Desa Bagelen Pesawaran, Jejak Kolonisasi Jawa ke Lampung Sejak 1905

Tanggal 20 Agu 2026 - Laporan Rifat Arif. - 80 Views
Mbah Kartoredjo (Kepala Desa Bagelen, Lampung 1907-1072) dan kawan-kawan. Foto: Repro.

MOMENTUM, Gedongtataan — Desa Bagelen, Kecamatan Gedongtataan, Kabupaten Pesawaran, menyimpan jejak panjang kolonisasi penduduk dari Pulau Jawa ke Lampung sejak 1905.

Program perpindahan penduduk tersebut merupakan bagian dari kebijakan pemerintah kolonial Belanda pada masa politik etis. Para pendatang dari wilayah Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah, ditempatkan di wilayah yang kini menjadi Desa Bagelen.

Sekretaris Desa Bagelen Lesmono mengatakan, gelombang pertama kedatangan berlangsung pada 1905. Saat itu, 43 orang yang terdiri atas 40 laki-laki dan tiga perempuan didatangkan dari Purworejo. Rombongan tersebut dipimpin seorang pejabat bernama Tuan Eteeng.

“Kalau berdasarkan sejarah yang ada, nenek moyang kami berasal dari Pulau Jawa, kemudian dari Purworejo, Jawa Tengah,” kata Lesmono, Rabu (20/8/2026).

Kedatangan berikutnya berlangsung secara bertahap. Pada 1906, sebanyak 203 orang atau sekitar 100 kepala keluarga datang di bawah pimpinan Tuan Heers. Setahun kemudian, sekitar 100 orang dari 50 kepala keluarga kembali didatangkan dengan pimpinan Tuan Alweek.

Pada 1908, gelombang berikutnya mencapai sekitar 500 orang dan dipimpin Tuan Ba’ang. Sementara catatan kedatangan pada 1909 hingga 1910 belum terdokumentasi secara lengkap dalam arsip desa.

Para pendatang menghadapi perjalanan panjang menuju lokasi permukiman. Setelah tiba di kawasan Teluk Betung, mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Gedongtataan yang saat itu masih berupa kawasan hutan. Perjalanan disebut memakan waktu sekitar tiga hari tiga malam.

“Dari Telukbetung berjalan kaki sampai ke Bagelen. Kalau dulu belum Bagelen, masih wilayah Gedongtataan. Itu sekitar tiga hari perjalanan,” ujarnya.

Sesampainya di lokasi, para pendatang membuka hutan untuk membangun permukiman dan lahan pertanian.

“Benar-benar babat alas,” kata Lesmono.

Baca Juga: Rumah Roberto, Saksi Bisu Jejak Seabad Bagelen

Menurutnya, lokasi permukiman telah ditentukan pemerintah kolonial karena dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan pertanian.

Salah satu benda yang dikaitkan dengan pembukaan hutan tersebut adalah dua bola besi berukuran besar yang digunakan untuk merobohkan pohon. Bola besi tersebut ditarik menggunakan bulldozer dan rantai.

Satu bola besi kini disebut berada di Museum Transmigrasi Lampung, sedangkan satu lainnya berada di Taman Mini Indonesia Indah.

“Bola besi itu digunakan untuk merobohkan pohon-pohon besar. Ditarik menggunakan bulldozer dengan rantai besar,” jelas Lesmono.

Pertanian Menjadi Penopang Kehidupan

Setelah pembukaan lahan, masyarakat mulai mengembangkan pertanian, terutama persawahan. Salah satu areal yang disebut berkaitan dengan masa awal pembukaan lahan masih berada di Dusun II Desa Bagelen.

Lesmono mengatakan, hasil pertanian pada masa awal masih rendah karena lahan baru beralih dari hutan menjadi persawahan.

“Pertama kali yang dibuka itu persawahan. Hasilnya sekitar 90 sampai 100 kilogram per hektare,” ujarnya.

Pada 1910, pemerintah kolonial Belanda menyerahkan lahan Desa Bagelen kepada masyarakat dengan luas 537 bau atau sekitar 424,6 hektare.

Setiap kepala keluarga mendapat satu bau tanah. Lahan tersebut dibagi untuk pekarangan, persawahan, dan peladangan.

Seiring bertambahnya penduduk, permukiman mulai memiliki struktur pemerintahan lokal. Sistem pemilihan kepala desa seperti sekarang belum diterapkan. Pemimpin kampung ditunjuk.

Catatan Desa Bagelen mencatat sejumlah kepala desa pada masa awal, yakni Karto Redjo (1905–1907), Sastro Sentiko (1907–1912), Pawiro Tinoyo (1912–1920), dan Mangun Harjo (1920–1945).


Kesenian Jawa Jadi Warisan Generasi

Jejak perpindahan penduduk dari Jawa juga terlihat dari kesenian yang berkembang di masyarakat. Sejumlah kesenian yang masih dikenal antara lain Kuda Kepang, Mangsang Bodoh, Kicang Kecangan, Angguk, dan Marhaban.

“Kesenian itu ada Kuda Kepang, Mangsang Bodoh, Kicang Kecangan. Kita juga punya Angguk dan Marhaban,” kata Lesmono.

Ia mengatakan kesenian Angguk memiliki nuansa Islam dan diyakini turut berkembang bersama masyarakat pendatang dari Jawa.

Kesenian tradisional tersebut masih ditampilkan dalam berbagai kegiatan masyarakat. Sejumlah peralatan tradisional, seperti lesung, juga masih disimpan dan digunakan dalam kegiatan tertentu.

Namun, Lesmono mengatakan belum seluruh benda tradisional yang masih ada dapat dipastikan berasal dari masa awal kolonisasi.

“Yang betul-betul asli dari 1905 masih butuh didata kembali,” ujarnya.

Karena itu, pendataan dan penelusuran arsip dinilai penting untuk memastikan usia serta sejarah benda-benda peninggalan yang masih berada di masyarakat.

Lebih dari satu abad setelah gelombang pertama kolonisasi, sejarah tersebut masih menjadi bagian dari identitas masyarakat Bagelen. Perpindahan penduduk pada 1905 tidak hanya membentuk permukiman, tetapi juga kehidupan pertanian, sosial, dan budaya yang berkembang hingga kini.

Kepala Desa Bagelen Merdi Parmanto mengatakan sejarah tersebut merupakan warisan penting yang perlu dijaga dan didokumentasikan.

“Kita patut bersyukur Desa Bagelen memiliki sejarah yang sangat panjang. Ini menjadi identitas dan kebanggaan masyarakat karena sejarah seperti ini tidak dimiliki semua daerah,” kata Merdi.

Menurutnya, sejarah Bagelen tidak cukup hanya diceritakan dari generasi ke generasi. Arsip, dokumen, benda peninggalan, dan cerita masyarakat perlu dihimpun agar sejarah desa dapat ditelusuri secara lebih utuh.

“Jangan sampai generasi berikutnya hanya mengetahui Bagelen sebagai sebuah desa, tetapi tidak mengetahui bagaimana awal mula desa ini terbentuk,” ujarnya.

Merdi juga menyebut sejarah kolonisasi Bagelen memiliki keterkaitan dengan perpindahan penduduk Jawa ke Suriname di Amerika Selatan.

Ia berharap pemerintah dan masyarakat dapat terus menggali sejarah tersebut, termasuk memastikan hubungan dan konteks perpindahan penduduk Jawa ke berbagai wilayah pada masa kolonial.

“Bagelen memiliki sejarah yang luar biasa. Kita harus bersyukur dan bangga karena memiliki warisan sejarah yang panjang,” katanya.(*)

Editor: Muhammad Furqon


Comment

Berita Terkait


Desa Bagelen Pesawaran, Jejak Kolonisasi Jawa ...

MOMENTUM, Gedongtataan — Desa Bagelen, Kecamatan Gedongtataan, ...


Ribuan KPM di Pesawaran Terindikasi Judol, Ba ...

MOMENTUM, Gedongtataan--Dinas Sosial Kabupaten Pesawaran memverif ...


Dinsos Lampung Utara Usulkan Bantuan Rumah un ...

MOMENTUMM, Abung Timur - Pemerintah Kabupaten Lampung Utara melal ...


TP-PKK Tanggamus Evaluasi Pokbinwil 2026, Per ...

MOMENTUM, Tanggamus - Tim Penggerak PKK Kabupaten Tanggamus mengg ...


E-Mail: harianmomentum@gmail.com