Menkeu: Harga BBM Subsidi Berpotensi Naik Jika Tekanan Minyak Dunia Lampaui APBN

Tanggal 07 Mar 2026 - Laporan Harian Momentum. - 131 Views
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. Foto: Ist.

MOMENTUM, Jakarta -- Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi berpotensi mengalami kenaikan apabila harga minyak dunia terus melonjak hingga melampaui kemampuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Purbaya mengatakan, pemerintah akan mempertimbangkan penyesuaian harga BBM jika tekanan terhadap APBN semakin besar akibat lonjakan harga minyak global.

“Kalau memang anggarannya tidak kuat, tidak ada jalan lain, kami berbagi dengan masyarakat sebagian. Artinya, ada kenaikan BBM,” kata Purbaya dalam taklimat media di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat, 6 Maret 2026.

Ia menjelaskan, hasil perhitungan Kementerian Keuangan menunjukkan defisit APBN berpotensi mencapai sekitar 3,7 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) jika harga minyak dunia bertahan di level 92 dolar AS per barel sepanjang tahun tanpa adanya intervensi pemerintah.

Meski demikian, pemerintah masih menyiapkan sejumlah langkah mitigasi untuk menjaga kesehatan fiskal negara agar defisit tidak semakin melebar.

Selain opsi penyesuaian harga BBM, pemerintah juga mempertimbangkan realokasi belanja negara. Anggaran dari sejumlah program yang dinilai memiliki tingkat urgensi lebih rendah dapat digeser untuk menutup tekanan fiskal.

Namun, Purbaya menegaskan belanja negara yang berdampak langsung bagi masyarakat tetap menjadi prioritas dan tidak akan dikurangi.

Salah satu program yang masih memiliki ruang untuk realokasi anggaran adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, penyesuaian tidak akan menyentuh fungsi utama penyediaan makanan, tetapi hanya pada kegiatan pendukung.

“Programnya bagus, tapi kami ingin mencegah jika ada belanja yang tidak langsung mendukung penyediaan makanan, misalnya pembelian kendaraan,” ujarnya.

Purbaya menambahkan, Indonesia sebelumnya pernah menghadapi tekanan harga minyak dunia yang jauh lebih tinggi, yakni sekitar 150 dolar AS per barel. Saat itu, perekonomian nasional masih mampu bertahan meski mengalami perlambatan.

“Kita pernah melewati keadaan harga minyak sampai 150 dolar AS per barel. Ekonomi tidak jatuh, hanya melambat. Jadi kita punya pengalaman,” katanya.

Lonjakan harga minyak dunia saat ini dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah akibat konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.

Harga minyak jenis Brent tercatat naik sekitar 4,93 persen menjadi 85,41 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melonjak sekitar 8,51 persen ke level 81,01 dolar AS per barel.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga minyak pada Januari 2026, ketika Brent berada di kisaran 64 dolar AS per barel dan WTI sekitar 57,87 dolar AS per barel.

Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memastikan harga BBM bersubsidi saat ini masih tetap stabil dan pasokan dalam kondisi aman, terutama menjelang Idulfitri. (**)

Editor: Muhammad Furqon


Comment

Berita Terkait


Menkeu: Harga BBM Subsidi Berpotensi Naik Jik ...

MOMENTUM, Jakarta -- Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, meny ...


Gaya Hidup Urban: Kiyo Libare Boyong Brand St ...

MOMENTUM, Bandarlampung -- Gelombang kreativitas dari Kota K ...


Pelanggan Asal Medan Bawa Pulang Mobil Mewah ...

MOMENTUM, Medan -- Telkomsel menyerahkan hadiah utama Program Und ...


Plt Bupati dan Pjs Dirut Bank Lampung Tinjau ...

MOMENTUM, Gunungsugih -- Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Lampung Ten ...


E-Mail: https://t.me/hhackplus HackPlus-attack Smoking Ar