Keris Kembar Bagelen, Jejak Transmirgran yang Dikaitkan dengan Keturunan Prajurit Diponegoro

Tanggal 20 Sep 2026 - Laporan Rifat Arief - 176 Views
Lesmono Sekretaris Desa Bagelen dengan kris kembar warisan keluarga

MOMENTUM, Gedongtataan--Jejak awal transmigrasi di Desa Bagelen, Kecamatan Gedongtataan, Kabupaten Pesawaran, tidak hanya tersimpan dalam catatan kolonial dan sejarah desa. Sebagian jejaknya masih hidup dalam ingatan keluarga, termasuk melalui dua keris yang disebut diwariskan dari generasi awal masyarakat Bagelen.

Dua keris tersebut kini disimpan Lesmono, warga  yang juga menjabat sebagai sekretaris desa. 

Dia menyebut benda pusaka itu merupakan warisan keluarga yang memiliki kaitan dengan Karto Redjo, salah satu kepala kampung pada masa awal perkembangan Bagelen.

Karto Redjo tercatat memimpin Desa Bagelen pada periode 1907-1912. Dari garis keluarga itulah, menurut Lesmono, dua keris tersebut diwariskan hingga kepadanya.

Kedua keris itu memiliki bobot sekitar 1,5 kilogram dan diperkirakan berusia lebih dari dua abad. Namun, usia tersebut merupakan perkiraan berdasarkan cerita keluarga, bukan hasil penelitian atau penanggalan benda pusaka. “Karena saya keturunan abdi dalem, keris itu diwariskan kepada keluarga,” kata Lesmono  Lampung, Sabtu (19-9-2026).

Jejak Diponegoro

Cerita mengenai dua keris itu membawa Lesmono pada kisah yang lebih jauh: perjalanan leluhurnya dari Jawa ke Lampung pada masa awal kolonisasi.

Dalam penuturan yang diwariskan keluarganya, keris tersebut berkaitan dengan lingkungan Padepokan Pangeran Diponegoro. Lesmono menyebut leluhurnya merupakan bagian dari abdi dalem atau prajurit yang berada dalam lingkungan perjuangan Diponegoro.

Dari cerita itu pula muncul keyakinan, sebagian orang yang kemudian menjadi bagian dari rombongan awal kolonisasi menuju Bagelen, memiliki latar belakang sebagai prajurit atau orang-orang yang pernah berada dalam lingkungan perjuangan Diponegoro.

“Kalau cerita dari keluarga, 43 orang itu bagian dari prajurit Diponegoro yang memang memiliki keris,” ujar Lesmono. Namun, dia tidak mengklaim cerita tersebut sebagai fakta sejarah yang telah terverifikasi. Lesmono menyebutnya sebagai penuturan yang terus diwariskan keluarganya dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Begitu pula dengan asal-usul keris. Lesmono belum dapat memastikan apakah kedua pusaka tersebut pernah digunakan dalam perang Diponegoro atau sekedar pusaka keluarga yang dibawa dalam perjalanan menuju Lampung.

Membuka Bagelen

Jejak yang lebih terang terdapat pada sejarah awal terbentuknya Desa Bagelen. Desa Bagelen didirikan pada 1905 sebagai salah satu lokasi awal program kolonisasi penduduk Jawa di Lampung. Penduduk yang didatangkan pemerintah kolonial berasal dari wilayah Bagelen Kedu, daerah yang kini masuk Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Nama Bagelen kemudian digunakan untuk menyebut permukiman baru tersebut, mengikuti daerah asal para penduduk yang didatangkan.Dalam catatan sejarah Desa Bagelen, rombongan pertama tiba pada 1905 dengan jumlah 43 orang, terdiri atas 40 laki-laki dan tiga perempuan. Rombongan tersebut dipimpin seorang bernama Tuan Eteeng.

Baca juga: Jejak Kolonisasi Jawa ke Lampung

Kedatangan 43 orang itu menjadi bagian awal dari proses pembukaan permukiman di wilayah yang saat itu masih didominasi kawasan hutan. Setelah rombongan pertama tiba, kedatangan penduduk dari Jawa berlanjut. Pada 1906 tercatat 203 orang datang, disusul 100 orang pada 1907 dan 500 orang pada 1908.

Sedangkan data mengenai jumlah penduduk yang didatangkan pada 1909 hingga 1910 belum tercatat secara lengkap dalam sejarah singkat Desa Bagelen.

Para pendatang kemudian membuka lahan, membangun permukiman, dan mengembangkan pertanian. Dari proses itulah Bagelen berkembang menjadi sebuah komunitas baru di Lampung.

Sejarah Tersimpan di Rumah Warga

Bagi Lesmono, kisah dua keris tersebut menjadi pintu untuk melihat sejarah Desa Bagelen dari sisi yang berbeda. Jika dokumen mencatat tahun kedatangan, jumlah penduduk, dan proses pembentukan permukiman, maka benda-benda pusaka menyimpan cerita tentang apa yang dibawa para pendatang dalam perjalanan mereka. Meski demikian, hubungan antara keris tersebut dengan rombongan 43 orang maupun lingkungan perjuangan Diponegoro masih membutuhkan penelusuran lebih lanjut.

Keterangan keluarga, menurut Lesmono, perlu dibandingkan dengan dokumen sejarah, arsip kolonial, serta penelitian mengenai asal-usul para pendatang Bagelen, untuk memastikan sejauh mana cerita tersebut memiliki pijakan sejarah.

Perjalanan sejarah Desa Bagelen tidak berhenti pada angka 1905 dan catatan mengenai 43 orang yang pertama datang. Di balik angka tersebut terdapat perjalanan manusia dari Jawa ke Lampung, pembukaan hutan menjadi permukiman, perpindahan kebudayaan, serta benda-benda yang ikut dibawa dan kemudian diwariskan turun-temurun.

Dua keris yang kini berada di tangan Lesmono menjadi salah satu jejak yang masih tersisa.

Apakah keris tersebut benar-benar dibawa oleh orang yang terlibat dalam perjuangan Diponegoro, atau sekedar pusaka keluarga yang kemudian ikut berpindah ke Lampung, masih menjadi bagian dari teka-teki sejarah yang perlu ditelusuri.

Paling utama, cerita tentang kedua keris itu menunjukkan sebagian sejarah Desa Bagelen masih hidup, bukan hanya di dalam arsip, tetapi juga di rumah-rumah warga dan dalam ingatan keluarga yang diwariskan lintas generasi. (**)

Editor: Munizar


Comment

Berita Terkait


Keris Kembar Bagelen, Jejak Transmirgran yan ...

MOMENTUM, Gedongtataan--Jejak awal transmigrasi di Desa Bagelen, ...


JIVA MAYA Rilis Single Ketiga D.I.J, Kolabora ...

MOMENTUM, Bandar Lampung--JIVA MAYA merilis single ketiga berjudu ...


PHBI Masjid Al Yaqin Tanjungraya Gelar Maulid ...

MOMENTUM, Bandarlampung -- Pengurus Hari Besar Islam (PHBI) Masji ...


Dualisme Berakhir, Pengurus PWI Kepri di Bawa ...

MOMENTUM, Batam — Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) P ...


E-Mail: harianmomentum@gmail.com