MOMENTUM, Bandarlampung – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendukung Provinsi Lampung menjadi klaster industri pangan nasional berbasis singkong. Dukungan tersebut diberikan untuk mengoptimalkan potensi produksi singkong Lampung yang mencapai lebih dari 7,5 juta ton pada 2025 melalui penguatan program hilirisasi.
Hal itu disampaikan dalam kegiatan Penguatan Hilirisasi dan Daya Saing Industri Pangan dan Olahan Singkong di Bandarlampung, Kamis (16/7/2026).
Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mengatakan hilirisasi menjadi strategi utama meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan sekaligus memperkuat daya saing industri pangan daerah.
"Hilirisasi merupakan jalan utama untuk mentransformasikan perekonomian daerah. Hilirisasi bukan sekadar membangun industri pengolahan, tetapi membangun ekosistem yang menghubungkan sektor pertanian, industri, dan perdagangan dalam satu rantai nilai yang saling menguatkan," katanya.
Jihan menjelaskan, struktur ekonomi Lampung masih didominasi sektor pertanian dengan kontribusi 24 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), sedangkan industri pengolahan menyumbang 19,11 persen.
Menurutnya, besarnya potensi tersebut harus diikuti peningkatan kapasitas industri agar komoditas tidak lagi dijual dalam bentuk bahan mentah, sehingga nilai tambah dapat dinikmati petani, pelaku usaha, dan masyarakat.
Ia menambahkan, Lampung memiliki dukungan infrastruktur strategis berupa Jalan Tol Trans Sumatera, pelabuhan, jaringan kereta api, serta Bandara Radin Inten II yang memperkuat pengembangan industri berbasis agro.
Untuk memperkuat ekosistem hilirisasi, Pemprov Lampung menyiapkan pembangunan Cassava Center sebagai pusat riset singkong pertama di Indonesia. Pemerintah juga mendorong pembangunan pabrik bioetanol berbahan baku singkong bersama PTPN.
Selain itu, Pemprov Lampung mengusulkan program industrialisasi mocaf terintegrasi berbasis klaster sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN). Pengembangan sentra industri kecil dan menengah (IKM) mocaf di Kabupaten Pringsewu diharapkan menjadi contoh hilirisasi yang mampu menciptakan lapangan kerja.
Sementara itu, Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menilai Lampung telah memiliki seluruh prasyarat menjadi klaster industri pangan nasional.
"Posisi strategis, kekuatan sektor pertanian, serta infrastruktur yang memadai menjadikan Lampung sangat potensial mengembangkan hilirisasi berbasis agro," ujarnya.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita mengatakan rangkaian kegiatan tersebut meliputi sosialisasi hilirisasi bagi 80 peserta, workshop keamanan pangan untuk 30 pelaku IKM, serta diseminasi program restrukturisasi mesin bagi 120 pelaku usaha.(*)
Editor: Muhammad Furqon
E-Mail: harianmomentum@gmail.com