MOMENTUM -- Perbedaan awal Ramadan maupun Idulfitri bukanlah hal baru. Sejak dulu, umat Islam di berbagai tempat telah terbiasa menghadapi kemungkinan awal puasa atau Idulfitri yang tidak selalu jatuh pada hari yang sama.
Bagi sebagian orang, perbedaan ini terasa membingungkan. Namun jika ditarik sedikit ke belakang, perbedaan tersebut justru lahir dari ikhtiar ilmiah dan ijtihad keagamaan yang terus berkembang dari waktu ke waktu.
Akar perbedaan itu terutama terletak pada dua hal: metode penentuan dan cakupan wilayah yang dijadikan dasar perhitungan. Ada yang menggunakan rukyat (pengamatan hilal secara langsung), ada yang memakai hisab (perhitungan astronomi atau ilmu falak), dan ada pula yang memadukan keduanya dengan kriteria tertentu. Masing-masing metode memiliki landasan dalil dan tradisi keilmuan yang panjang.
Pada awalnya, cakupan wilayah penetapan awal bulan Hijriah di Indonesia, misalnya, berbasis teritorial nasional—dari Sabang sampai Merauke. Dalam perkembangannya, muncul gagasan mathla’ regional, yakni satu kawasan geografis yang dipandang sebagai satu zona keberlakuan hilal.
Negara-negara Asia Tenggara bekerja sama dalam penentuan awal bulan Hijriah melalui forum MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Pendekatan regional ini dimaksudkan untuk mendorong keseragaman kalender di tingkat kawasan, meski dalam praktiknya belum selalu menghasilkan hari yang sama.
Perbedaan metode dan wilayah acuan inilah yang membuat awal Ramadan dan Idulfitri bisa berbeda antarnegara. Dalam situasi tertentu, perbedaan itu bahkan memunculkan persoalan yang cukup krusial.
Salah satu momen yang sering menjadi sorotan adalah puasa Arafah. Ada negara yang telah menetapkan 9 Zulhijah, sementara di tempat pelaksanaan wukuf yaitu di Arab Saudi, harinya berbeda. Akibatnya, sebagian umat berpuasa Arafah ketika jemaah haji belum atau sudah melaksanakan wukuf.
Padahal, anjuran puasa Arafah ditujukan bagi yang tidak berhaji dan dilaksanakan bertepatan dengan hari wukuf di Arafah. Di titik ini, diskusi fikih dan astronomi bertemu—dan tidak jarang membingungkan masyarakat awam.
Memasuki tahun 2026, ada perkembangan menarik dari Muhammadiyah. Organisasi ini mulai menerapkan konsep kalender Hijriah global dengan prinsip “satu bumi satu tanggal”.
Pendekatan yang digunakan Muhammadiyah tidak lagi dibatasi oleh batas negara atau kawasan. Selama secara hisab posisi hilal telah memenuhi kriteria di mana pun di muka bumi, maka itu menjadi dasar masuknya bulan baru Hijriah untuk seluruh dunia. Gagasan ini dikenal sebagai Kalender Hijriah Global Tunggal.
Pendekatan global menawarkan hal yang sejak lama diharapkan banyak orang: kepastian dan keseragaman tanggal ibadah. Dengan sistem ini, potensi perbedaan awal Ramadan, Idulfitri, dan waktu Arafah diharapkan dapat diperkecil, bahkan dihilangkan.
Tentu, tidak semua komunitas keagamaan langsung dapat menerima pendekatan tersebut. Ada pertimbangan fikih, otoritas keagamaan, serta tradisi lokal yang telah berjalan lama. Namun sebagai sebuah ikhtiar, gagasan ini menjadi bagian penting dari dialog panjang menuju penyatuan kalender Islam dunia.
Meski demikian, sejarah menunjukkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk renggang. Sejak generasi awal, para ulama telah berbeda pendapat dalam banyak hal, namun tetap menjaga saling hormat. Perbedaan metode penentuan hilal merupakan wilayah ijtihad, bukan sumber perpecahan.
Pada akhirnya, tujuan Ramadan tidak berubah hanya karena perbedaan hari. Toh, tanggal mulainya puasa tetap sama: 1 Ramadan. Hanya harinya yang berbeda.
Esensinya pun sama: menahan diri, membersihkan hati, memperbanyak amal, dan menumbuhkan takwa. Entah memulai lebih dahulu atau sehari kemudian. Nilai puasa kembali pada keikhlasan dan kualitas ibadah setiap pribadi.
Terlepas dari perbedaan metode dan hitungan, persatuan hati jauh lebih penting daripada keseragaman kalender. Ramadan adalah momentum untuk merapatkan saf, melembutkan sikap, dan memperluas toleransi.
Selamat menyambut dan menjalani Ramadan. Semoga kita sampai pada tujuannya: menjadi pribadi yang lebih bertakwa.
Tabik!
Muhammad Furqon - Dewan Redaksi Harian Momentum.
Editor: Muhammad Furqon