Mengapa Masih Jokowi

Tanggal 28 Jun 2026 - Laporan Harian Momentum - 182 Views
Muhammad Furqon - Dewan Redaksi Harian Momentum. Foto: Dok.

MOMENTUM--Dalam perjalanan menuju Yogyakarta dengan kereta api, seorang teman bercerita saat kami berdiri di sambungan antargerbong. Ia mengaku ingin meninggalkan kebiasaan buruk yang pernah mengguncang rumah tangganya.

Ia sadar kebiasaan itu merusak dan melukai orang-orang terdekatnya. Namun, katanya, kebiasaan itu sering datang begitu saja. Tidak direncanakan, tidak dicari, bahkan kadang terjadi tanpa harus mengeluarkan uang sepeser pun.

Saya menjawab sederhana. Dalam hidup, orang cenderung berkumpul dengan mereka yang memiliki kesamaan. Yang suka membaca akan berteman dengan pecinta buku. Yang gemar olahraga akan nyaman dengan sesama penggemar olahraga. Demikian pula dengan kebiasaan buruk.

Lihat saja para perokok. Di tempat baru, mereka cepat mengenali sesamanya. Mereka berkumpul, berbincang, lalu saling menguatkan kebiasaan itu. Yang baik mencari yang baik, yang buruk juga mencari yang buruk.

Karena itu, orang dengan kepentingan, cara pandang, atau kebiasaan yang sama pada akhirnya akan saling mendekat. Kesamaan adalah perekat yang kuat. Jika yang baik berkumpul, lahirlah kebaikan. Jika yang buruk saling menguatkan, kerusakan pun bisa menjadi lebih besar.

Padahal, secara nurani dan menurut pandangan umum, keburukan biasanya mudah dikenali. Dampaknya nyata dan bahayanya jelas. Namun, selalu ada orang-orang yang justru merasa nyaman di dalamnya. Mereka tahu risikonya, tetapi memilih bertahan.

Dari situlah saya memahami mengapa sampai hari ini masih banyak orang yang menyambut si mantan Presiden RI itu. Sebagai presiden dua periode, Jokowi meninggalkan banyak kontroversi yang masih diperdebatkan. Mulai dari utang negara terus meningkat, janji bohong soal mobil Esemka, klaim investor yang mengantre untuk bangun Ibu Kota Nusantara, hingga polemik ijazah yang tak kunjung reda.

Belum lagi tudingan pelemahan demokrasi, cawe-cawe politik menjelang Pemilu 2024, serta praktik politik dinasti yang membawa anggota keluarganya ke pusat kekuasaan. Semua itu menjadi catatan yang sulit dihapus dari ingatan publik.

Namun politik, seperti kehidupan sehari-hari, sering kali mempertemukan orang-orang karena kesamaan. Ada yang dipersatukan oleh gagasan, ada yang dipertemukan oleh kepentingan, dan ada pula yang merasa nyaman dengan sesuatu yang sebenarnya merugikan orang lain.

Yang mengherankan, sebagian orang tetap bertahan meski dampak buruknya sudah terlihat jelas. Mereka tahu akibatnya, memahami bahayanya, bahkan menyaksikan orang lain dirugikan. Namun, semua itu seolah tidak penting. Selama kepentingan mereka terjaga atau mereka merasa berada di kubu yang sama, kritik dan kenyataan dianggap angin lalu.

Ironinya, ada orang-orang yang tetap membela dan merayakan sesuatu yang mereka tahu bermasalah, selama bukan mereka yang menanggung akibatnya. Mungkin itulah sebabnya, dalam hidup maupun dalam politik, keburukan tidak pernah benar-benar sendirian. Ia selalu menemukan pengikutnya. 

Tabik!

Muhammad Furqon - Dewan Redaksi Harian Momentum

Editor: Muhammad Furqon


Comment

Berita Terkait


Mengapa Masih Jokowi ...

MOMENTUM--Dalam perjalanan menuju Yogyakarta dengan kereta api, s ...


Hening di Padang Arafah ...

MOMENTUM -- Ada satu pemandangan yang sulit dijelaskan dengan kat ...


Warisan Era Jokowi: Caci Maki Jadi Profesi ...

MOMENTUM -- Belum lama ini, saya bertemu kawan seperjuangan saat ...


Jokowi, Trump, Netanyahu: Trio Pembuat Gaduh ...

MOMENTUM -- Ada tiga nama yang belakangan ini rasanya lebih serin ...


E-Mail: harianmomentum@gmail.com