Dari Rp70 Ribu hingga Mendunia, Kisah Ja’far Hasibuan Jadi Referensi Akademik

Tanggal 02 Agu 2026 - Laporan Harian Momentum - 94 Views
Muhammad Ja’far Hasibuan menuangkan kisah perjalanan hidupnya dalam buku: Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia. Foto: Ist.

MOMENTUM, Jakarta -- Kisah perjalanan hidup Muhammad Ja’far Hasibuan, anak desa asal Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara, yang merantau dengan modal Rp70 ribu hingga menghasilkan inovasi Biofar SS, dituangkan dalam buku berjudul "Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia".

Buku tersebut diluncurkan dan dibedah dalam seminar serta talkshow internasional di Aula G Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Sabtu (1/8/2026). Kegiatan itu mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, dan pemangku kebijakan dari berbagai bidang.

Muhammad Ja’far Hasibuan mengatakan, kegiatan yang digelar Mega Press Nusantara itu diikuti sekitar 500 peserta secara luring dan 1.500 peserta secara daring. Acara tersebut mendapat dukungan dari Perpustakaan Nasional RI, Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, serta FKM UI.

“Peluncuran buku ini menjadi bukti bahwa keterbatasan sosial dan ekonomi tidak menjadi penghalang untuk menghasilkan karya ilmiah yang memenuhi standar akademik dan memberi kontribusi bagi ilmu pengetahuan,” kata Ja’far.

Dalam buku setebal lebih dari 400 halaman tersebut, Ja’far mengangkat perjalanan hidupnya sebagai anak yatim yang berasal dari desa terpencil. Ia menceritakan perjuangan merantau dengan bekal Rp70 ribu dan membiayai pendidikan melalui usaha berjualan roti sambil menjalani kuliah.

Berbagai keterbatasan akses informasi, sumber daya, dan kondisi ekonomi justru menjadi motivasi baginya melakukan riset lapangan, pengujian laboratorium, hingga uji coba di masyarakat yang kemudian melahirkan inovasi Biofar SS.

“Seluruh kompetensi dan wawasan yang saya peroleh selama pendidikan saya arahkan menjadi karya terapan dan inovasi yang teruji secara ilmiah agar dapat memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Ja’far yang saat ini merupakan mahasiswa Semester I Program Studi Magister Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (FKM USU) menyebut dukungan Program Beasiswa Kapolri menjadi amanah besar untuk terus mengembangkan penelitian.

Menurut dia, dukungan pimpinan institusi dan para dosen menjadi bagian penting dalam menjaga proses penelitian tetap berjalan sesuai kaidah akademik.

Buku tersebut tidak hanya mengisahkan perjalanan hidup, tetapi juga mengintegrasikan pengalaman empiris dengan berbagai teori ilmiah. Penyusunan buku didukung lebih dari 200 referensi akademik lintas disiplin.

Sejumlah teori yang digunakan antara lain Teori Modal Sosial dan Kapabilitas Manusia, Teori Aksi Terencana, Teori Keadilan Kesehatan dan Determinan Sosial Kesehatan, hingga teori resiliensi, growth mindset, dan kerangka implementasi riset.

Guru Besar FKM UI Prof. dr. Adang Bachtiar menilai buku tersebut memiliki nilai akademik karena mampu menghubungkan pengalaman hidup autentik dengan teori-teori mutakhir di bidang kesehatan masyarakat, inovasi, dan kepemimpinan.

Ia menyebut karya Ja’far telah menjadi bahan diskusi akademik dan membuka peluang pengembangan studi lanjutan.

Sementara Wakil Dekan II Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung Dr. Rosleny Marliani menilai pengalaman hidup Ja’far menunjukkan proses pembentukan karakter melalui tantangan dan keterbatasan.

“Kemiskinan, kehilangan ayah, hingga pengalaman berjualan roti bukan hanya kesulitan hidup, tetapi menjadi proses pembentukan karakter dan ketangguhan,” ujarnya.

Guru Besar FKM USU Prof. Dr. Ir. Zulhaida Lubis juga mengapresiasi karya tersebut sebagai bentuk kontribusi bagi keluarga, almamater, dan bangsa.

Acara peluncuran buku dibuka oleh Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo yang diwakili Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri Komjen Pol Drs. R.Z. Panca Putra Simanjuntak. Sambutan Kapolri dibacakan Irjen Pol Dr. Andry Wibowo.

Dalam sambutannya disampaikan bahwa keberhasilan Ja’far menunjukkan potensi anak bangsa tidak ditentukan oleh latar belakang ekonomi, melainkan oleh kerja keras, disiplin, integritas, dan kepedulian sosial.

Apresiasi juga diberikan Kementerian Pemuda dan Olahraga RI yang menetapkan Muhammad Ja’far Hasibuan sebagai Ikon Pemuda Terdaftar Resmi Kemenpora RI. Selain itu, Perpustakaan Nasional RI menetapkan buku tersebut sebagai salah satu koleksi referensi nasional.

Melalui buku "Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia", Ja’far berharap kisah hidup dan inovasi yang dihasilkan dapat menjadi inspirasi sekaligus referensi bagi akademisi, peneliti, dan masyarakat luas.

“Kepercayaan yang diberikan negara melalui Beasiswa Kapolri menjadi amanah yang tidak akan saya sia-siakan. Ilmu yang saya pelajari akan terus saya wujudkan dalam karya dan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya. (*)

Editor: Muhammad Furqon


Comment

Berita Terkait


Dari Rp70 Ribu hingga Mendunia, Kisah Ja’fa ...

MOMENTUM, Jakarta -- Kisah perjalanan hidup Muhammad Ja’far Has ...


Gubernur Ajak IAI Darul Fattah Cetak SDM Adap ...

MOMENTUM, Bandarlampung – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djaus ...


Gubernur Lampung: Sekolah Rakyat Jadi Instrum ...

MOMENTUM, Kotabaru--Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal meneg ...


Pemkab Tubaba Tinjau SMP Karya Bhakti yang Ru ...

MOMENTUM, Panaragan--Pemerintah Kabupaten Tulangbawang Barat (Tub ...


E-Mail: harianmomentum@gmail.com