Oleh Ichsanuddin Noorsy dan M. Arief Pranoto
MOMENTUM -- Dalam eskalasi perang Teluk 2026, Iran membaca realitas dengan dingin: bertarung secara simetris melawan Amerika Serikat (AS), Israel, dan sekutunya adalah permainan yang nyaris mustahil dimenangkan. Bahkan dapat disebut sebagai langkah bunuh diri. Anggaran militer AS berada di kisaran USD 850–900 miliar per tahun, terbesar di dunia, sedangkan anggaran pertahanan Iran diperkirakan hanya USD 20–25 miliar. Kesenjangan hampir 40 banding 1 ini membuat strategi konvensional sulit relevan.
Selain itu, AS, Israel, dan sekutunya memiliki keunggulan teknologi serta persenjataan strategis. Iran belum terbukti memiliki senjata nuklir, namun beberapa kali mengklaim memiliki kemampuan rudal jarak jauh sebagai daya tangkal.
Namun, Teheran tampaknya tidak memilih adu kekuatan total. Negara itu lebih mengandalkan perang asimetris (asymmetric warfare) sebagai strategi utama. Secara taktis, Iran memilih adu ketahanan, bukan adu kekuatan. Pertarungan itu dijalankan di lima arena sekaligus. Setiap arena memiliki logika berbeda, tetapi tujuan yang sama: menguras lawan tanpa harus menghancurkannya secara langsung. Inilah yang kerap disebut sebagai war of attrition atau perang atrisi.
Apa saja lima arena tersebut?
Papan I: Proxy War — Biaya Kecil, Tekanan Besar
Iran jarang menyerang langsung kecuali bila diserang. Negara itu lebih banyak bergerak melalui jaringan sekutu non-negara. Di Yaman, kelompok Houthi mampu meluncurkan drone berbiaya relatif murah. Untuk menjatuhkannya, kapal perang AS dapat menghabiskan biaya jauh lebih besar melalui rudal pencegat.
Di Lebanon, Hizbullah diperkirakan memiliki persediaan roket dan misil dalam jumlah besar. Meski tidak semuanya presisi tinggi, volumenya cukup untuk menekan sistem pertahanan seperti Iron Dome milik Israel.
Di Irak dan Suriah, serangan roket serta drone skala kecil terjadi berulang. Kerusakan yang ditimbulkan sering kali terbatas, tetapi frekuensinya menciptakan tekanan konstan. Akumulasi gangguan kecil inilah yang menjadi inti strategi: bukan menghancurkan, melainkan melelahkan.
Papan II: Senjata Murah, Dampak Eksponensial
Iran memaksimalkan rasio biaya dan dampak. Drone seperti Shahed berharga jauh lebih murah dibanding sistem pertahanan udara modern yang digunakan untuk menangkisnya. Dalam satu gelombang serangan, biaya pertahanan lawan bisa melonjak berkali-kali lipat dibanding biaya produksi penyerang.
Di laut, kapal cepat bermuatan bahan peledak bernilai relatif rendah berpotensi merusak kapal perang bernilai miliaran dolar. Bahkan kerusakan parsial saja dapat menimbulkan biaya perbaikan sangat besar.
Di ranah siber, satu serangan yang berhasil bisa melumpuhkan fasilitas energi dan menimbulkan kerugian harian besar, sementara biaya operasinya jauh lebih murah. Ini bukan sekadar perang teknologi, tetapi perang efisiensi ekstrem.
Papan III: Lawfare — Menggerus Legitimasi
Iran aktif di jalur diplomasi dan hukum internasional. Setiap resolusi, gugatan, maupun pernyataan publik diarahkan untuk membangun narasi bahwa mereka adalah pihak yang diserang, disanksi, dan ditekan.
Dalam forum global, dukungan dari negara-negara berkembang dapat menciptakan tekanan politik yang tidak langsung, tetapi signifikan. Dampaknya tidak selalu terlihat dalam bentuk ledakan, melainkan menurunnya legitimasi lawan, meningkatnya kritik internasional, serta tekanan politik domestik di negara-negara yang terlibat konflik.
Dalam konflik modern, kehilangan legitimasi sering kali sama mahalnya dengan kehilangan medan tempur.
Papan IV: Selat Hormuz — Daya Ungkit Global
Selat Hormuz merupakan jalur vital energi dunia. Sebagian besar ekspor minyak kawasan Teluk melewati selat sempit ini. Jika terjadi gangguan serius, harga minyak global dapat melonjak tajam dan memicu inflasi di banyak negara.
Iran tidak harus benar-benar menutup jalur tersebut. Ancaman gangguan saja sudah cukup menciptakan volatilitas pasar bernilai ratusan miliar dolar. Ketidakpastian itu memberi tekanan tidak hanya kepada lawan, tetapi juga kepada perekonomian global.
Papan V: Ekonomi Bayangan — Bertahan di Bawah Tekanan
Meski dikenai sanksi, Iran tetap mampu mengekspor minyak melalui jalur tidak resmi. Sebagian pengiriman dilakukan melalui armada tanker bayangan (shadow fleet), mematikan transponder, melakukan alih muatan di laut, serta menggunakan sistem pembayaran non-dolar.
Sanksi memang menekan perekonomian Iran, tetapi belum sepenuhnya melumpuhkan. Negara itu masih mampu bertahan dan membiayai strategi jangka panjangnya. Karena itu, lawan kerap menjadikan sektor energi Iran sebagai sasaran utama tekanan.
Benang Merah: Menguras, Bukan Menghancurkan
Jika digabungkan, strategi ini menciptakan tekanan multidimensi: biaya pertahanan lawan membengkak, gangguan operasional terus terjadi, risiko ekonomi global meningkat, dan tekanan politik domestik perlahan tumbuh.
Melalui lima papan catur asimetris tersebut, Iran tampaknya tidak mencari kemenangan spektakuler. Yang dikejar adalah situasi ketika setiap hari ada biaya, setiap minggu ada gangguan, dan setiap bulan ada akumulasi kelelahan bagi lawannya.
Penutup: Menarik Diri dari Peperangan
Inilah wajah perang modern. Bukan lagi soal siapa yang paling keras memukul, tetapi siapa yang paling lama mampu bertahan sambil membuat lawannya terus berdarah sedikit demi sedikit.
Strategi “seribu sayatan” bekerja bukan lewat satu pukulan mematikan, melainkan luka-luka kecil yang terus berulang. Pada titik tertentu, biaya perang tak lagi sebanding dengan hasil. Publik domestik mulai bertanya ke mana uang pajak mereka mengalir, dan tekanan politik meningkat.
Di situlah arah permainan berubah. Bukan karena satu kemenangan besar, melainkan karena lawan memilih mundur akibat beban yang tak lagi bisa ditanggung. Sejarah menunjukkan, keputusan menarik diri dari peperangan pernah terjadi dalam Perang Vietnam, Perang Irak, maupun Perang Afghanistan. (**)
Editor: Muhammad Furqon
E-Mail: harianmomentum@gmail.com