Pulau Sumatera Berpotensi Jadi Pusat Ekonomi Syariah

Festival Ekonomi Syariah (FESYar) Regional Sumatera di Bandarlampung. Foto. Ira.

Harianmomentum.com--Pulau Sumatera memiliki potensi sektor riil dan keuangan yang bisa menjadi pusat pengembangan ekonomi syariah.

Letak strategis Pulau Sumatera yang dekat dengan negara luar dapat memberikan sumbangan melalui perdagangan dan ekspor dari sisi industri halal.

Demikian disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Rosmaya Hadi dalam pembukaan Festival Ekonomi Syariah (FESYar) Regional Sumatera di Bandarlampung, Kamis, 2 Agustus 2018.

"Posisi geografisnya pulau paling barat itu memiliki potensi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional lebih tinggi dari tahun 2017 sebesar 5,07 persen melalui sektor ekonomi syariah" ujar Maya, sapaan akrabnya.

Maya mengingatkan, saat ini sejumlah negara mulai memaksimalkan perdagangan ekspornya melalui ekonomi syariah sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru dari industri halal.

"Contohnya Thailand dengan penduduk mayoritasnya non-muslim bisa menjadi industri halal terbesar. Sementara Indonesia sebagai penduduk muslim terbesar di dunia justru menjadi pasar yang dimanfaatkan negara luar," ungkap Rosmaya.

Guna mendukung terwujudnya Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia, terdapat tiga pilar yang harus digulirkan secara maksimal. Melalui pemberdayaan ekonomi syariah seperti wisata halal, pertanian, dan energi. Lalu pendalaman pasar keuangan syariah dan penguatan riset dan edukasi sumberdaya manusia.

"Ekonomi syariah tidak terpaku pada perbankan saja, tetapi ada dana yang bisa diolah dari zakat, infak, sodaqoh untuk kegiatan produktif. SDM-nya bisa bekerja sama dengan perguruan tinggi dan edukasi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) untuk menghasilkan produksi halal. Ketiga pilar itu bisa diaplikasi melalui teknologi ekonomi digital," jelasnya.

Sementara anggota Komisi XI DPR RI Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Ahmad Junaidi Auly meminta kepada Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk bersinergi dalam pengembangan ekonomi syariah di Indonesia.

Menurut dia, perkembangan ekonomi syariah saat ini tidak bisa berjalan parsial dan perlu perhatian yang lebih serius dari semua pihak.

"Ekonomi dan keuangan syariah dari dulu sudah sangat menjanjikan, pemerintah harus terus beri ruang usaha yang sesuai untuk pengembangan ekonomi syariah agar menjadi salah satu lokomotif perekonomian di Indonesia,” ungkap Junaidi.

Dia mengungkapkan, tantangan dan hambatan dalam perkembangan ekonomi syariah harus dicarikan solusi yang konkrit dengan program-program yang menunjang peningkatan ekonomi syariah.

Aset keuangan syariah Indonesia pada 2016 sebesar 47,6 juta dollar AS dan pada 2017 meningkat menjadi 81,8 juta dollar AS atau meningkat dari peringkat 9 menjadi peringkat ke 7 dunia menurut data Global Islamic Economic Indicator.

"Aset keuangan syariah kita masih dikisaran 5 persen dan jauh tertinggal dari Malaysia yang mempunyai aset keuangan syariahnya mencapai 20 persen, artinya ada kendala-kendala yang terjadi dalam ekonomi syariah ini," ujar Anggota DPR Dapil Lampung II ini.

Selanjutnya dia berharap, pemerintah berserta lembaga lainnya yang berkaitan untuk terus mengedukasi masyarakat tentang keunggulan ekonomi syariah. (ira).

Berikan Komentar