Kampoeng Vietnam: Ketika Bandarlampung Terlihat dari Jauh

Tanggal 01 Sep 2026 - Laporan Majid Lintang - 186 Views
Kampoeng Vietnam, di Sumberagung, Kecamatan Kemiling, Bandarlampung. Foto: Ist.

Naik ke bukit, meninggalkan riuh kota, lalu membiarkan angin dan cahaya sore bercerita.

Oleh: Majid Lintang 

ADA cara sederhana untuk membuat sebuah kota terasa jauh: naiklah ke bukit.

Bandarlampung, dengan jalan-jalannya yang sibuk, kendaraan yang berkejaran, toko-toko yang tak pernah benar-benar tidur, dan suara klakson yang sesekali memecah sore, mendadak berubah ketika dilihat dari ketinggian.

Dari Kampoeng Vietnam, di Sumberagung, Kecamatan Kemiling, kota itu seperti sebuah lukisan yang diletakkan di bawah sana.

Jauh.

Tenang.

Dan untuk beberapa saat, terasa bukan milik siapa-siapa.

Kampoeng Vietnam berada di kawasan perbukitan kaki Gunung Betung. Pemerintah pariwisata mencatat destinasi ini mulai beroperasi pada 2021. Kawasan Sumberagung sendiri merupakan bagian dari desa wisata yang menjadi penyangga kawasan konservasi Tahura Wan Abdul Rachman.

Di sinilah perjalanan kecil itu dimulai.

Bukan perjalanan yang membutuhkan koper.

Cukup kendaraan, waktu luang, dan sedikit kesediaan untuk meninggalkan keramaian.

Jalan yang Membawa Kita Naik

Menuju Kampoeng Vietnam berarti meninggalkan perlahan wajah Bandarlampung yang selama ini dikenal.

Jalan kota berganti jalan yang lebih lengang. Bangunan-bangunan mulai jarang. Pepohonan semakin banyak. Udara pun berubah.

Di kawasan Sumberagung, perjalanan membawa wisatawan menuju lanskap yang lebih hijau. Kampoeng Vietnam tercatat beralamat di kawasan Jalan Teuku Cik Ditiro/Jalan Wan Abdurrahman, Sumberagung, Kemiling.

Perjalanan menuju tempat ini bukan tanpa cerita.

Sebuah penelitian Universitas Lampung pada 2025 mencatat akses menuju Kampoeng Vietnam berada dalam kategori sedang. Sebagian responden menyebut jalan bergelombang dan terdapat ruas aspal berlubang. Sebanyak 75 persen responden menempuh perjalanan kurang dari satu jam.

Barangkali justru di situlah wisata dimulai.

Sebab perjalanan yang terlalu mudah kadang membuat kita lupa bahwa tempat yang dituju berada di dunia yang berbeda.

Bukit, Angin, dan Kota di Bawah Sana

Kampoeng Vietnam tidak menjual kemegahan gedung.

Ia menjual sesuatu yang lebih sederhana: jarak pandang.

Dari ketinggian, perbukitan menjadi halaman depan. Pepohonan membentuk hamparan hijau. Pada cuaca tertentu, lanskap kota dan laut dapat menjadi latar yang membentang di kejauhan.

Dinas Pariwisata Kota Bandarlampung menyebut pemandangan alam dari ketinggian sebagai salah satu daya tarik utama kawasan ini.

Maka jangan datang ke sini hanya untuk mengejar foto.

Duduklah.

Diam beberapa menit.

Biarkan mata bekerja tanpa kamera.

Sebab ada pemandangan yang baru terasa indah setelah kita berhenti berusaha mengabadikannya.

Jembatan Kaca dan Keberanian yang Tipis

Lalu ada jembatan kaca.

Sebuah konstruksi yang secara sederhana sebenarnya hanya tempat untuk berjalan. Tetapi ketika lantainya transparan dan berada di ketinggian, langkah manusia tiba-tiba menjadi lebih berhati-hati.

Satu kaki maju.

Berhenti.

Melihat ke bawah.

Kemudian tertawa sendiri karena ternyata kita masih memiliki rasa takut.

Jembatan kaca menjadi salah satu spot foto yang paling dikenal di Kampoeng Vietnam. Selain itu terdapat rumah kaca dan sejumlah area yang dirancang sebagai latar swafoto.

Di tempat semacam ini, kamera sering kali menjadi saksi keberanian.

Atau mungkin saksi kepura-puraan.

Sebab banyak orang terlihat sangat berani di depan kamera, meski lima detik sebelumnya masih berpegangan pada pagar.

Wisata yang Tidak Terburu-buru

Kampoeng Vietnam bukan semata-mata tempat untuk berfoto.

Ada kafe dan restoran. Ada tempat duduk untuk bersantai. Ada mushala, toilet, area parkir, permainan anak, bahkan penginapan. Pemerintah Kota Bandarlampung mencatat sejumlah fasilitas tersebut sebagai bagian dari destinasi.

Karena itu, tempat ini bisa dinikmati dengan cara yang berbeda-beda.

Anak-anak bermain.

Orang tua duduk mengawasi.

Pasangan mencari sudut terbaik untuk memotret senja.

Sekelompok anak muda sibuk memilih tempat paling fotogenik.

Sementara seseorang yang datang sendirian mungkin hanya ingin menikmati kopi sambil memandangi kota.

Semua memiliki alasan masing-masing.

Dan bukit tidak pernah bertanya apa alasan kita datang.

Menunggu Matahari Pulang

Waktu terbaik di Kampoeng Vietnam barangkali bukan ketika matahari sedang tinggi.

Melainkan ketika ia mulai turun.

Cahaya yang tadinya keras berubah lembut. Bukit-bukit memperoleh warna keemasan. Bayangan pohon memanjang. Langit perlahan berganti warna.

Kota di bawah sana mulai menyalakan lampu.

Satu.

Kemudian satu lagi.

Lalu semakin banyak.

Dari ketinggian, Bandarlampung terlihat seperti hamparan cahaya yang perlahan tumbuh.

Pada saat seperti itu, seseorang mungkin tidak lagi membutuhkan wahana.

Tidak membutuhkan jembatan kaca.

Tidak membutuhkan properti foto.

Cukup sebuah kursi dan pandangan yang tidak tergesa-gesa.

Nama Vietnam, Sebuah Jejak yang Mengundang Tanya

Nama Kampoeng Vietnam tentu membuat orang bertanya-tanya.

Mengapa Vietnam?

Nama itu memberikan identitas tersendiri bagi destinasi ini. Namun wisatawan sebaiknya tidak buru-buru menyamakan Kampoeng Vietnam di Kemiling dengan kawasan pengungsi Vietnam di Pulau Galang, Batam.

Keduanya merupakan tempat yang berbeda.

Kampoeng Vietnam Lampung kini lebih dikenal sebagai destinasi wisata alam dan rekreasi di kawasan perbukitan Sumberagung.

Dan mungkin begitulah sebuah nama bekerja.

Ia tidak selalu memberikan seluruh jawaban.

Kadang justru membuka pintu untuk pertanyaan.

Sumberagung dan Negeri Kecil di Kaki Gunung

Yang menarik, Kampoeng Vietnam sebenarnya hanya satu bagian dari lanskap wisata Sumberagung.

Desa Wisata Sumberagung berada di kaki Gunung Betung dan menjadi penyangga kawasan Tahura Wan Abdul Rachman. Potensi wisatanya tidak hanya berupa panorama, tetapi juga perkebunan kopi, kemiri, karet, pengolahan gula aren, kebun organik dan produk UMKM masyarakat.

Dengan kata lain, perjalanan ke Kampoeng Vietnam sebenarnya bisa menjadi pintu masuk menuju cerita yang lebih besar.

Cerita tentang desa.

Tentang kebun.

Tentang hutan.

Tentang masyarakat yang hidup di antara kota dan gunung.

Tentang bagaimana sebuah kawasan yang dulu mungkin hanya dipandang sebagai pinggiran, perlahan berubah menjadi tujuan perjalanan.

Ketika Kota Menjadi Pemandangan

Ada sesuatu yang menarik dari wisata di ketinggian.

Di bawah, manusia sibuk mengejar waktu.

Di atas, waktu seperti kehilangan kekuasaannya.

Kampoeng Vietnam menawarkan pengalaman sederhana itu.

Kita datang dari kota dengan kepala penuh suara.

Lalu naik.

Semakin tinggi, suara kendaraan semakin jauh.

Digantikan angin.

Pepohonan.

Burung.

Dan percakapan orang-orang yang datang untuk mencari sedikit ketenangan.

Pada akhirnya, mungkin itulah alasan orang pergi berwisata.

Bukan selalu untuk menemukan tempat baru.

Kadang hanya untuk menemukan kembali dirinya sendiri.

Datanglah Menjelang Sore

Kampoeng Vietnam kini memiliki fasilitas yang cukup lengkap untuk wisata keluarga, mulai dari area parkir, toilet, mushala, restoran, spot foto hingga wahana bermain dan penginapan.

Namun jika hanya memiliki waktu beberapa jam, datanglah menjelang sore.

Jangan terlalu cepat pulang.

Berjalanlah ke salah satu titik pandang.

Cari kursi.

Pesan minuman.

Kemudian tunggu.

Tunggu sampai matahari turun.

Tunggu sampai langit berubah warna.

Tunggu sampai lampu-lampu Bandarlampung menyala.

Pada akhirnya, Anda mungkin akan menyadari bahwa yang paling menarik dari Kampoeng Vietnam bukanlah jembatan kacanya.

Bukan pula wahana foto.

Melainkan kesempatan untuk melihat sebuah kota dari jarak yang berbeda.

Sebab dari atas bukit, kota tampak kecil.

Dan masalah-masalah kita, entah mengapa, kadang ikut mengecil bersamanya.

Kampoeng Vietnam bukan sekadar tempat untuk berfoto. Ia adalah tempat untuk berhenti sebentar—sebelum kembali turun dan menghadapi kota.(*)

Editor: Muhammad Furqon


Comment

Berita Terkait


Kampoeng Vietnam: Ketika Bandarlampung Terlih ...

Naik ke bukit, meninggalkan riuh kota, lalu membiarkan angin dan ...


Armada Guncang Lapangan Saburai, Tutup Festiv ...

MOMENTUM, Bandarlampung--Penampilan Armada Band menjadi penutup m ...


Kreativitas Budaya Memukau, Ini Daftar Pemena ...

MOMENTUM , Bandarlampung--Puncak rangkaian Lampung Tapis Karnaval ...


Gubernur Lampung: Festival Krakatau Harus Ger ...

MOMENTUM, Bandarlampung--Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal ...


E-Mail: harianmomentum@gmail.com