MOMENTUM, Brajaselebah--Harga kambing di sejumlah wilayah Kabupaten Lampung Timur anjlok hingga sekitar 50 persen. Kondisi tersebut membuat peternak terpaksa menjual ternaknya jauh di bawah harga normal.
Penurunan harga mulai dirasakan sejak Lebaran Idul Adha 2026 dan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda membaik. Harga berbagai jenis kambing, seperti domba atau gibas, peranakan etawa, dan rambon, bahkan semakin murah.
Pemilik ternak yang kambingnya digaduhkan, Zainudin, mengatakan harga domba atau gibas usia sapih sekitar tiga bulan yang sebelumnya mencapai Rp600 ribu per ekor kini hanya sekitar Rp300 ribu.
Sementara kambing jenis rambon dewasa yang sebelumnya hampir Rp2 juta per ekor kini dihargai di bawah Rp1 juta.
“Yang biasanya Rp600 ribu, sekarang paling Rp300 ribuan,” kata Zainudin, warga Brajaharjosari, Kecamatan Brajaselebah, Lampung Timur, Ahad (9/8/2026).
Kondisi lebih parah dialami peternak lain yang terpaksa menjual 40 ekor kambing seharga Rp11 juta. Dengan harga tersebut, rata-rata satu ekor hanya dihargai Rp275 ribu.
Menurut Zainudin, anjloknya harga kambing terjadi hampir di seluruh wilayah di Lampung Timur. Kondisi serupa juga diinformasikan terjadi di sejumlah kabupaten lain, seperti Tulangbawang, Mesuji, dan Pringsewu.
Ia menyebut kesulitan mendapatkan pakan akibat kemarau panjang menjadi salah satu persoalan yang dihadapi peternak. Di sisi lain, jumlah pembeli juga menurun sehingga peternak semakin kesulitan menjual ternaknya dengan harga layak.
Kondisi ekonomi masyarakat yang belum membaik dinilai turut memengaruhi daya beli.
“Mungkin sekarang orang sudah jarang beli sate kambing,” ujarnya berseloroh.
Menurut peternak, persoalan tersebut membutuhkan perhatian pemerintah. Hingga kini, mereka belum melihat langkah yang dapat membantu mengatasi anjloknya harga dan persoalan pakan yang dihadapi.
Padahal, bagi petani, kambing bukan sekadar ternak, tetapi juga menjadi salah satu sumber dana cepat ketika membutuhkan biaya untuk keperluan mendesak, termasuk pendidikan anak, kebutuhan rumah tangga, dan keperluan lainnya.
Kambing selama ini menjadi semacam tabungan bagi sebagian petani. Ketika membutuhkan uang, ternak dapat dijual sewaktu-waktu. Namun, anjloknya harga membuat nilai aset tersebut ikut turun.
Karena itu, peternak berharap pemerintah mencarikan solusi terhadap sedikitnya dua persoalan utama, yakni ketersediaan pakan dan pasar.
Selain membantu mengatasi persoalan pakan, pemerintah diharapkan dapat membuka akses pasar dan menjaga kestabilan harga agar usaha ternak rakyat tetap memiliki nilai ekonomi.
Bagi peternak kecil, pilihan kini semakin sulit: mempertahankan kambing dengan biaya pakan yang terus membebani atau menjualnya dengan harga murah.
“Kalau dijual sekarang rugi, kalau dipelihara juga biaya pakannya berat,” keluhnya.(*)
Editor: Muhammad Furqon
E-Mail: harianmomentum@gmail.com