Museum Bank Indonesia: Ekonomi Bertemu Seni & Budaya Lewat Ruang Kreativitas

Tanggal 29 Jul 2026 - Laporan Wawan - 172 Views
Kepala Museum Bank Indonesia, Rio Wardhanu menyerahkan cinderamata kepada Deputi Direktur Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Achmad P. Subarkah.

MOMENTUM, Jakarta--Bank Indonesia tidak hanya berbicara soal nilai tukar, inflasi, atau kebijakan moneter. Melalui Museum Bank Indonesia (MuBI), lembaga ini aktif membuka ruang luas untuk melestarikan, memajukan, dan memperkenalkan kekayaan seni serta budaya bangsa sebagai jembatan agar semakin dekat dengan seluruh lapisan masyarakat.

Kepala Museum Bank Indonesia, Rio Wardhanu menjelaskan, kehadiran museum ini dirancang bukan sekadar sebagai tempat penyimpanan benda bersejarah, melainkan menjadi pusat edukasi sekaligus “kawah lebur” atau melting pot—tempat bertemunya berbagai ide, gagasan, budaya, dan pemikiran selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs.

“Ibarat masak shabu‑shabu atau racak: segala bahan masuk ke dalam satu wadah, lalu dinikmati bersama. Di sini semua gagasan bisa bertemu, berpadu, dan tumbuh bersama,” ujar Rio Wardhanu saat menyambut kunjungan awak media, Selasa (28-7-2026).

Museum ini rutin menggelar dua kali pameran temporer setiap tahunnya, berlangsung selama dua hingga tiga bulan untuk mengangkat koleksi serta nilai budaya yang menarik.

Saat ini hingga Agustus 2026, digelar pameran bertajuk ‘Ing Lakon Wayang Wong Jadi Saksi’ yang mengangkat sejarah tahun 1930—masa De Javasche Bank—ketika gambar corak Kerajaan Sriwijaya dihadirkan pada mata uang saat itu, tujuannya untuk mendekatkan diri dan menghargai budaya lokal di tengah masa sulit resesi dunia kala itu.

Kreativitas yang diusung pun terus berkembang mengikuti zaman. Pernah digelar pameran ‘Ecovilia’ yang mengangkat tema lingkungan dan ekonomi hijau—lengkap dengan kalkulator hijau—di mana ruangan museum diubah sedemikian rupa menyerupai hutan belantara. Ada juga pameran bertema ‘Herstory’, yang mengangkat peran dan perjuangan tokoh perempuan seperti Ibu Kartini serta Dewi Sartika, melengkapi catatan sejarah yang selama ini lebih banyak didominasi kisah tokoh laki‑laki.

“Bank Indonesia tidak hanya bicara ekonomi. Kami juga bicara soal edukasi, kemajuan seni, serta pengembangan budaya, agar kami bisa diterima dan dekat dengan masyarakat dari segala lapisan,” tegasnya.

Gedung megah yang menaungi museum ini dibangun pada tahun 1828, sehingga dua tahun lagi—tepatnya 2028—akan merayakan ulang tahun ke‑200. Ruang ini pun terus terbuka bagi berbagai kolaborasi: mulai dari kedutaan hingga komunitas budaya, seperti rencana pagelaran tarian Kedubes Belanda dan kirab budaya Belantara Budaya yang akan segera digelar.

“Kami ingin terus menampilkan ide‑ide terkini, agar Museum Bank Indonesia benar‑benar menjadi milik semua, tempat di mana budaya dan nilai kebangsaan terus hidup dan berbagi,” ujar Rio.(**)

Editor: Agus Setyawan


Comment

Berita Terkait


TransNusa Buka Rute Lampung-Kuala Lumpur ...

MOMENTUM, Bandarlampung -- Warga Lampung kini memiliki pilihan ba ...


Dorong Pertumbuhan Ekonomi, Kanwil DJP Bengku ...

MOMENTUM, Bandarlampung--Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jende ...


PTPN IV Regional VII Bekali Aparatur Perkebun ...

MOMENTUM, Bandarlampung--PTPN IV Regional VII mendukung peningkat ...


Museum Bank Indonesia: Ekonomi Bertemu Seni & ...

MOMENTUM, Jakarta--Bank Indonesia tidak hanya berbicara soal nila ...


E-Mail: harianmomentum@gmail.com