MOMENTUM, Bandarlampung — Paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai berdampak terhadap kesehatan warga di sejumlah wilayah Lampung. Di Kabupaten Tanggamus, jumlah kunjungan masyarakat ke fasilitas kesehatan melonjak dalam dua hari terakhir, dengan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi keluhan dominan.
Data sementara Dinas Kesehatan Provinsi Lampung mencatat 52 kunjungan ke fasilitas kesehatan di Tanggamus pada 5 September 2026. Dari jumlah tersebut, 46 merupakan kasus ISPA.
Sehari kemudian, jumlah kunjungan meningkat tajam menjadi 158 orang. Dari jumlah tersebut, tercatat 76 kasus ISPA.
Pemerintah Provinsi Lampung masih melakukan inventarisasi data dampak kesehatan akibat paparan abu vulkanik di wilayah lainnya.
Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah, mengingat abu vulkanik mengandung partikel berukuran kecil yang berpotensi mengganggu saluran pernapasan.
Hasil pemeriksaan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) menunjukkan terdapat partikel abu berukuran sekitar 5 hingga 10 mikrometer dengan permukaan tidak beraturan dan cenderung tajam.
"Yang pertama tetap tenang dan jangan panik, tetapi jangan pula kita menurunkan kewaspadaan," kata Jihan dalam konferensi pers di Ruang Pusdalops BPBD Provinsi Lampung, Senin (7/9/2026).
Menurut Jihan, kondisi tersebut membuat masyarakat di wilayah terdampak perlu membatasi aktivitas di luar rumah. Jika harus keluar rumah, warga diminta menggunakan masker, pakaian lengan panjang, dan pelindung mata.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan juga diminta mendapat perhatian lebih selama paparan abu masih berlangsung.
Masyarakat diminta menutup pintu dan jendela rumah ketika abu vulkanik masih beterbangan. Warga juga diimbau tidak menyapu abu dalam kondisi kering karena dapat membuat partikel kembali beterbangan dan terhirup.
Dinas Kesehatan Provinsi Lampung telah meminta seluruh dinas kesehatan kabupaten/kota meningkatkan kewaspadaan. Puskesmas dan rumah sakit juga disiapkan untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan pelayanan kesehatan.
Sebanyak 15 kabupaten/kota telah dibagi ke dalam lima regional sistem rujukan rumah sakit. Dinas Kesehatan juga mengajukan 37 item obat dan bahan medis habis pakai kepada Kementerian Kesehatan untuk mengantisipasi kebutuhan selama kondisi darurat.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Djohan Lius mengatakan masyarakat tidak perlu panik membeli masker karena persediaan di Dinas Kesehatan Provinsi Lampung masih memadai.
Distribusi masker akan diprioritaskan ke daerah terdampak dan institusi yang membutuhkan.
Sementara itu, pemerintah daerah juga diminta membantu mengurangi paparan abu di ruang publik. Penyiraman dapat dilakukan pada kawasan dengan tingkat pelayanan dan mobilitas masyarakat yang tinggi, termasuk dengan memanfaatkan armada pemadam kebakaran.
Pemprov Lampung menegaskan pemantauan terhadap dampak kesehatan akan terus dilakukan seiring perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Masyarakat diminta segera memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami keluhan setelah terpapar abu vulkanik, sekaligus mengikuti perkembangan informasi resmi pemerintah.(*)
Editor: Muhammad Furqon
E-Mail: harianmomentum@gmail.com