MOMENTUM, Jakarta--Kualitas tidur sering hanya dinilai dari rasa segar saat bangun pagi. Padahal, saat terlelap, tubuh tetap bekerja menjalankan regenerasi sel, pemulihan organ, hingga penyeimbangan metabolisme.
"Secara fisiologis, saat kita tidur tubuh tetap menjalankan berbagai proses penting yang mendukung pemulihan. Karena itu, kualitas tidur menjadi bagian penting dari gaya hidup sehat," ujar dr. Gia Pratama, Medical Doctor & Author.
Untuk membantu masyarakat memantau kondisi tersebut secara objektif, Samsung menghadirkan inovasi pemantauan biometrik melalui Galaxy Watch Ultra2 pada 2026. Data fisiologis yang direkam melalui Samsung BioActive Sensor diterjemahkan Samsung Health menjadi insight visual yang mudah dipahami.
Fitur Vitals pada Galaxy Watch Ultra2 memantau lima indikator utama saat tidur dan membandingkannya dengan baseline personal pengguna, yaitu:
- Detak jantung (Heart Rate)
- HRV (Heart Rate Variability), yakni variasi irama jantung saat deep sleep
- Laju pernapasan, normal 16-20 kali per menit
- Suhu kulit
- Kadar oksigen darah (SpO2), normal di atas 95 persen
Untuk membentuk baseline yang akurat, fitur ini membutuhkan data tidur minimal tujuh malam berturut-turut.
Guna memudahkan analisis, Samsung Health dan One UI 9 Watch merangkum data tersebut menjadi tiga skor intuitif, yakni Heart Health Score, Sleep Score, dan Energy Score.
"Selama ini kita melihat kesehatan dari jumlah langkah atau olahraga di siang hari. Padahal, kondisi tubuh saat tidur juga memberikan konteks penting. Melalui Vitals dan Heart Health Score, Galaxy Watch Ultra2 membantu mengubah data menjadi insight kapan harus istirahat dan kapan siap beraktivitas," jelas Tipe Sultan, MX Product Marketing Manager Samsung Electronics Indonesia.
Aktor Maxime Bouttier yang tergabung dalam #TeamGalaxy membagikan pengalamannya setelah mencatat Heart Health Score 79, Sleep Score 67 dengan deep sleep satu jam, dan Energy Score 74.
"Saya memakai Galaxy Watch Ultra2 hampir sepanjang waktu, termasuk saat tidur. Dari Vitals saya bisa melihat pola tidur sendiri, bukan sekadar menebak dari perasaan. Dari situ saya menemukan yang perlu diperbaiki, yaitu konsistensinya," ujar Maxime.
Meski demikian, dr. Gia menegaskan skor tersebut bukan alat diagnosis medis.
"Angka yang kita lihat bukanlah diagnosis. Fungsinya membantu mengenali kecenderungan tubuh dari waktu ke waktu. Jika ada perubahan konsisten atau kekhawatiran, langkah tepat adalah konsultasi ke tenaga medis," tegasnya.
Untuk pemulihan maksimal, dr. Gia juga menganjurkan strategi sleep hygiene dengan metode 4-3-2-1 sebelum tidur.(*)
Editor: Muhammad Furqon
E-Mail: harianmomentum@gmail.com