Yang Tak Terlihat di Balik Sepasang Sepatu Kulit

Tanggal 13 Sep 2026 - Laporan Harian Momentum. - 112 Views
Bulan Shilviana Putri Nugroho. Foto: Dok.

Oleh: Bulan Shilviana Putri Nugroho - Mahasiswa Prodi Pendidikan Kimia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

DULU, ketika melihat sepasang sepatu kulit, perhatian saya mungkin hanya tertuju pada model, warna, dan bagaimana sepatu itu terlihat ketika dikenakan. Saya tidak pernah benar-benar bertanya: apa yang terjadi sebelum kulit tersebut berubah menjadi sepatu yang tersusun rapi di etalase toko?

Pertanyaan itu mulai muncul ketika saya mendapat kesempatan magang di Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kulit, Karet, dan Plastik (BBSPJIKKP), khususnya di lingkungan laboratorium. Di sana, saya belajar melihat sebuah produk dari sisi yang berbeda. Bukan hanya dari apa yang tampak, tetapi dari bagaimana kualitasnya diuji dan dibuktikan.

Sebagai mahasiswa Pendidikan Kimia, laboratorium bukan tempat yang asing. Namun, berada di laboratorium pengujian industri memberi pengalaman yang berbeda dari praktikum di kampus. Di bangku kuliah, saya terbiasa mempelajari reaksi, membuat larutan, melakukan perhitungan, dan mengikuti prosedur praktikum. Di laboratorium pengujian industri, saya mulai memahami bahwa setiap langkah memiliki konsekuensi yang lebih nyata.

Kesalahan dalam menimbang sampel, mengambil larutan, membaca instrumen, atau mencatat data bukan sekadar kesalahan teknis. Hal itu dapat memengaruhi hasil analisis. Karena itu, ketelitian bukan hanya sikap yang baik, tetapi bagian penting dari quality control atau pengendalian mutu.

Pengendalian mutu bukan sekadar menentukan apakah sebuah produk “bagus” atau “tidak bagus”. Di dalamnya terdapat proses untuk memastikan bahan dan produk memenuhi persyaratan standar yang telah ditentukan. Konsumen mungkin hanya merasakan hasil akhirnya: sepatu yang nyaman, tas yang awet, atau produk kulit yang memiliki kualitas baik. Namun, sebelum sampai ke tangan mereka, ada rangkaian proses yang tidak terlihat.

Ada bahan yang harus diperiksa, parameter yang perlu diuji, larutan yang harus dibuat dengan konsentrasi tepat, instrumen yang digunakan sesuai prosedur, serta data yang harus dicatat dan diolah secara cermat.

Dari pengalaman itu, saya semakin memahami bahwa kualitas tidak selalu dapat dinilai dengan mata. Sebuah produk bisa terlihat sempurna secara fisik, tetapi kualitasnya tidak berhenti pada penampilan. Ada karakteristik bahan yang perlu diuji untuk memastikan produk memenuhi persyaratan yang berlaku. Di sinilah laboratorium menjalankan peran penting yang sering kali luput dari perhatian masyarakat.

Pengalaman tersebut juga membuat saya melihat ilmu kimia dengan cara berbeda.

Selama ini, kimia sering kali identik dengan rumus, reaksi, perhitungan mol, dan istilah-istilah yang terasa rumit. Tidak jarang semua itu terasa seperti materi yang harus dikuasai demi menyelesaikan ujian. Namun, ketika melihat penerapannya secara langsung, saya menyadari bahwa konsep-konsep tersebut sebenarnya bekerja sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Perhitungan konsentrasi, misalnya, bukan sekadar latihan di atas kertas. Ketepatan membuat larutan dapat memengaruhi keseluruhan proses analisis. Begitu pula dengan angka yang muncul dari instrumen. Angka tersebut bukan sekadar hasil pengukuran, melainkan data yang harus dipahami dan diolah untuk memberikan informasi mengenai suatu bahan.

Saya kemudian belajar bahwa pekerjaan di laboratorium bukan hanya soal mampu menggunakan alat. Ada tanggung jawab terhadap data yang dihasilkan. Setiap angka harus diperoleh melalui proses yang benar karena hasil pengujian dapat menjadi dasar dalam menilai kualitas sebuah bahan atau produk.

Pada titik itu, saya menemukan satu hal penting: ketelitian pada akhirnya berkaitan dengan kepercayaan.

Magang di BBSPJIKKP juga memperlihatkan kepada saya hubungan antara pendidikan dan dunia industri secara lebih nyata. Selama berada di kampus, saya sering mempelajari berbagai konsep kimia sambil bertanya-tanya bagaimana pengetahuan tersebut akan digunakan setelah saya lulus. Magang memberi sebagian jawabannya.

Ilmu ternyata tidak berhenti ketika praktikum selesai dan laporan dikumpulkan. Pengetahuan justru menemukan maknanya ketika digunakan untuk memahami dan menyelesaikan persoalan nyata.

Lebih dari itu, pengalaman di laboratorium mengubah cara saya memandang produk yang digunakan sehari-hari. Kita hidup dalam lingkungan yang sangat visual. Produk sering dinilai dari desain, warna, bentuk, dan tampilannya. Foto dan iklan membuat kita melihat apa yang ingin ditampilkan sebuah produk.

Namun, ada bagian yang tidak masuk ke dalam foto maupun iklan: proses panjang untuk memastikan kualitasnya.

Kita mungkin tidak pernah melihat bagaimana sampel ditimbang, larutan dibuat, instrumen digunakan, pengujian dilakukan, atau data dianalisis. Semua berlangsung jauh dari pandangan konsumen. Tetapi justru proses yang tidak terlihat itulah yang ikut menentukan apakah sebuah produk layak memenuhi standar yang ditetapkan.

Bagi saya, inilah salah satu pelajaran paling berharga selama magang. Sesuatu yang tidak terlihat bukan berarti tidak penting.

Sepasang sepatu kulit yang tampak sederhana ternyata memiliki perjalanan panjang sebelum sampai ke kaki penggunanya. Ada bahan baku, proses pengolahan, pengujian, pengendalian mutu, dan berbagai tahapan lain yang saling berkaitan. Di dalam perjalanan tersebut, ilmu kimia ikut bekerja dalam diam.

Kini, ketika melihat sepasang sepatu kulit di etalase, saya tidak lagi hanya melihat model atau warnanya. Saya membayangkan proses panjang yang berada di baliknya: standar yang harus dipenuhi, data yang harus dapat dipercaya, dan ketelitian orang-orang yang bekerja untuk memastikan kualitasnya.

Sebab, pada akhirnya, kualitas bukan sekadar sesuatu yang terlihat baik.

Kualitas adalah sesuatu yang dapat dibuktikan baik.(*)

Editor: Muhammad Furqon


Comment

Berita Terkait


Yang Tak Terlihat di Balik Sepasang Sepatu Ku ...

Oleh: Bulan Shilviana Putri Nugroho - Mahasiswa Prodi Pendidikan ...


Nature, But Make It Skincare: Eksplorasi Etno ...

Oleh: Salma Nurarifa Syahrani - Mahasiswa Pendidikan Kimia - Faku ...


BPJT Bukan Kasir Kenaikan Tarif! Dosen Kampus ...

MOMENTUM, Jakarta--Kebijakan penyesuaian tarif jalan tol berkala ...


Pengetahuan Ekologis Suku Mentawai dan Tantan ...

Oleh: Muhammad Harkim Novridho - Center for Religious and Cr ...


E-Mail: harianmomentum@gmail.com