Tambak Terlantar Jadi Pemicu Malaria di Pesisir Pesawaran

Tanggal 02 Jul 2026 - Laporan Rifat Arif. - 129 Views
Ilustrasi. Ist.

MOMENTUM, Telukpandan – Kabupaten Pesawaran menjadi salah satu daerah dengan kasus malaria yang cukup tinggi di Provinsi Lampung, terutama di wilayah pesisir.

Berdasarkan data Puskesmas Hanura, Kecamatan Telukpandan, wilayah pesisir Kabupaten Pesawaran menjadi penyumbang terbesar kasus malaria di Provinsi Lampung.

Sepanjang periode 2021 hingga Mei 2026, tercatat sebanyak 5.397 kasus positif malaria. Lonjakan tertinggi terjadi pada 2024 sebelum mulai menunjukkan tren penurunan pada 2025 hingga awal 2026.

BACA JUGA: Malaria di Pesawaran Masih Tinggi, Kuwarta I 2026 Ditemukan 1.010 Kasus

Kepala Puskesmas Hanura, Nazlina Mayanti, mengatakan tingginya kasus malaria di wilayah tersebut dipengaruhi kondisi geografis pesisir yang menjadi habitat ideal nyamuk Anopheles, vektor penular malaria.

"Faktor penyebabnya banyak. Yang paling utama adalah banyaknya tempat perindukan nyamuk di sekitar air payau. Di sepanjang pantai terdapat tambak terlantar, rawa, laguna, kubangan, kolam, hingga saluran air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk penyebab malaria," kata Nazlina, Kamis (2/7/2026).

Berdasarkan data Puskesmas Hanura, jumlah kasus positif malaria mengalami fluktuasi selama enam tahun terakhir.

Pada 2021 tercatat 205 kasus. Jumlah tersebut meningkat menjadi 472 kasus pada 2023, kemudian melonjak tajam menjadi 1.883 kasus pada 2024.

"Setelah berbagai upaya pengendalian dilakukan, jumlah kasus menurun menjadi 1.269 kasus pada 2025. Sementara hingga Januari–Mei 2026 tercatat 568 kasus positif," ujarnya.

Data pemeriksaan laboratorium menunjukkan sebagian besar penderita malaria di wilayah kerja Puskesmas Hanura terinfeksi parasit Plasmodium vivax yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles.

Selain pemeriksaan laboratorium, petugas kesehatan juga memanfaatkan Rapid Diagnostic Test (RDT) untuk mendeteksi malaria secara cepat.

Menurut Nazlina, penggunaan RDT kini tidak hanya dilakukan di fasilitas kesehatan, tetapi juga telah diberikan kepada kader kesehatan di dusun-dusun endemis.

"Kader sudah kami bekali alat RDT. Kalau ada warga yang demam, mereka bisa langsung melakukan pemeriksaan. Setelah hasilnya positif, kader melapor ke puskesmas dan kami segera memberikan pengobatan sesuai jenis malaria yang diderita. Jadi masyarakat tidak harus selalu antre di puskesmas," jelasnya.

Data tren kasus malaria per desa menunjukkan Desa Hanura masih menjadi penyumbang kasus terbanyak.

Meski demikian, Nazlina mengatakan tren penurunan kasus mulai terlihat dibandingkan saat puncak kejadian pada 2024. Namun, wilayah pesisir masih memerlukan upaya pengendalian secara berkelanjutan.

"Kalau melihat datanya memang mulai turun, tetapi malaria di Hanura belum selesai. Selama tempat perindukan nyamuk masih banyak, potensi penularan tetap ada. Karena itu kami terus memperkuat surveilans, penemuan kasus, dan pengobatan sedini mungkin," pungkasnya.(*)

Editor: Muhammad Furqon


Comment

Berita Terkait


Tambak Terlantar Jadi Pemicu Malaria di Pesis ...

MOMENTUM, Telukpandan – Kabupaten Pesawaran menjadi salah satu ...


Malaria di Pesawaran Masih Tinggi, Kuwarta I ...

MOMENTUM, Bandarlampung--Wakil Bupati Pesawaran Antonius Muhammad ...


Pesawaran Jadi Fokus Percepatan Eliminasi Mal ...

MOMENTUM, Bandarlampung--Pemerintah Provinsi Lampung memfokuskan ...


Purheri Gelar Sunatan Massal Gratis di Selaga ...

MOMENTUM, Selagailingga — Anggota Komisi IV Fraksi PKB DPRD Kab ...


E-Mail: harianmomentum@gmail.com