Oleh: Majid Lintang
ADA sebuah jalan di Lampung yang tidak sekadar menghubungkan kota dengan kota. Jalan itu menghubungkan udara panas pesisir dengan embun pegunungan, aroma kopi yang baru dipetik dengan asin ombak Samudra Hindia, juga kisah-kisah lama yang masih hidup di balik kabut Bukit Barisan.
Perjalanan tujuh hari ini bukan sekadar wisata. Ia adalah perjalanan perlahan untuk memahami sisi lain Lampung—provinsi yang selama ini lebih sering dikenal sebagai gerbang Sumatra daripada tujuan utama pelancong.
Hari Pertama: Bandarlampung Menuju Pringsewu, Menyapa Lampung dari Pedesaan
Pagi masih muda ketika kendaraan meninggalkan Bandarlampung menuju arah barat. Jalan nasional membelah hamparan sawah, kebun singkong, dan rumah-rumah sederhana yang berdiri teduh di bawah pohon-pohon tua.
Pringsewu menjadi persinggahan pertama. Kota kecil ini tak menawarkan gedung-gedung tinggi, tetapi menghadirkan ketenangan yang mulai langka. Di pasar tradisional, aroma kopi tubruk berpadu dengan wangi pisang goreng yang baru diangkat dari penggorengan. Senyum para pedagang menjadi sambutan yang lebih hangat daripada papan selamat datang.
Menjelang sore, langit mulai berubah keemasan. Di kejauhan, punggung Bukit Barisan tampak seperti dinding hijau yang memanggil perjalanan berikutnya.
Hari Kedua: Menembus Ulubelu, Jalan yang Menghubungkan Kabut dan Api Bumi
Dari Pringsewu, perjalanan ke arah barat melalui Talangpadang dan berbelok ke Pulaupanggung. Di sinilah jalan mulai meninggalkan keramaian kota kecil dan perlahan memasuki pelukan Bukit Barisan. Aspal berkelok mengikuti kontur lereng, membawa kendaraan terus menanjak menuju Ulubelu.
Udara berubah cepat. Jika tadi masih terasa hangat, kini embusan angin pegunungan membawa kesejukan yang membuat jendela mobil ingin terus terbuka. Hamparan kebun kopi dan ladang sayuran bergantian menghiasi sisi jalan. Sesekali terlihat petani memikul keranjang berisi buah kopi merah, sementara anak-anak melambaikan tangan kepada kendaraan yang lewat.
Ulubelu adalah negeri yang hidup di antara kabut dan uap panas bumi. Di balik hijaunya perbukitan berdiri kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulubelu, salah satu pembangkit panas bumi terbesar di Sumatra. Dari kejauhan tampak kepulan uap putih membubung tenang ke langit, seolah gunung sedang bernapas pelan. Empat unit pembangkit berkapasitas total 220 megawatt memasok sekitar seperempat kebutuhan listrik Lampung, menjadikan Ulubelu contoh bagaimana energi alam dimanfaatkan tanpa menghilangkan pesona lanskapnya.
Tak jauh dari kawasan pembangkit, jalan melintasi hutan yang rapat. Di beberapa titik, aroma belerang tipis terbawa angin. Jika memiliki waktu lebih, pelancong dapat singgah di Danau Hijau Ulubelu, sebuah danau air panas alami berwarna kehijauan yang dikelilingi pepohonan lebat. Uap tipis yang mengepul dari permukaan air menciptakan pemandangan yang terasa magis, terutama ketika kabut pagi belum sepenuhnya terangkat.
Selepas Ulubelu, jalan terus mendaki. Tikungan demi tikungan membuka panorama baru: lembah hijau, jurang yang diselimuti pepohonan, sungai-sungai kecil yang mengalir jernih, hingga lereng kopi yang tampak seperti permadani hijau.
Perjalanan ini bukan jalur yang mengajak terburu-buru. Hampir setiap tikungan menawarkan alasan untuk berhenti sejenak—menghirup udara pegunungan, memotret lanskap Bukit Barisan, atau sekadar menikmati secangkir kopi hangat di warung sederhana milik warga.
Menjelang sore, kabut mulai turun perlahan ketika kendaraan memasuki Liwa. Kota kecil itu muncul di balik selimut putih pegunungan, menyambut setiap pelancong dengan udara dingin, aroma kopi yang baru disangrai, dan ketenangan yang seolah menjadi hadiah setelah perjalanan panjang melintasi Ulubelu. Perjalanan dari Pringsewu menuju Liwa melalui jalur ini bukan hanya perpindahan tempat, melainkan perubahan suasana: dari denyut kota kecil menuju jantung pegunungan Lampung.
Kabut turun perlahan menyelimuti lereng-lereng bukit. Inilah Liwa, ibu kota Lampung Barat yang terkenal sebagai negeri kopi.
Di sini, waktu berjalan lebih lambat.
Secangkir kopi robusta diseduh tanpa tergesa. Asap tipis mengepul dari cangkir, membawa aroma tanah basah yang khas. Para petani bercerita tentang musim panen, hujan, dan bagaimana kopi bukan sekadar komoditas, melainkan warisan keluarga yang diwariskan lintas generasi.
Sore hari adalah waktu terbaik berjalan kaki di sekitar kota. Jalan-jalan yang teduh, udara sejuk, dan siluet pegunungan menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan di kota besar.
Hari Ketiga: Menyusuri Kebun Raya dan Negeri Kopi
Mentari pagi menerobos sela pepohonan Kebun Raya Liwa. Burung-burung bersahutan, sementara embun masih menggantung di ujung daun.
Perjalanan berlanjut ke Kampung Kopi Rigis Jaya.
Di lereng-lereng bukit, hamparan kebun kopi membentang sejauh mata memandang. Petani memetik buah kopi merah satu per satu. Tak ada mesin besar. Semua dilakukan dengan kesabaran.
Dari proses panen, penjemuran, hingga menyangrai biji kopi, setiap tahap menyimpan cerita tentang ketekunan.
Saat menyeruput secangkir kopi hangat di beranda rumah petani, terasa bahwa rasa kopi Lampung bukan hanya berasal dari tanah vulkanik, tetapi juga dari kerja keras orang-orang yang menjaganya.
Hari Keempat: Danau Ranau, Cermin Langit di Kaki Gunung Seminung
Jalan berkelok membawa perjalanan menuju Danau Ranau.
Air danau membentang tenang seperti kaca raksasa yang memantulkan langit biru. Di sisi lain berdiri kokoh Gunung Seminung, seolah menjaga danau sejak ribuan tahun lalu.
Perahu-perahu nelayan bergerak perlahan. Anak-anak bermain di tepian danau, sementara para wisatawan memilih duduk diam menikmati angin.
Tak ada suara klakson.
Tak ada hiruk-pikuk.
Yang terdengar hanya desir angin dan riak kecil yang menyentuh tepian.
Menjelang senja, matahari tenggelam perlahan di balik pegunungan. Langit berubah jingga, lalu merah, sebelum akhirnya biru gelap menyelimuti danau.
Hari Kelima: Menuju Krui, Ketika Gunung Bertemu Laut
Perjalanan dari Liwa menuju Krui adalah salah satu rute paling indah di Sumatra.
Jalan menurun mengikuti lekuk Bukit Barisan. Di satu sisi berdiri hutan tropis yang lebat, di sisi lain sesekali terbuka pemandangan Samudra Hindia yang luas tanpa batas.
Setiap tikungan menghadirkan lanskap baru.
Air terjun kecil.
Sungai bening.
Tebing hijau.
Lalu tiba-tiba laut.
Krui menyambut dengan aroma garam dan angin yang lebih hangat.
Hari Keenam: Ombak yang Mendunia
Pagi-pagi sekali, Pantai Tanjung Setia sudah dipenuhi peselancar dari berbagai negara.
Mereka menunggu ombak datang.
Tak lama kemudian, gulungan ombak setinggi beberapa meter bergerak dari tengah laut. Seorang peselancar meluncur mengikuti dinding air yang panjang. Tepuk tangan spontan terdengar dari bibir pantai.
Bagi yang tidak berselancar, cukup duduk di pasir sambil menikmati debur ombak sudah menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.
Menjelang sore, matahari perlahan turun ke ufuk barat.
Langit berubah menjadi kanvas raksasa berwarna emas, jingga, dan merah tua.
Mungkin inilah salah satu matahari terbenam terindah di Indonesia.
Hari Ketujuh: Pulau Pisang dan Perjalanan Pulang
Hari terakhir ditutup dengan menyeberang ke Pulau Pisang.
Laut pagi begitu tenang.
Airnya sebening kaca.
Dari atas perahu, terumbu karang terlihat jelas di dasar laut.
Di pulau kecil itu, kehidupan berjalan sederhana. Nelayan memperbaiki jala, anak-anak berlari di pasir putih, dan ibu-ibu menjemur ikan di halaman rumah.
Tak ada pusat perbelanjaan.
Tak ada gedung pencakar langit.
Yang ada hanyalah laut, angin, dan kehidupan yang mengalir apa adanya.
Menjelang siang, perjalanan pulang dimulai.
Mobil kembali menyusuri Bukit Barisan. Di kaca jendela, pegunungan perlahan menjauh. Tetapi kenangan tentang kopi Liwa, tenangnya Danau Ranau, dan ombak Krui tetap tinggal.
Lampung ternyata bukan hanya tempat untuk dikunjungi.
Ia adalah tempat yang membuat siapa pun ingin kembali.
Karena di sepanjang punggung Bukit Barisan itu, alam dan manusia masih sempat saling menyapa tanpa tergesa.(*)
Editor: Muhammad Furqon
E-Mail: harianmomentum@gmail.com