Lahan Terbakar di Lampung Capai 4.800 Hektare, TN Way Kambas Terdampak 802,6 Hektare

Tanggal 26 Agu 2026 - Laporan Harian Momentum - 86 Views
Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan Provinsi Lampung di Ruang Pusdalops Kantor BPBD Provinsi Lampung, Rabu (26/8/2026). Foto: Ist.

MOMENTUM, Bandarlampung--Luas lahan terbakar di Provinsi Lampung mencapai sekitar 4.800 hektare hingga 25 Agustus 2026. Angka tersebut tercatat Kementerian Kehutanan di tengah kondisi kemarau yang masih berpotensi berlangsung hingga Oktober.

Kepala BPBD Provinsi Lampung Rudy Sjawal Sugiarto mengatakan kondisi kering terutama perlu diwaspadai di wilayah Lampung bagian utara, timur, dan tengah.

“Musim kemarau ini masih berpotensi berlangsung sampai Oktober, terutama di Lampung bagian utara, timur dan tengah,” ujar Rudy dalam Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan Provinsi Lampung, Rabu (26/8/2026).

Ancaman kebakaran juga terjadi di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah titik kebakaran muncul di kawasan tersebut dengan total area terdampak mencapai sekitar 802,6 hektare.

Kepala Balai TNWK MHD Zaidi mengatakan kebakaran pertama terjadi pada 21-22 Agustus 2026 di wilayah Desa Braja Harjosari. Luas area yang terbakar mencapai 673,4 hektare.

Kebakaran tersebut berhasil dipadamkan pada 22 Agustus melalui operasi gabungan sekitar 250 personel yang terdiri atas petugas TNWK, TNI, Polri, pemerintah daerah, masyarakat peduli api, masyarakat mitra polhut, kelompok tani hutan, dan masyarakat sekitar kawasan.

Kebakaran kembali terjadi pada 23 Agustus di Desa Braja Luhur dengan luas sekitar 123 hektare.

“Vegetasi kawasan terbakar pada umumnya adalah alang-alang. Jadi alhamdulillah sampai saat ini hutan primer maupun hutan sekunder kita belum ada yang terbakar,” kata Zaidi.

Sementara itu, kebakaran pada 24 Agustus terjadi di kawasan Resort Rantau Jaya, Lampung Tengah, dengan luas area terbakar sekitar 6,2 hektare. Api berhasil dipadamkan dalam waktu sekitar tiga hingga empat jam.

Meski sebagian besar vegetasi yang terbakar berupa alang-alang, penanganan karhutla di TNWK menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya keterbatasan sumber air karena sungai dan rawa di dalam kawasan mulai mengering.

Akses menuju lokasi kebakaran juga menjadi persoalan. Sejumlah titik tidak dapat dijangkau kendaraan sehingga petugas harus menyeberangi sungai dan berjalan kaki menuju lokasi.

Kondisi cuaca kering yang disertai angin kencang turut membuat api di kawasan alang-alang bergerak cepat.

Keterbatasan peralatan menjadi persoalan lain. Dari tujuh mesin pompa yang dimiliki TNWK, hanya dua yang berada dalam kondisi baik. Pada penanganan kebakaran terbaru, hanya satu mesin pompa yang dapat digunakan.

“Kita punya 44 personel polhut untuk luasan 125.000 hektare. Yang kita punya 17 personel Manggala Agni. Nah, ini juga dengan peralatan seadanya, dan APD-nya juga kurang memadai,” ujar Zaidi.

Untuk mendukung penanganan kebakaran, TNWK memiliki lima kendaraan roda empat, tujuh sepeda motor, dan tujuh mesin pompa. Namun, hanya tiga kendaraan roda empat yang dapat dioperasikan untuk penanggulangan kebakaran.

Zaidi mengatakan kondisi tersebut membuat dukungan lintas instansi menjadi sangat penting. Ia mengapresiasi pembentukan posko bersama serta dukungan pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Lampung, termasuk bantuan helikopter water bombing.

Selain faktor cuaca, TNWK menemukan sejumlah aktivitas masyarakat yang berpotensi memicu kebakaran. Di antaranya pengambilan rumput di dalam kawasan, perburuan ilegal yang menggunakan pembakaran untuk menarik satwa, serta pembukaan jalur dengan cara membakar vegetasi bawah.

Untuk mencegah kebakaran meluas, TNWK melakukan patroli dan deteksi dini bersama TNI dan Polri. Penegakan hukum juga diperkuat terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

Zaidi mendorong penguatan edukasi kepada masyarakat serta penyediaan alternatif pakan ternak agar warga tidak perlu mengambil rumput dengan cara membakar kawasan.

Sementara itu, berdasarkan data BPBD Lampung, hingga 25 Agustus 2026 terdapat 194 titik panas di Lampung. Sebanyak 28 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi, 164 sedang, dan dua rendah.

Pada 26 Agustus 2026 hingga pukul 08.20 WIB, BPBD mencatat 50 hotspot, terdiri atas 47 titik dengan tingkat kepercayaan rendah dan tiga titik dengan tingkat kepercayaan sedang. Tidak terdapat hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi pada pembaruan tersebut.

Di tengah ancaman tersebut, Lampung mendapat dukungan operasi modifikasi cuaca dari BNPB yang berlangsung 25-30 Agustus 2026 pada tahap pertama. Selain itu, dua helikopter water bombing disiagakan di Bandara Radin Inten II untuk membantu penanganan kebakaran di wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.(*)

Editor: Muhammad Furqon


Comment

Berita Terkait


Gubernur Mirza Dorong Penguatan SDM Desa Lewa ...

MOMENTUM, Bandarlampung — Pemerintah Provinsi Lampung mendorong ...


Pemkab Tulangbawang Barat Perkuat Tata Kelola ...

MOMENTUM, Panaragan — Pemerintah Kabupaten Tulangbawang Barat ( ...


BPBD Pesawaran Larang Warga Bakar Lahan, Pela ...

MOMENTUM, Gedongtataan — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (B ...


Lahan Terbakar di Lampung Capai 4.800 Hektare ...

MOMENTUM, Bandarlampung--Luas lahan terbakar di Provinsi Lampung ...


E-Mail: harianmomentum@gmail.com