Israel, Bangsa Parasit di Muka Bumi (1)

Tanggal 07 Jun 2026 - Laporan Harian Momentum. - 123 Views
Ilustrasi. Ist.

Oleh Ichsanuddin Noorsy dan M. Arief Pranoto

MOMENTUM -- Sejarah sering memperlihatkan pola yang berulang. Suatu kelompok pendatang datang ke sebuah wilayah dengan wajah persahabatan. Mereka menawarkan kerja sama, bantuan, gagasan, dan harapan baru. Namun setelah memperoleh pijakan yang kuat, perlahan mereka mulai memengaruhi arah kehidupan masyarakat setempat.

Pada titik tertentu, pihak yang semula menerima kehadiran mereka justru kehilangan kendali atas rumahnya sendiri. Pendatang bukan lagi tamu, melainkan penentu. Dalam geopolitik, kondisi seperti ini kerap dianalogikan sebagai absentee landlord, ketika pemilik kehilangan kendali atas ruang hidupnya sendiri. Dalam bahasa yang lebih sederhana, menjadi "babu di rumah sendiri".

Dari sudut pandang inilah sebagian kalangan memandang Zionisme internasional sebagai "parasit politik" yang hidup dan berkembang dalam tubuh bangsa lain. Analogi ini tentu masih diperdebatkan. Namun, ia terus muncul dalam berbagai diskursus geopolitik hingga saat ini.

Dari Pengungsi Menjadi Negara

Israel lahir dalam situasi yang berbeda dibanding banyak negara lain. Negara ini terbentuk dari gelombang migrasi Yahudi yang datang dari berbagai belahan dunia.

Sebagian pengamat menyebut Israel sebagai negara imigran, sebagaimana Amerika Serikat, Australia, dan Selandia Baru yang juga dibangun oleh gelombang migrasi. Dari perspektif ini muncul pandangan bahwa keberadaan suatu bangsa di wilayah yang bukan tanah asalnya akan selalu menghadapi persoalan legitimasi sejarah dan politik.

Akar proses tersebut sering dikaitkan dengan Deklarasi Balfour tahun 1917. Melalui deklarasi itu, Inggris mendukung pembentukan tanah air bagi bangsa Yahudi di Palestina.

Para pengkritik Zionisme menilai dukungan Inggris tidak terlepas dari kepentingan geopolitik yang lebih luas. Mereka berpendapat bahwa dukungan tersebut kemudian diperkuat oleh Amerika Serikat sehingga membuka jalan bagi migrasi besar-besaran orang Yahudi ke Palestina.

Pada 1948, Israel memproklamasikan kemerdekaan. Sejak saat itu berbagai perang, konflik, dan perundingan berlangsung silih berganti. Namun satu fakta tetap bertahan: Israel tidak hanya mampu mempertahankan eksistensinya, tetapi juga berkembang menjadi salah satu kekuatan paling berpengaruh di Timur Tengah.

Pendukung Israel melihat hal itu sebagai bukti ketangguhan bangsa Yahudi. Sebaliknya, para pengkritiknya menilai keberhasilan tersebut tidak dapat dilepaskan dari dukungan politik, ekonomi, dan militer negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat dan Inggris.

Aliyah: Kepulangan atau Ekspansi?

Dalam tradisi Yahudi dikenal istilah aliyah, yang berarti "naik" atau "kembali". Konsep ini menjadi salah satu fondasi Zionisme modern, yakni keyakinan bahwa orang Yahudi di mana pun berada memiliki hak untuk kembali ke Tanah Perjanjian.

Melalui Undang-Undang Kepulangan (Law of Return), setiap orang Yahudi berhak memperoleh kewarganegaraan Israel. Karena itu, Israel tidak hanya berfungsi sebagai negara, tetapi juga sebagai pusat konsolidasi identitas global bangsa Yahudi.

Bagi pendukungnya, kebijakan tersebut merupakan hak historis dan kultural bangsa Yahudi. Namun bagi para pengkritiknya, kebijakan itu menjadi instrumen politik yang memperkuat dominasi Israel melalui migrasi yang terus berlangsung.

Dalam pandangan para pengkritik tersebut, dukungan politik Barat, kekuatan ekonomi global, penguasaan teknologi, dan keunggulan militer menjadi faktor yang membantu Israel mempertahankan sekaligus memperluas pengaruhnya di panggung internasional.

Falsafah Parasit

Istilah "parasit" dalam tulisan ini digunakan sebagai metafora politik, bukan dalam pengertian biologis.

Parasit hidup dengan menempel pada organisme lain. Ia memperoleh manfaat dari inangnya, berkembang di dalamnya, lalu pada titik tertentu dapat melemahkan tubuh yang ditumpanginya.

Menurut para pengkritik Zionisme, pola serupa terlihat dalam berbagai peristiwa sejarah. Mereka menilai pengaruh Zionisme tidak hanya bergerak melalui kekuatan militer, tetapi juga melalui ekonomi, bisnis, media, pendidikan, lembaga politik, dan kelompok lobi.

Ketika pengaruh tersebut mengakar, mereka berpendapat arah kebijakan suatu negara dapat bergeser mengikuti kepentingan jaringan yang lebih besar.

Apakah pandangan tersebut benar? Tentu masih menjadi perdebatan. Namun, itulah dasar yang digunakan sebagian kalangan ketika menyebut Zionisme sebagai "parasit politik global".

Perdebatan ini telah melahirkan banyak buku dan kajian yang membahas hubungan antara kekuatan finansial global, lembaga internasional, korporasi multinasional, serta dinamika politik dunia. Di sisi lain, para pendukung Israel menilai sebagian tuduhan tersebut sebagai teori konspirasi yang tidak didukung bukti memadai.

Duri di Tubuh Zionisme

Menariknya, tidak semua Yahudi mendukung Zionisme. Salah satu kelompok yang sering disebut adalah Neturei Karta, kelompok Yahudi Ortodoks yang secara terbuka menolak pendirian negara Israel.

Mereka berpendapat bahwa Zionisme telah mengubah ajaran agama menjadi proyek politik. Menurut kelompok ini, identitas keagamaan Yahudi tidak otomatis menuntut pembentukan negara melalui kekuatan politik dan militer.

Keberadaan kelompok seperti Neturei Karta menunjukkan bahwa Yahudi dan Zionisme bukanlah dua istilah yang selalu identik. Di dalam komunitas Yahudi sendiri terdapat beragam pandangan mengenai negara Israel, Zionisme, dan masa depan Palestina. (**)

(Bersambung ke Bagian 2)

Editor: Muhammad Furqon


Comment

Berita Terkait


Israel, Bangsa Parasit di Muka Bumi (1) ...

Oleh Ichsanuddin Noorsy dan M. Arief PranotoMOMENTUM -- Sejarah s ...


Skandal ''Trio Pimpinan BGN'' dan Syahwat Kor ...

Oleh: Ma'ruf Abidin - Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (P ...


Non-Blok di Tengah Persaingan AS, China, Rusi ...

Oleh: Ichsanuddin Noorsy dan M. Arief PranotoMembaca Sinyal dari ...


Bandara Kertajati di Persimbangan Multipolar ...

Oleh: Ichsanuddin Noorsy dan M. Arief PranotoMOMENTUM --  Me ...


E-Mail: harianmomentum@gmail.com