sampah, emisi karbon juga menjadi tantangan besar dalam menjaga kelestarian lingkungan. Aktivitas manusia yang masih bergantung pada bahan bakar fosil, terutama penggunaan kendaraan bermotor, menghasilkan emisi karbon dioksida yang berkontribusi terhadap pemanasan global dan perubahan iklim.

Sebagian besar narasumber memahami hubungan antara penggunaan kendaraan bermotor dan peningkatan emisi karbon. Namun, mereka juga mengakui bahwa keterbatasan transportasi umum sering membuat masyarakat tetap bergantung pada kendaraan pribadi.

Kesadaran lingkungan sesungguhnya tidak berhenti pada pilihan transportasi atau penggunaan produk tertentu. Kesadaran itu juga berkaitan dengan cara seseorang memandang suatu barang setelah digunakan. Banyak orang membeli barang berdasarkan kebutuhan dan kepraktisan tanpa mempertimbangkan dampaknya ketika barang tersebut menjadi limbah.

Padahal, setiap produk memiliki siklus hidup yang meninggalkan jejak lingkungan. Karena itu, memilih barang yang tahan lama, dapat digunakan kembali, atau mudah didaur ulang merupakan bentuk tanggung jawab yang dapat dilakukan setiap individu.

Berbagai inovasi juga terus dikembangkan untuk mendukung kehidupan yang lebih berkelanjutan. Kendaraan listrik, energi terbarukan, serta produk ramah lingkungan menjadi contoh bahwa kemajuan teknologi tidak harus bertentangan dengan upaya pelestarian alam. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi solusi apabila dimanfaatkan secara bijak dan didukung oleh kesadaran masyarakat.

Dalam konteks ini, pendidikan memiliki peran yang sangat penting. Sekolah dan perguruan tinggi telah mulai mengenalkan isu lingkungan melalui berbagai kegiatan pembelajaran. Namun, pendidikan lingkungan tidak cukup hanya berupa teori di ruang kelas. Diperlukan pembiasaan dan praktik nyata yang mampu menumbuhkan karakter peduli lingkungan sejak dini.

Program pengurangan sampah plastik, pemilahan sampah, penghematan energi, serta berbagai kegiatan berbasis lingkungan perlu terus diperkuat agar kesadaran tersebut tumbuh menjadi budaya.

Pada akhirnya, sustainability bukan sekadar konsep yang dibahas dalam ruang kuliah atau forum ilmiah. Keberlanjutan merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

Membawa tumbler, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilih produk ramah lingkungan, menghemat energi, serta menggunakan transportasi secara bijak mungkin terlihat sebagai tindakan kecil. Namun, jika dilakukan secara konsisten oleh banyak orang, kebiasaan-kebiasaan tersebut dapat memberikan dampak besar bagi kelestarian lingkungan.

Masa depan bumi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan besar atau teknologi canggih. Masa depan bumi juga ditentukan oleh pilihan-pilihan sederhana yang kita buat setiap hari. Karena itu, menjaga lingkungan harus dimulai dari diri sendiri. Ketika kebiasaan kecil dilakukan bersama-sama, kebiasaan tersebut dapat menjadi kekuatan besar yang menentukan masa depan bumi yang lebih baik dan berkelanjutan bagi generasi mendatang. (**)

*Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakara

Editor: Muhammad Furqon


Comment

Berita Terkait


Ketika Kebiasaan Kecil Menentukan Masa Depan ...

Oleh: Dinda Oktav Ramadhani, Alya Faiza Rafif, Shofia Ramadhani, ...


Israel, Bangsa Parasit di Muka Bumi? (Bagian ...

Oleh Ichsanuddin Noorsy dan M. Arief PranotoRuntuhnya UtsmaniyahM ...


Chatib Basri di Ajang Perang Ideologi Ekonomi ...

Oleh Ichsanuddin Noorsy dan M. Arief PranotoMOMENTUM -- Lebih dar ...


Dino Patti Djalal, Diplomat Senior yang Menda ...

MOMENTUM -- Nama Dino Patti Djalal kembali menghiasi ruang publik ...


E-Mail: harianmomentum@gmail.com