KH Gholib, Ulama yang Gugur di Tangan Penjajah

Tanggal 03 Nov 2026 - Laporan Joko Sulistyo - 186 Views
KH Gholib (1899-1949), ulama sekaligus pejuang kemerdekaan asal Kabupaten Pringsewu. Foto: Ist.

MOMENTUM, Pringewu -- Dini hari itu, 6 November 1945, KH Gholib melangkah meninggalkan tempat penahanannya. Ia baru saja dibebaskan setelah 15 hari ditahan tentara Belanda. 

Namun, kebebasan itu tak pernah benar-benar sampai kepadanya. Beberapa langkah setelah meninggalkan penjara, peluru tentara Belanda dari belakang merenggut nyawanya. Ulama sekaligus pejuang asal Pringsewu itu gugur demi mempertahankan kemerdekaan.

KH Gholib bukan ulama yang hanya berjuang melalui dakwah dan pendidikan. Ketika penjajah menindas rakyat, ia turut mengangkat senjata. Perlawanan itu dilakukan sejak masa pendudukan Jepang hingga Belanda kembali berusaha menguasai Indonesia setelah kemerdekaan.

Pada masa pendudukan Jepang, Gholib tidak bisa menerima tindakan penjajah yang menindas, menyiksa, dan memeras rakyat. Ia menyiagakan pasukan untuk mengusir tentara Jepang dari tanah Pringsewu. Dengan persenjataan seadanya, seperti pedang, golok, keris, dan bambu runcing, pasukannya terus menggempur basis-basis pertahanan Jepang.

Sikap perlawanannya membuat militer Jepang berkali-kali menangkapnya. Jepang khawatir pengaruh Gholib sebagai ulama yang disegani dapat menggerakkan perlawanan lebih luas. Selain aktif bertempur, ia juga menolak ajakan Jepang untuk menyembah Dewa Matahari.

Baca Juga: KH Gholib Diusulkan Jadi Pahlawan Daerah Lampung

Perjuangan Gholib tidak berhenti setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Ketika Jepang menyerah kepada Sekutu dan Belanda kembali masuk ke wilayah Indonesia, ia kembali mengorganisasi kekuatan untuk mempertahankan kemerdekaan.

Ia membentuk pasukan Sabilillah dan Hizbullah dari kalangan anak didiknya. Para santri dilatih menjadi pejuang dan dipersiapkan bergabung dengan kekuatan pertahanan rakyat, termasuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Mereka juga mendapat pelatihan militer dari sejumlah prajurit yang menjadi rekan seperjuangan Gholib.

Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer II, lingkungan pendidikan milik Gholib menjadi salah satu tempat penempatan pasukan Tentara Republik Indonesia (TRI). Sejumlah tokoh militer pernah bermukim di sana, di antaranya Kapten Alamsyah Ratuprawiranegara, yang kelak pernah menjabat sebagai duta besar RI untuk Belanda serta menteri pada masa Orde Baru, dan Mayor Effendy.

Dalam perjuangan tersebut, KH Gholib dipercaya memimpin pasukan gerilya. Perlawanan bahkan meluas hingga Baturaja dan Martapura, Sumatera Selatan. Pada 8 Agustus 1947 hingga 20 Oktober 1948, pasukan Sabilillah dan Lasykar Hizbullah yang dipimpin Gholib bersama Kapten Alamsyah Ratuprawiranegara terlibat pertempuran sengit melawan Belanda. Banyak korban berjatuhan dari kedua belah pihak.

Perlawanan terus berlanjut. Pada 27 November 1949, setelah berlangsung perundingan antara tentara Belanda dan delegasi Republik Indonesia di Kotabumi, Lampung Utara, tersiar kabar Belanda kembali memasuki Bandarlampung dan wilayah Gadingrejo, tidak jauh dari Pringsewu.

KH Gholib bersama para tentara kemudian menghancurkan sebuah jembatan utama untuk menghambat pergerakan pasukan Belanda menuju Pringsewu. Namun, Belanda mengubah arah serangan melalui Kedondong dan Pagelaran. Pasukan penjajah mengepung wilayah persembunyian para pejuang dan menghujaninya dengan tembakan. Korban kembali berjatuhan.

Kisah perjuangan KH Gholib juga dikenang oleh keluarganya. KH Syamsul Ma'arif, salah seorang cucunya, menyebut Gholib sebagai ulama besar asal Pringsewu yang dikenal luas karena keberaniannya menghadapi penjajah Jepang dan Belanda.

Menurut Syamsul, kakeknya merupakan komandan pasukan Hizbullah yang memiliki pengaruh besar di tengah masyarakat. Namun, perjuangannya tidak hanya berlangsung di medan perang. Gholib juga dikenal sebagai pendidik yang mendedikasikan hidupnya untuk membangun pendidikan Islam.

Ia mengawali pengabdiannya dengan mendirikan majelis taklim. Seiring berkembangnya jumlah masyarakat yang belajar, Gholib kemudian mendirikan madrasah sederhana dengan tiga ruang belajar. Bangunannya berlantai tanah, berdinding geribik, dan beratap genteng. Pada awalnya, madrasah tersebut hanya mampu menampung sekitar 20 santri.

"Madrasah yang didirikan si mbah kakung itu sederhana dan cukup untuk belajar 20 orang. Bangunan itu terdiri atas tiga lokal berlantai tanah, berdinding geribik dan beratap genteng," tutur Syamsul.

Guru pertama di madrasah tersebut bernama H.M. Nuh, yang berasal dari Cianjur, Jawa Barat. Meski berada dalam situasi penjajahan Jepang, kegiatan pendidikan tetap berjalan. Bahkan, madrasah itu berkembang pesat dan menarik minat santri dari berbagai daerah.

Dalam waktu relatif singkat, jumlah santri meningkat menjadi lebih dari seribu orang. Mereka datang dari Lampung, Palembang, Bengkulu, hingga Jambi. Para pengajar juga berdatangan dari Jawa dan berbagai daerah di Lampung.

Pendidikan yang dikembangkan Gholib tidak hanya menekankan penguasaan ilmu agama. Para santri dididik agar mampu berbahasa Arab, memahami ilmu nahwu dan sharaf, serta membaca Al-Qur'an dengan fasih dan merdu. Kedisiplinan beribadah juga menjadi bagian penting dari pendidikan. Santri dan guru diwajibkan menjaga waktu salat dan melaksanakan salat berjamaah di masjid. Setiap malam Jumat, mereka menggelar pembacaan Barzanji dan Marhaban.

Yang menarik, seluruh santri dapat belajar tanpa dipungut biaya. Gholib bahkan menanggung sendiri kebutuhan para guru, mulai dari honor hingga makan sehari-hari selama mengajar. Jika guru atau keluarganya sakit, mereka bisa mendapatkan pengobatan gratis di poliklinik milik Gholib.

Kepedulian itu juga dirasakan masyarakat luas. Banyak warga datang untuk meminta doa maupun bantuan pengobatan. Mereka bahkan diperbolehkan menginap selama beberapa hari tanpa dikenakan biaya.

Namun, besarnya pengabdian Gholib tidak membuatnya terhindar dari kekejaman perang. Ketika Belanda terus memburunya, ia bersama para pengikutnya terpaksa berpindah-pindah tempat persembunyian di hutan.

Selama Gholib bersembunyi, Belanda merusak dan menjarah berbagai aset miliknya. Pesantren, rumah, mobil, pabrik tapioka, pabrik padi, hingga poliklinik dihancurkan. Seorang ustaz yang dikenal dekat dengannya bahkan tewas dibunuh karena menolak memberitahukan lokasi persembunyian sang kiai.

Di tengah pelarian, Gholib terus memikirkan nasib masyarakat Pringsewu. Setelah beberapa waktu bersembunyi, ia akhirnya memutuskan pulang seusai salat Idulfitri. Selain ingin kembali bersama masyarakat, kondisi kesehatannya juga terus menurun. Ia bahkan sempat mengalami kelumpuhan.

Kabar kepulangannya segera diketahui pasukan Belanda. Gholib kemudian disergap pasukan Macan Loreng, pasukan khusus yang menjadi kaki tangan penjajah. Ia dibawa ke Gereja Katolik Pringsewu yang saat itu digunakan sebagai markas tentara Belanda.

Selama 15 hari, Gholib mendekam dalam tahanan. Ia akhirnya dibebaskan setelah tercapai kesepakatan gencatan senjata. Namun, pembebasan itu justru menjadi akhir perjalanan hidupnya.

Pada dini hari, 6 November 1945, sekitar pukul 01.00 WIB, Gholib meninggalkan tempat penahanan. Ketika baru beberapa langkah berjalan, tembakan dari belakang menghantam tubuhnya. Ia gugur seketika.

Kisah KH Gholib memperlihatkan bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya berlangsung di medan pertempuran. Ia membangun pendidikan, membantu masyarakat, menggerakkan santri, dan memimpin perlawanan bersenjata. Pengabdiannya kepada agama dan tanah air menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan masyarakat Pringsewu.(*)

Editor: Muhammad Furqon


Comment

Berita Terkait


KH Gholib, Ulama yang Gugur di Tangan Penjaja ...

MOMENTUM, Pringewu -- Dini hari itu, 6 November 1945, KH Gholib m ...


KH Gholib Diusulkan Jadi Pahlawan Daerah Lamp ...

MOMENTUM, Bandarlampung -- Dewan Gelar Daerah Provinsi Lampung me ...


RS Mitra Mulia Husada dan MWC NU Gelar Cek Ke ...

MOMENTUM, Terusannunyai -- Rumah Sakit (RS) Mitra Mulia Husada Ba ...


Polres Lampung Utara Gelar Sunatan Massal Gra ...

MOMENTUM, Kotabumi — Wujud kepedulian dan komitmen untuk hadir ...


E-Mail: harianmomentum@gmail.com