Brimob dan Tragedi Arianto Tawakal

Tanggal 23 Feb 2026 - Laporan Harian Momentum - 249 Views
Arianto Tawakal (14), siswa MTsN 1 Maluku. Foto: Ist.

MOMENTUM -- Sulit menerima kenyataan bahwa seorang anak berusia 14 tahun harus kehilangan nyawanya dengan cara seperti ini.

Arianto Tawakal bukan penjahat. Ia hanya seorang pelajar. Ia hanya seorang anak yang pulang dari salat subuh. Ia seharusnya masih memiliki banyak waktu untuk hidup, banyak hari untuk dilalui, dan banyak mimpi untuk diwujudkan.

Namun semua itu berhenti pada Kamis, 19 Februari 2026 di Kota Tual, Maluku Tenggara. Arianto, siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Maluku, meninggal dunia akibat kekerasan fisik yang diduga dilakukan seorang anggota polisi dari Korps Brigade Mobil. Ia disebut dipukul menggunakan helm baja taktikal (tactical helmet) milik si Brimob. 

Tragedi ini bukan hanya tentang kematian seorang anak. Luka ini terasa jauh lebih dalam karena yang diduga pelakunya adalah aparat negara. Mereka yang seharusnya melindungi, justru menjadi sumber ketakutan. Seragam yang seharusnya memberi rasa aman, kini justru menimbulkan kecemasan.

Yang semakin menyakitkan, setelah nyawa itu hilang, yang muncul justru penjelasan demi penjelasan. Kalimat-kalimat yang terdengar seperti pembenaran. Seolah peristiwa itu, kematian biasa yang bisa dijelaskan begitu saja dengan rangkaian kata-kata. 

Sejak kecil, kita diajarkan bahwa polisi adalah pelindung rakyat. Bahwa mereka hadir untuk menjaga, bukan melukai. Namun tragedi ini memaksa kita bertanya: sampai kapan rakyat harus terus mencoba percaya?

Tragedi Arianto Tawakal, membuat polisi semakin dijauhi, bahkan dibenci masyarakat.

Tidak ada yang membantah bahwa negara membutuhkan Kepolisian Negara Republik Indonesia. Namun polisi juga harus menyadari, mereka tidak bisa berdiri tanpa kepercayaan rakyat. Kepercayaan itu bukan sesuatu yang bisa diminta, melainkan harus dijaga.

Ukurannya sederhana. Jika masyarakat merasa tenang saat melihat polisi, berarti kepercayaan itu masih hidup.

Namun jika yang muncul justru rasa wawas, apalagi sampai takut bertemu polisi, maka yang mati bukan hanya seorang anak.

Kepercayaan itu ikut terkubur bersamanya.

Tabik!

Editor: Muhammad Furqon


Comment

Berita Terkait


Brimob dan Tragedi Arianto Tawakal ...

MOMENTUM -- Sulit menerima kenyataan bahwa seorang anak berusia 1 ...


Ramadan Beda Hari ...

MOMENTUM -- Perbedaan awal Ramadan maupun Idulfitri bukanlah hal ...


Misteri PKB 37,14 Persen ...

MOMENTUM -- Seorang kawan dari Tulangbawang bercerita, ketua RT d ...


SGC di Simpang Jalan Swasembada Gula 2026 ...

MOMENTUM -- Target swasembada gula konsumsi pada 2026 menjadi sal ...


E-Mail: https://t.me/hhackplus HackPlus-attack Smoking Ar