Buka Mata Gen Z: Realitas Tata Kelola Sawit Berkelanjutan di PTPN IV Palmco

Tanggal 19 Feb 2026 - Laporan Nurjanah/rls - 152 Views

MOMENTUM, Jakarta--Industri kelapa sawit kerap berhadapan dengan narasi skeptis di panggung global. Isu lingkungan hingga tata kelola yang dianggap kurang ideal menjadi diskursus sehari-hari, terutama di ruang-ruang kelas akademik. Namun, narasi tekstual tersebut menemui ujian pembandingnya ketika puluhan mahasiswa Magister Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor (IPB) turun langsung membedah operasional perkebunan dan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PTPN IV PalmCo.

Kunjungan lapangan (field trip) yang di inisiasi oleh civitas akademis bersama Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) tersebut membuka dimensi baru bagi para akademisi muda, yang didominasi oleh Generasi Z, yang selama ini lebih banyak mencerna literatur tentang komoditas strategis nasional tersebut.

Novita, mahasiswi S2 IPB asal Papua, mengakui adanya jarak antara persepsi awal yang terbangun di bangku kuliah dengan realitas operasional di lapangan. Menurutnya, literasi mengenai tata kelola sawit yang sesuai standar global seringkali terasa abstrak sebelum melihatnya secara langsung.

"Selama ini kami tahu teorinya, tapi ini kali pertama saya melihat langsung bagaimana RSPO bekerja di lapangan. Melihat cara panen yang benar, pembagian batas area kebun yang sangat jelas, hingga sistem manajemen pekerja yang tertata, ini benar-benar menjadi ilmu baru. PTPN bekerja secara sistematis dan mengemban tanggung jawabnya di lapangan," ungkap Novita.

Bagi Fadil, mahasiswa lainnya, pengalaman keluar dari kelas memberikan gambaran utuh tentang rantai pasok industri ini. "Sebagai mahasiswa, pengenalan terkait bisnis serta operasional sawit itu masih sangat terbatas. Melihat manajemen sawit secara riil dari hulu di kebun hingga ke hilir di pabrik membuktikan satu hal ketika dikelola dengan tata langkah yang baik dan berkelanjutan, sawit memiliki dampak ekonomi yang sangat positif dan terukur."

Mengukur Efisiensi dan Daya Tarik Industri

Kunjungan ini juga melakukan observasi terhadap efisiensi operasional. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) hingga menjadi Crude Palm Oil (CPO) berkualitas dapat diselesaikan dalam waktu sekitar empat jam dengan manajemen limbah yang ketat.

Transparansi dan keteraturan proses ini rupanya memunculkan pergeseran pandangan di kalangan mahasiswa. Keselarasan antara prinsip keberlanjutan yang diajarkan di kampus dan praktik nyata di PTPN IV PalmCo bahkan menumbuhkan ketertarikan karir. Industri kelapa sawit yang berwawasan lingkungan kini mulai dilirik oleh talenta muda terdidik sebagai tempat berkarya yang menjanjikan secara profesional sekaligus sejalan dengan nilai-nilai etis generasi masa kini.

Validasi Standar Global dan Bantahan Kampanye Hitam

Hadirnya perwakilan RSPO dalam rombongan observasi ini mempertegas bahwa tata kelola di lapangan bukan sekadar pertunjukan, melainkan implementasi harian dari standar sertifikasi internasional.

Aryo Gustomo - Director, Assurance at Roundtable on Sustainable Palm Oil, menyatakan PTPN IV merupakan salah satu contoh perusahaan yang menerapkan praktek-praktek sawit lestari. “

“Bagus sekali (mahasiswa) dapat melihat langsung praktek-praktek systajnability di PTPN. Karena PTPN IV merupakan member RSPO yang sangat baik dengan 69 unit Pabrik tersertifikasi,” ungkapnya.

Farah Damia Mohd Zainal, Assistant Manager Talent Acquisition RSPO, menggarisbawahi pentingnya melihat wujud fisik dari dokumen sertifikasi yang seringkali diragukan publik. "Kunjungan ini memberikan pengalaman nyata tentang bagaimana PTPN menjalankan certification journey RSPO di lapangan. Memahami proses ini secara on-ground dan mendalam memberikan dampak pemahaman yang jauh lebih besar dibandingkan apa yang hanya dilihat secara teori di buku," ucap Farah.

Dari sudut pandang pakar, observasi lapangan ini adalah pembuktian atas upaya serius perbaikan tata kelola industri sawit nasional yang selama ini terus didorong oleh pemerintah dan pelaku usaha. Prof. Dr. Ir. Herdhata Agusta, Dosen Fakultas Pertanian IPB menekankan bahwa kepatuhan pada standarisasi internasional adalah jawaban mutlak atas black campaign yang kerap menyudutkan komoditas andalan Indonesia ini.

"Kampanye di luar negeri selalu kuat dan negatif. Dulu ada narasi bahwa sawit rakus air, prosesnya tidak standar, dan sebagainya," jelas Prof. Herdhata. 

"Namun dengan sertifikasi RSPO yang sifatnya internasional ini, semua proses menjadi berstandar baku, tersertifikasi, dan diawasi ketat. Kriteria keberlanjutan yang dipenuhi secara disiplin di lapangan ini akan menjadi daya ungkit yang sangat membantu untuk mengangkat kembali citra sawit Indonesia di mata dunia."

Pada akhirnya, observasi partisipatif ini menyimpulkan satu hal esensial yaitu literasi keberlanjutan tidak cukup hanya didiskusikan. Melihat langsung kebun dan pabrik sebagai bentuk pengawasan dari akademisi dan standar global merupakan langkah krusial untuk membangun kepercayaan publik. Generasi penerus bangsa kini memiliki pijakan fakta empiris bahwa praktik sawit berkelanjutan bukanlah ilusi di atas kertas, melainkan realitas yang sedang dibangun dan dijaga di lapangan.(**)

Editor: Agus Setyawan


Comment

Berita Terkait


Transformasi PalmCo Dinilai Jadi Fondasi Kema ...

MOMENTUM, Pekanbaru -- Transformasi berkelanjutan yang dijalankan ...


Buka Mata Gen Z: Realitas Tata Kelola Sawit B ...

MOMENTUM, Jakarta--Industri kelapa sawit kerap berhadapan dengan ...


Ramadan Jadi Lebih Berkesan: Muslim Pro Kini ...

MOMENTUM, Jakarta--Menyambut momentum Ramadan dan Idulfitri, Telk ...


5.271 Ha Areal Petani Bermitra dengan PTPN IV ...

MOMENTUM, Rokanhulu -- Hingga awal 2026, tercatat lebih dari 2.50 ...


E-Mail: https://t.me/hhackplus HackPlus-attack Smoking Ar