Pantai Lamaru: Menepi Sejenak di Bawah Cemara Balikpapan

Tanggal 06 Agu 2026 - Laporan Majid Lintang - 181 Views
Pantai Lamaru. Ist.

Oleh: Majid Lintang 

PERJALANAN menuju Pantai Lamaru dimulai dari pusat Kota Balikpapan dengan lalu lintas yang perlahan menipis ke arah timur. 

Gedung-gedung kota berganti dengan rumah-rumah penduduk, lalu ruang hijau yang sesekali terpotong jalan besar. Setelah sekitar setengah jam perjalanan di Jalan Mulawarman menuju kawasan Teritip, suasana mulai berubah. Udara terasa lebih ringan, dan aroma laut samar-samar mulai muncul melalui celah jendela kendaraan.

Nama Pantai Lamaru sudah lama dikenal warga Balikpapan sebagai tujuan singkat untuk melepas penat. Tetapi kesan pertama yang muncul setiba di sana justru bukan laut.

Yang lebih dahulu menyambut adalah deretan cemara.

Pohon-pohon itu berdiri memanjang di sepanjang pesisir, membentuk koridor hijau yang menaungi sebagian besar kawasan pantai. Jarang ada pantai yang memberi kesan seperti memasuki taman teduh. Di Lamaru, pengunjung bisa berjalan tanpa langsung berhadapan dengan matahari yang memantul tajam dari pasir.

Langkah kaki kemudian membawa perjalanan menuju garis pantai. Hamparan pasir kecokelatan terbentang cukup lebar. Ombak datang pelan, memecah di tepian lalu kembali surut tanpa banyak suara. Anak-anak berlarian mengejar air, sementara sejumlah keluarga telah lebih dulu menggelar tikar di bawah pohon.

Di bawah naungan cemara, waktu seolah bergerak sedikit lebih lambat.

Di beberapa sudut, asap tipis dari makanan yang dijajakan penjual naik ke udara. Ada aroma jagung bakar, mi instan, dan makanan ringan yang akrab dengan suasana wisata pantai Indonesia. Pengunjung lalu-lalang membawa kelapa muda atau kantong makanan. Sebagian memilih duduk, sebagian lain berjalan ke tepian air sambil memegang telepon genggam, mencari sudut terbaik untuk menyimpan sore dalam foto.

Saya melanjutkan langkah menyusuri garis pantai. Sesekali terdengar suara mesin ATV melintas, memecah tenang. Di kejauhan tampak beberapa orang mencoba wahana permainan, sementara yang lain hanya duduk memandang laut tanpa banyak bicara.

Mungkin itu yang membuat Lamaru berbeda.

Banyak pantai menawarkan pemandangan laut yang lebih dramatis: ombak besar, karang, atau bentang alam yang memaksa orang mengeluarkan kamera. Lamaru tidak tampak berusaha melakukan itu. Pantai ini seperti menerima pengunjung apa adanya.

Datanglah dengan rombongan keluarga, tempat ini menyediakan ruang untuk anak-anak bermain. Datanglah bersama teman-teman, ada area untuk duduk berjam-jam sambil mengobrol. Datang sendirian pun tidak terasa janggal.

Menjelang sore, suasana berubah lagi.

Matahari mulai turun perlahan dan cahaya keemasan menyusup di antara batang-batang cemara. Bayangan pohon memanjang di atas pasir. Angin yang sebelumnya hangat mulai terasa lebih sejuk. Beberapa pengunjung mulai membereskan tikar. Anak-anak yang sejak tadi bermain air dipanggil kembali oleh orang tua mereka.

Di saat seperti itu, Pantai Lamaru terasa seperti tempat persinggahan kecil di tepi Balikpapan: bukan tempat yang memaksa orang terpukau, melainkan tempat yang membuat orang ingin tinggal sedikit lebih lama.

Kadang-kadang perjalanan memang tidak selalu soal menemukan tempat paling megah. Kadang yang dicari hanya tempat yang memberi alasan untuk berhenti sebentar.

Dan di bawah rindang cemara Lamaru, alasan itu terasa cukup.(*)

Editor: Muhammad Furqon


Comment

Berita Terkait


Pantai Lamaru: Menepi Sejenak di Bawah Cemara ...

Oleh: Majid Lintang PERJALANAN menuju Pantai Lamaru dimulai dari ...


Ketika Naoto Fukasawa Menemukan ''Surga'' di ...

MOMENTUM, Panaragan -- Desainer produk kelas dunia asal Jepang, N ...


Pantai Musiman Muncul di Aliran Way Kanan, B ...

MOMENTUM, Negarabatin--Penurunan debit aliran  Way (sungai) ...


Pulang dengan Mata yang Berbeda ...

Bag 4 (Tamat)Oleh: Majid Lintang PAGI terakhir di Pulau Paha ...


E-Mail: harianmomentum@gmail.com