Festival Literasi Pekalongan: Jago Main HP Belum Tentu Melek Digital

Tanggal 26 Agu 2026 - Laporan Harian Momentum/Rilis. - 103 Views
Ketua Umum FTBM Kabupaten Pekalongan, Yoga Rifai Hamzah dalam Festival Literasi Kabupaten Pekalongan di Gedung Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Rabu (26/8/2026). Foto: Ist.

MOMENTUM, Pekalongan--Banyak orang merasa sudah melek digital hanya karena aktif di media sosial atau piawai menggunakan smartphone keluaran terbaru. Padahal, kemampuan mengoperasikan teknologi belum tentu berbanding lurus dengan kecakapan memahami dunia digital.

Hal itu mengemuka dalam Festival Literasi Kabupaten Pekalongan yang digelar di Gedung Perpustakaan dan Arsip Daerah (Dinarpus) Kabupaten Pekalongan, Rabu (26/8/2026).

Hadir sebagai pembicara, Digital Strategist sekaligus Ketua Umum FTBM Kabupaten Pekalongan, Yoga Rifai Hamzah, mengkritisi kebiasaan warganet yang kerap merasa sudah memahami dunia digital hanya karena akrab dengan teknologi.

“Bisa menggunakan teknologi belum tentu berarti melek digital. Saat ini kita tidak cuma memakai internet, tapi kita hidup di dalam algoritma yang diam-diam mempelajari like, click, sampai durasi scrolling kita,” ujar Yoga di hadapan peserta festival.

Festival Literasi Kabupaten Pekalongan yang digelar di Gedung Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah Rabu (26/8/2026).

‘Disedot’ Algoritma, Terjebak Konten Bikin Emosi

Yoga membongkar cara kerja linimasa media sosial yang kerap membuat pengguna betah berlama-lama. Menurutnya, algoritma dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna.

Celakanya, konten yang paling mudah menyedot perhatian justru sering kali berupa materi yang memicu emosi, mulai dari amarah, ketakutan hingga sensasi berlebihan.

“Algoritma akan terus membaca perilaku kita. Apa yang kita sukai, klik, bahkan berapa lama kita melihat sebuah konten, semuanya bisa menjadi bahan untuk menentukan konten berikutnya,” jelasnya.

Tak hanya soal media sosial, Yoga juga menyoroti penggunaan kecerdasan buatan atau AI seperti ChatGPT di kalangan pelajar dan mahasiswa yang dinilainya masih sering keliru.

“Banyak yang cuma copy-paste jawaban AI buat tugas sekolah tanpa dipikir lagi. Padahal AI itu bukan mesin pembuat jawaban mutlak, melainkan sparring partner buat nguji cara berpikir kita,” katanya.

Menurut Yoga, di tengah perkembangan AI, kemampuan berpikir kritis justru semakin penting. Pengguna tidak cukup menerima jawaban yang diberikan mesin, tetapi harus mampu mengajukan pertanyaan yang tepat sekaligus memeriksa kebenaran informasi.

“Di era sekarang, jawaban itu murah. Yang mahal adalah kemampuan kita buat nanya hal yang tepat dan periksa kebenarannya,” tambahnya.

Respons Dinarpus Pekalongan: Melek Digital Itu Bikin Kita Pegang Kendali

Menanggapi kritik tersebut, Plt. Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Pekalongan, Indria Madyawati, SE, MM, memberikan apresiasi.

Ia sepakat bahwa pemahaman masyarakat mengenai literasi perlu terus diperluas. Menurutnya, tantangan masyarakat saat ini bukan lagi sekadar mencari informasi, melainkan memilah informasi yang datang tanpa henti.

“Zaman sekarang tantangannya bukan lagi nyari informasi, tapi menyaring banjir informasi yang masuk ke HP kita tiap detik. Apa yang disampaikan Mas Yoga itu ‘daging’ banget dan sangat relate sama kehidupan kita sehari-hari,” kata Indria.

Ia menegaskan, melek digital tidak ditentukan oleh seberapa canggih perangkat yang digunakan, tetapi oleh kemampuan seseorang mengendalikan pikiran dan perilakunya saat berhadapan dengan informasi digital.

“Me­lek digital itu bukan soal seberapa canggih HP yang kita punya, tapi seberapa pintar kita memegang kendali atas pikiran dan jempol kita sendiri,” ujarnya.

Indria mengatakan Dinarpus Pekalongan ingin menjadikan perpustakaan sebagai ruang yang menarik bagi generasi muda untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, termasuk menghadapi hoaks dan kebiasaan membagikan informasi tanpa verifikasi.

“Kami di Dinarpus Pekalongan ingin perpustakaan jadi tempat seru buat ngelatih anak-anak muda biar makin kritis, nggak gampang kemakan hoaks, dan nggak asal share konten sembarangan,” katanya.

Sebagai penutup, Yoga mengingatkan peserta bahwa ukuran melek digital bukan sekadar mampu menggunakan perangkat atau mengikuti tren teknologi. Indikator yang lebih penting adalah kemampuan seseorang tetap memegang kendali atas pikiran, pilihan, dan tindakannya di tengah pengaruh algoritma.

“Teknologi itu alat yang luar biasa, tapi majikan yang sangat buruk. Gunakan AI dan medsos, tapi jangan serahkan cara berpikirmu ke mesin,” pesan Yoga.(*)

Editor: Muhammad Furqon


Comment

Berita Terkait


Festival Literasi Pekalongan: Jago Main HP Be ...

MOMENTUM, Pekalongan--Banyak orang merasa sudah melek digital han ...


Bupati Tubaba Dorong Batik Jadi Identitas Dae ...

MOMENTUM, Panaragan--Pemerintah Kabupaten Tulangbawang Barat, med ...


Firmansyah Dilantik Jadi Ketua Aptisi Lampung ...

MOMENTUM, Bandarlampung--Firmansyah Alfian dilantik sebagai Ketua ...


Rakernas APTISI, Pemprov Lampung Dorong Kolab ...

MOMENTUM, Lampung--Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Marindo Ku ...


E-Mail: harianmomentum@gmail.com