Kampung di Tepi Laut: Penjaga Sunyi Surga Bernama Pahawang

Tanggal 02 Agu 2026 - Laporan Majid Lintang - 91 Views

Bag. 3 

Oleh: Majid Lintang 

MENJELANG sore, ketika rombongan wisatawan mulai meninggalkan Pasir Timbul, Pulau Pahawang memperlihatkan wajahnya yang lain. Wajah yang tak selalu masuk ke dalam bingkai kamera.

Di balik pantai berpasir putih dan laut sebening kristal, berdirilah sebuah kampung sederhana. Rumah-rumah panggung berjajar menghadap laut. Sebagian berdinding kayu, sebagian lagi telah berubah menjadi bangunan permanen, tetapi hampir semuanya memiliki beranda yang menghadap ke arah perairan.

Di sana, laut bukanlah pemandangan.

Laut adalah halaman depan.

Anak-anak tumbuh bersama suara ombak. Mereka belajar berenang bahkan sebelum benar-benar pandai mengayuh sepeda. Sementara para lelaki berangkat melaut ketika langit masih dipenuhi bintang, dan kembali saat matahari mulai condong ke barat dengan harapan membawa ikan yang cukup untuk dijual atau dimasak di rumah.

Perempuan-perempuan di kampung menjemur ikan asin, mengolah hasil laut menjadi hidangan sederhana, atau menyambut tamu yang menginap di homestay milik keluarga mereka. Dalam beberapa tahun terakhir, pariwisata telah memberi warna baru bagi kehidupan warga.

Jika dahulu hampir seluruh penghasilan bergantung pada hasil tangkapan laut, kini banyak keluarga memperoleh tambahan rezeki dari wisata.

Ada yang menjadi nakhoda perahu.

Ada yang membuka jasa pemandu snorkeling.

Ada yang menyewakan perlengkapan selam.

Ada pula yang memasak untuk para tamu dengan menu rumahan yang justru menjadi kenangan paling lama diingat wisatawan.

Baca Juga: Pulau Pahawang: Laut yang Mengajari Manusia Cara Mencintai Bumi (1)

Baca Juga: Menyelam ke Taman Nemo: Kota Sunyi di Dasar Laut (2)

Di salah satu rumah, aroma ikan bakar menyeruak dari dapur. Asap tipis mengepul dari tungku arang, membawa wangi bumbu yang meresap ke dalam daging ikan segar. Di atas meja telah tersaji sambal terasi, lalapan, cumi bakar, udang, serta semangkuk pindang ikan khas Lampung yang hangat.

Tak ada tata hidang mewah.

Tak ada piring porselen mahal.

Namun setiap suapan terasa memiliki cerita, karena hampir semua bahan makanan berasal dari laut yang berada hanya beberapa puluh meter dari rumah itu.

"Kalau tamu bilang makanannya enak, kami senang. Berarti mereka juga menikmati hasil laut kami," ujar seorang ibu pemilik homestay sambil tersenyum.

Senyum itu sederhana.

Namun di baliknya tersimpan rasa syukur bahwa pulau kecil mereka kini dikenal banyak orang.

Meski demikian, warga Pahawang memahami bahwa ketenaran juga membawa tantangan.

Semakin banyak wisatawan datang, semakin besar pula tanggung jawab menjaga alam. Sampah plastik yang terbawa wisatawan, karang yang patah karena terinjak, hingga jangkar perahu yang merusak dasar laut menjadi persoalan yang harus dihadapi bersama.

Karena itu, sejumlah kelompok masyarakat mulai bergerak.

Mereka menanam kembali mangrove di kawasan pesisir yang mulai tergerus abrasi. Mereka mengajak anak-anak sekolah mengenal pentingnya terumbu karang. Mereka juga mengingatkan setiap tamu agar tidak membawa pulang bintang laut, kerang hidup, atau karang sebagai cendera mata.

"Laut ini bukan warisan nenek moyang," kata seorang tokoh masyarakat suatu sore. "Laut ini pinjaman dari anak cucu kita."

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi mengandung kebijaksanaan yang lahir dari kehidupan pesisir.

Sebab masyarakat Pahawang tahu, alam selalu memberi kepada mereka yang menjaganya.

Di ujung pulau, hutan mangrove berdiri seperti pagar hijau yang memeluk garis pantai. Akar-akarnya menjulur ke dalam lumpur, menjadi tempat berlindung bagi kepiting, udang kecil, ikan-ikan muda, dan berbagai biota yang kelak akan memenuhi laut lepas.

Mangrove mungkin tidak sepopuler Taman Nemo.

Ia tidak berwarna-warni seperti terumbu karang.

Namun tanpanya, pantai perlahan akan terkikis ombak. Tanpanya, banyak ikan kehilangan tempat tumbuh sebelum cukup besar untuk mengarungi laut.

Alam selalu menyusun keseimbangannya sendiri.

Dan manusia sering kali baru menyadari nilainya ketika keseimbangan itu mulai hilang.

Malam turun perlahan di Pulau Pahawang.

Lampu-lampu rumah memantulkan cahaya ke permukaan laut yang tenang. Di kejauhan, beberapa perahu nelayan tampak seperti kunang-kunang yang mengapung di atas air. Angin malam membawa aroma garam dan suara ombak yang memecah pantai dengan irama lembut.

Di beranda homestay, langit penuh bintang terbentang tanpa terhalang gedung-gedung tinggi.

Sesekali terdengar tawa wisatawan yang berbincang dengan warga, berbagi cerita tentang perjalanan, tentang kota-kota yang sibuk, dan tentang pulau kecil yang mengajarkan bahwa kebahagiaan ternyata bisa sesederhana secangkir kopi panas, ikan bakar yang baru diangkat dari bara, serta angin laut yang berembus tanpa pernah meminta imbalan.

Mungkin itulah sebabnya banyak orang datang ke Pahawang dengan niat berlibur.

Namun mereka pulang membawa sesuatu yang jauh lebih berharga.

Sebuah kesadaran bahwa surga tidak selalu berada di tempat yang jauh.

Kadang-kadang ia bersembunyi di sebuah pulau kecil, dijaga oleh orang-orang sederhana yang setiap hari merawat laut dengan cinta, agar birunya tetap dapat dinikmati oleh mereka yang belum sempat datang, dan oleh generasi yang bahkan belum dilahirkan.(*)

Editor: Muhammad Furqon


Comment

Berita Terkait


Kampung di Tepi Laut: Penjaga Sunyi Surga Ber ...

Bag. 3 Oleh: Majid Lintang MENJELANG sore, ketika rombo ...


Menyelam ke Taman Nemo: Kota Sunyi di Dasar L ...

Bag. 2 Oleh: Majid Lintang "JANGAN berdiri di atas kara ...


Sambut HUT RI ke-81, Holiday Inn Bukit Randu ...

MOMENTUM, Bandarlampung--Menyambut peringatan Hari Ulang Tahun (H ...


Pulau Pahawang: Laut yang Mengajari Manusia C ...

Bag. 1Oleh: Majid Lintang FAJAR baru saja membuka matanya ke ...


E-Mail: harianmomentum@gmail.com