MOMENTUM, Pekalongan -- Diskusi dan bedah buku “Oey Soe Tjoen: Sejarah Batik Tulis Legendaris Kabupaten Pekalongan” yang diselenggarakan Kulturpedia menghadirkan refleksi mendalam tentang perjalanan panjang batik tulis sekaligus tantangan masa depannya.
Acara yang digelar di Saji Space, Kedungwuni, ini menghadirkan penulis buku Nanang Rendi Ahmad sebagai pemateri, bersama Widianti Widjaya dari keluarga Oey Soe Tjoen serta Dirhamzah, pegiat sejarah Pekalongan. Diskusi juga melibatkan Andika Nugraha sebagai panelis dari kalangan anak muda yang memberikan perspektif generasi baru terhadap keberlanjutan batik.
Dalam pemaparannya, Nanang Rendi Ahmad menjelaskan bahwa buku ini merupakan upaya mendokumentasikan perjalanan batik Oey Soe Tjoen yang telah bertahan sejak 1925. Ia menekankan bahwa batik ini tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga menjadi simbol ketahanan tradisi di tengah perubahan zaman.
“Batik Oey Soe Tjoen menunjukkan bahwa tradisi bisa bertahan jika kualitas tetap dijaga,” ujarnya.
Kualitas sebagai Prinsip Utama
Komitmen terhadap kualitas menjadi benang merah dalam diskusi. Widianti Widjaya menegaskan bahwa standar tinggi yang selama ini dijaga tidak boleh diturunkan hanya demi keberlanjutan usaha.
Ia bahkan menyampaikan bahwa jika kualitas tidak bisa dipertahankan, maka lebih baik batik tersebut tidak dilanjutkan.
“Kalau kualitasnya tidak bisa dijaga, lebih baik tidak dilanjutkan,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan sikap tegas dalam menjaga reputasi batik Oey Soe Tjoen sebagai batik premium. Dirhamzah menambahkan bahwa secara nilai, batik ini berada pada kelas tinggi, bahkan jika dikonversi dapat setara dengan harga satu unit motor Honda PCX.
Menurutnya, hal itu menunjukkan bahwa batik ini bukan sekadar produk, melainkan karya bernilai tinggi yang tidak bisa diproduksi secara sembarangan.
Dilema Regenerasi
Di sisi lain, diskusi juga mengangkat isu regenerasi yang menjadi tantangan utama. Hingga saat ini, belum ada generasi keempat yang secara pasti melanjutkan usaha tersebut.
Widianti Widjaya mengakui bahwa dirinya tidak ingin memaksakan anak-anaknya untuk terjun ke dunia batik. Ia berharap generasi berikutnya dapat memahami terlebih dahulu nilai, filosofi, dan proses yang ada sebelum memutuskan untuk melanjutkan.
“Harapannya ada, tapi tidak bisa dipaksakan,” ujarnya.
Situasi ini mencerminkan tantangan yang lebih luas dalam industri batik tulis, di mana minat generasi muda untuk terlibat masih terbatas, sementara proses produksi membutuhkan ketekunan dan waktu yang panjang.
Diskusi dan bedah buku “Oey Soe Tjoen: Sejarah Batik Tulis Legendaris Kabupaten Pekalongan. Foto: Ist.
Perspektif Generasi Muda dan Penguatan Narasi
Dalam diskusi tersebut, Andika Nugraha sebagai panelis dari kalangan muda menyoroti pentingnya menghadirkan perspektif generasi keempat dalam buku tersebut. Menurutnya, hal itu akan membuat narasi lebih hidup dan relevan dengan masa depan.
Sementara itu, Dirhamzah mengusulkan perlunya perluasan sumber rujukan serta pencocokan dengan kronik sejarah yang lebih luas. Ia menilai masih terdapat sejumlah potongan sejarah yang dapat memperkaya isi buku jika diintegrasikan secara lebih mendalam.
Suara Peserta: Antara Pelestarian dan Masa Depan
Dalam sesi diskusi, salah satu peserta, Yoga Rifai Hamzah, turut menyampaikan pandangannya terkait masa depan batik.
Ia menyoroti bahwa selama ini diskusi tentang batik lebih banyak berfokus pada bagaimana batik bertahan, tetapi belum cukup membahas bagaimana batik bisa tetap hidup di masa depan.
Menurutnya, perubahan zaman menuntut pendekatan baru, termasuk dalam hal pewarisan pengetahuan.
“Batik sebenarnya adalah sistem pengetahuan—motif, filosofi, dan proses yang diwariskan lintas generasi. Pertanyaannya, apakah pengetahuan ini sudah kita siapkan untuk diwariskan dalam bentuk baru, termasuk melalui ekosistem digital?” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya memperhatikan peran para pembatik yang selama ini menjadi tulang punggung produksi, namun sering kali kurang mendapat perhatian dalam narasi besar tentang batik.
Peran Pembatik dan Tantangan Keberlanjutan
Diskusi juga menggarisbawahi bahwa pelestarian batik tidak hanya berkaitan dengan menjaga warisan, tetapi juga memastikan keberlanjutan bagi para pelaku di dalamnya.
Para pembatik dinilai memiliki peran sentral dalam menjaga kualitas dan keberlanjutan batik, meskipun sering kali tidak menjadi bagian utama dalam narasi.
Tanpa mereka, batik tidak akan hadir sebagai produk budaya yang hidup.
Menuju Masa Depan Batik
Selain itu, perkembangan teknologi dan digitalisasi juga menjadi bagian dari pembahasan. Batik dipandang tidak hanya sebagai produk budaya, tetapi juga sebagai sistem pengetahuan yang perlu didokumentasikan dan dikembangkan agar tetap relevan.
Digitalisasi diharapkan tidak menggantikan tradisi, tetapi memperkuatnya melalui akses yang lebih luas dan peluang ekonomi yang lebih terbuka.
Diskusi ini menegaskan bahwa tantangan terbesar batik hari ini bukan hanya bertahan, tetapi tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman. (**)
Editor: Muhammad Furqon