Gubernur Minta Kebakaran Way Kambas Dipercepat, Mitigasi hingga Desa

Tanggal 19 Okt 2026 - Laporan Harian Momentum - 88 Views
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dan Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Lampung Aswarodi. Foto: Ist.

MOMENTUM, Bandarlampung--Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal meminta penanganan kebakaran hutan dan lahan di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, dipercepat. Selain memperkuat pemadaman, pemerintah daerah diminta meningkatkan mitigasi hingga desa untuk mencegah kebakaran berulang di tengah cuaca kering.

Permintaan tersebut disampaikan Gubernur Mirza dalam konferensi pers di Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Provinsi Lampung, Senin (19/10/2026). Ia menekankan pentingnya koordinasi antara pemerintah daerah, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat dalam menangani bencana.

"Penanganan bencana tidak akan bisa dilakukan oleh pemerintah sendiri. Semangat kolaborasi itu harus kita dorong, dengan koordinasi yang baik bersama TNI, Polri, relawan, serta masyarakat di desa, kabupaten, kota, dan kecamatan," kata Mirza.

Menurutnya, penanganan karhutla tidak boleh hanya berfokus pada pemadaman setelah api muncul. Pemerintah daerah perlu memetakan wilayah yang berulang kali terdeteksi memiliki titik panas (hotspot), sekaligus memperkuat sosialisasi untuk mencegah pembakaran sampah dan lahan selama cuaca kering.

Mirza meminta data titik panas dimanfaatkan sebagai dasar mitigasi. BPBD Provinsi Lampung diminta menyusun pola persebaran titik panas dan menyampaikan hasil pemetaan kepada pemerintah kabupaten/kota agar dapat ditindaklanjuti hingga tingkat desa.

Dengan langkah tersebut, pemerintah desa diharapkan mampu mengidentifikasi kebiasaan pembakaran yang berpotensi memicu kebakaran, meningkatkan pengawasan, dan melakukan pencegahan di wilayah masing-masing.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Lampung Aswarodi menjelaskan, pemantauan titik panas dilakukan melalui citra satelit, aplikasi Pusdalops, serta laporan masyarakat dan BPBD kabupaten/kota.

Data satelit diperbarui dua kali sehari, sekitar pukul 08.00 dan 20.00 WIB. Hasil pemantauan malam yang dirilis pagi hari rata-rata menunjukkan 30–60 titik panas, sedangkan pemantauan siang yang dirilis malam hari mencatat sekitar 80–100 titik.

Namun, Aswarodi mengingatkan bahwa titik panas tidak selalu menandakan kebakaran. Indikasi tersebut juga dapat berasal dari suhu panas atau aktivitas pembakaran terkendali sehingga perlu diverifikasi melalui pemantauan lapangan.

Pemadaman Way Kambas Berlangsung 24 Hari

Salah satu fokus utama penanganan karhutla berada di kawasan TNWK, Lampung Timur. Kebakaran di kawasan tersebut telah berlangsung selama 24 hari sejak 25 September 2026.

Berdasarkan laporan penanganan hingga 18 Oktober, pemadaman dari darat telah menjangkau sekitar 192 hektare. Sementara itu, operasi water bombing atau pengeboman air telah dilakukan sedikitnya 923 kali, dengan estimasi area yang terkena siraman mencapai sekitar 124 hektare.

Pemantauan menggunakan drone pada pukul 17.00 WIB sehari sebelumnya masih mengindikasikan sekitar 30 hektare area terbakar atau berasap. Area tersebut tersebar di titik B seluas sekitar tiga hektare, titik C sekitar 13 hektare, dan titik D sekitar 14 hektare.

Operasi pemadaman darat dilakukan oleh empat tim. Kegiatan meliputi pemantauan menggunakan drone, pemadaman di Rawa Gelam dan titik B, serta pembukaan jalur sekitar enam kilometer menuju titik D.

Petugas menghadapi sejumlah kendala, antara lain vegetasi yang rapat, keterbatasan peralatan dan logistik, serta jarak sumber air dari Sungai Way Pegadungan ke titik api yang mencapai sekitar 1,5 kilometer.

Untuk memperkuat penanganan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberikan dukungan peralatan pemadaman yang direncanakan didistribusikan kepada sekitar 350 personel satuan tugas darat. Pemerintah Provinsi Lampung juga berharap ada tambahan helikopter untuk mendukung pemadaman dari udara.

Sebelumnya, BPBD Lampung bersama BNPB dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaksanakan operasi modifikasi cuaca pada 11–13 Oktober. Operasi tersebut mencakup tiga sorti penerbangan selama total 6 jam 16 menit dengan penggunaan 3.000 kilogram natrium klorida (NaCl) sebagai bahan semai.

Operasi modifikasi cuaca dihentikan pada 18 Oktober karena tidak ditemukan awan potensial untuk penyemaian. Berdasarkan perkiraan BMKG yang disampaikan dalam konferensi pers, kondisi cuaca masih diperkirakan sangat kering dan panas sehingga kewaspadaan terhadap kebakaran perlu dipertahankan.

Kebakaran Juga Terjadi di Tol dan Tempat Pembuangan Sampah

Selain di TNWK, pemerintah menangani kebakaran di sekitar ruas gerbang tol Menggala, Kabupaten Tulang Bawang, serta tempat pembuangan sampah di sekitar kilometer 132B Tol Lampung Tengah, tepatnya di Bandar Jaya Timur, Kecamatan Terbanggi Besar.

Kebakaran di Menggala yang terjadi pada 16 Oktober telah terkendali pada malam hari. Petugas kemudian melanjutkan proses pendinginan untuk mencegah api kembali menyala.

Sementara itu, kebakaran di lokasi pembuangan sampah berdampak pada area sekitar 1,5 hektare. Tidak ada laporan korban jiwa maupun bangunan yang terdampak dalam kejadian tersebut.

Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mengoordinasikan dukungan personel dan armada pemadam dari sejumlah daerah untuk menangani kebakaran di Lampung Tengah.

Bantuan yang dikerahkan meliputi dua unit mobil pemadam kebakaran dari Bandarlampung serta masing-masing satu unit dari Metro, Lampung Selatan, dan Pesawaran. Penanganan juga didukung satu unit ekskavator untuk mengurai dan membolak-balik tumpukan sampah agar api yang masih membara di bagian dalam dapat dipadamkan secara menyeluruh.

Kualitas Udara dan Aktivitas Gunung Anak Krakatau Dipantau

Di sisi lain, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Lampung Riski Sofyan melaporkan bahwa hasil pengukuran kualitas udara di Bandarlampung dan sekitarnya masih berada di bawah ambang batas baku mutu udara berdasarkan tujuh parameter Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang diperiksa.

Berdasarkan pembaruan pukul 09.00 WIB pada 19 Oktober 2026, kualitas udara dinyatakan masih dapat diterima bagi kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan. Meski demikian, masyarakat tetap diimbau menjaga lingkungan dan menerapkan langkah perlindungan kesehatan, terutama bagi kelompok sensitif.

Pemerintah juga memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau. Aswarodi melaporkan, gunung tersebut mengalami empat erupsi berdurasi pendek pada 18 Oktober 2026.

Berdasarkan koordinasi dengan pos pengamatan dan relawan di Pulau Sebesi serta Pulau Tejang, abu vulkanik dilaporkan belum mencapai pulau-pulau terdekat, sementara kondisi gelombang masih normal. Pemerintah tetap memantau perkembangan aktivitas gunung dan mengimbau masyarakat mengikuti informasi serta rekomendasi resmi dari otoritas terkait.

Gubernur Mirza meminta seluruh unsur pemerintah, aparat, relawan, dan masyarakat tetap siaga hingga musim hujan tiba. Ia juga menekankan pentingnya penyampaian informasi kebencanaan secara berkala agar masyarakat memperoleh perkembangan yang akurat dan setiap kejadian dapat ditangani secepat mungkin dengan mengutamakan keselamatan jiwa.

Melalui percepatan pemadaman, pemetaan titik panas, patroli kawasan hutan, dan penguatan koordinasi lintas daerah, Pemerintah Provinsi Lampung berharap kebakaran dapat dikendalikan lebih cepat dan kejadian berulang dapat ditekan.

Editor: Muhammad Furqon


Comment

Berita Terkait


Kualitas Udara Lampung dan Aktivitas Gunung A ...

MOMENTUM, Bandarlampung--Pemerintah Provinsi Lampung memantau kua ...


Gubernur Minta Kebakaran Way Kambas Dipercepa ...

MOMENTUM, Bandarlampung--Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal ...


Wagub Jihan Lepas Kontingen THLC ke Korea Sel ...

MOMENTUM, Lampung--Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, secara ...


Tanggul Way Kambas Jadi Rekreasi Baru, Konstr ...

MOMENTUM, Brajaselebah--Tanggul pembatas kawasan hutan Taman Nasi ...


E-Mail: harianmomentum@gmail.com