Oleh: Majid Lintang
PAGI itu, aroma daun pisang yang baru diangkat dari kukusan memenuhi dapur sebuah rumah tua di pedalaman Lampung. Uap tipis mengepul dari gulungan-gulungan hijau yang tersusun rapi di atas tampah bambu. Seorang ibu membuka ikatan tali satu per satu. Pisau kecil kemudian membelah gulungan itu perlahan. Tampaklah ketan putih yang padat, mengilap, dan mengeluarkan aroma santan yang lembut.
"Itulah segubal," katanya sambil tersenyum. "Kalau belum ada segubal, rasanya hari raya belum benar-benar datang."
Di tengah gempuran makanan cepat saji dan aneka kuliner modern yang silih berganti memenuhi media sosial, segubal tetap bertahan dalam kesederhanaannya. Ia tidak tampil mencolok. Tidak dipenuhi taburan keju, saus kekinian, atau kemasan mewah. Namun justru di balik tampilannya yang sederhana itulah tersimpan jejak panjang perjalanan budaya masyarakat Lampung.
Segubal adalah kuliner tradisional yang dibuat dari beras ketan pilihan, dimasak bersama santan dan sedikit garam, kemudian dibungkus rapat menggunakan daun pisang sebelum kembali dikukus hingga matang sempurna. Hasilnya adalah makanan bertekstur padat, lembut, gurih, dan harum oleh aroma daun pisang yang meresap ke setiap butir ketan.
Bagi masyarakat Lampung, segubal bukan sekadar pengganti nasi. Ia adalah simbol kebersamaan.
Pada Hari Raya Idulfitri, Iduladha, pesta pernikahan, syukuran panen, hingga kenduri adat, segubal hampir selalu hadir di atas meja hidangan. Gulungan-gulungan ketan itu dipotong melintang, lalu disusun berdampingan dengan rendang, gulai ayam kampung, gulai kambing, pindang ikan, atau serundeng kelapa. Kombinasi rasa gurih santan dan lauk berbumbu kaya menciptakan harmoni yang sulit dilupakan.
Proses pembuatannya membutuhkan kesabaran. Beras ketan terlebih dahulu direndam agar mengembang sempurna. Setelah dikukus setengah matang, ketan disiram santan hangat yang telah dibumbui garam, kemudian dikukus kembali hingga santan meresap ke seluruh bagian. Sesudah itu, ketan dibungkus rapat menggunakan daun pisang, lalu kembali dikukus agar aroma daun menyatu dengan isi di dalamnya.
Tak ada proses yang tergesa-gesa. Setiap tahap mengajarkan bahwa makanan terbaik lahir dari ketelatenan.
Di masa lalu, segubal juga dikenal sebagai bekal perjalanan. Teksturnya yang padat membuatnya lebih tahan lama dibandingkan nasi biasa. Para petani, pedagang, hingga pelancong membawa gulungan segubal dalam tas anyaman. Saat lapar datang, mereka cukup memotong sepotong kecil, lalu menikmatinya bersama ikan asin atau sambal. Sederhana, tetapi mampu mengembalikan tenaga untuk melanjutkan perjalanan.
Kini, fungsi itu memang telah berubah. Namun nilai yang dikandungnya tetap sama: kesederhanaan yang mengenyangkan, sekaligus menghangatkan hubungan antarmanusia.
Sayangnya, segubal perlahan mulai jarang ditemui. Generasi muda lebih akrab dengan roti, burger, atau makanan instan daripada kuliner warisan nenek moyang. Tidak sedikit yang bahkan baru mendengar nama segubal ketika pulang kampung saat hari raya.
Padahal, setiap gulungan segubal menyimpan cerita. Tentang keluarga yang berkumpul di dapur menjelang Lebaran. Tentang tangan-tangan ibu yang cekatan membungkus ketan dengan daun pisang. Tentang anak-anak yang tak sabar menunggu gulungan pertama dibuka karena aroma gurihnya memenuhi seluruh rumah.
Segubal mengajarkan bahwa makanan tradisional tidak hanya mengisi perut. Ia juga mengisi ruang-ruang kenangan.
Di berbagai festival kuliner dan pameran budaya Lampung, segubal mulai kembali diperkenalkan kepada masyarakat luas. Para pelaku UMKM menghadirkannya dengan kemasan yang lebih praktis tanpa menghilangkan cita rasa aslinya. Upaya itu menjadi harapan agar kuliner ini tidak sekadar dikenang sebagai hidangan masa lalu, melainkan tetap hidup di meja makan generasi mendatang.
Barangkali, di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, segubal mengingatkan kita pada sesuatu yang perlahan mulai hilang: kesabaran, kebersamaan, dan penghormatan terhadap tradisi.
Karena sesungguhnya, setiap potong segubal bukan hanya menyajikan gurihnya santan dan pulennya ketan. Ia menyuguhkan sepotong sejarah, seiris budaya, dan sehangat pelukan rumah yang selalu dirindukan.(*)
Editor: Muhammad Furqon
E-Mail: harianmomentum@gmail.com