Jamu Kiringan: Menjaga Warisan Lokal, Membuka Ruang Inovasi

Tanggal 01 Sep 2026 - Laporan Harian Momentum. - 176 Views
Amelia Zahra Sabila

Oleh: Amelia Zahra Sabila*)

AROMA jahe, kencur, kunyit, temulawak, dan berbagai rempah begitu lekat dengan kehidupan masyarakat Kiringan, Jetis, Bantul. Bagi sebagian orang, aroma itu mungkin hanya mengingatkan pada minuman jamu. Namun, bagi masyarakat Kiringan, rempah-rempah menyimpan cerita yang jauh lebih panjang. Di dalamnya terdapat pengetahuan, keterampilan, tradisi, sekaligus identitas lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Tradisi jamu di Kiringan berkembang sejak sekitar 1950 melalui Ibu Joparto yang dikenal sebagai peracik sekaligus penjual jamu. Kebiasaan tersebut kemudian diikuti dan diteruskan masyarakat sekitar hingga berkembang menjadi tradisi jamu gendong yang melekat pada identitas Kiringan.

Namun, mempertahankan tradisi di tengah perubahan zaman bukan perkara mudah. Berbagai produk minuman hadir dengan kemasan menarik, penyajian praktis, dan promosi yang agresif. Jamu tradisional pun menghadapi tantangan untuk tetap dikenal dan diminati, terutama oleh generasi muda.

Persoalannya, karena itu, bukan sekadar bagaimana mempertahankan keberadaan jamu, tetapi bagaimana membuatnya tetap relevan.

Pelestarian tidak harus berarti membekukan tradisi dalam bentuk lama. Nilai dan karakter yang menjadi identitas jamu memang perlu dipertahankan, tetapi cara mengembangkannya dapat menyesuaikan perkembangan zaman. Kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan akar budaya justru dapat menjadi kekuatan untuk menjaga tradisi tetap hidup.

Pemikiran tersebut semakin kuat setelah penulis mengikuti kegiatan magang di Unoi Mandiri, Kiringan, selama kurang lebih dua bulan, mulai 24 Juni hingga 25 Agustus 2026. Selama magang, penulis terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari mempersiapkan bahan, mengolah jamu dan wedang uwuh, membantu pengemasan, menanam tanaman obat di kebun TOGA, hingga mengikuti pelatihan hilirisasi inovasi jamu dan penguatan branding Desa Wisata Jamu Kiringan.

Dari pengalaman tersebut terlihat bahwa perjalanan sebuah produk jamu tidak dimulai ketika minuman siap disajikan. Prosesnya jauh lebih panjang, dimulai dari ketersediaan bahan baku, pengolahan, pengemasan, hingga bagaimana produk diperkenalkan kepada konsumen.

Tradisi yang Beradaptasi

Jahe, kencur, kunyit, temulawak, daun secang, kayu manis, cengkeh, dan kapulaga merupakan sejumlah bahan yang digunakan dalam pengolahan jamu dan wedang uwuh. Sebelum menjadi produk, bahan-bahan tersebut harus dipersiapkan dan diolah dengan cara tertentu.

Sekilas proses itu tampak sederhana. Namun, di baliknya terdapat pengetahuan lokal mengenai pemanfaatan tanaman obat yang telah bertahan melalui praktik masyarakat secara turun-temurun.

Menariknya, pemanfaatan tanaman obat di Kiringan tidak berhenti pada produk jamu yang selama ini dikenal. Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah es krim beras kencur.

Kencur yang selama ini identik dengan jamu dihadirkan dalam bentuk berbeda. Bagi penulis, inovasi tersebut menunjukkan bahwa mempertahankan tradisi tidak selalu berarti menolak perubahan. Bahan dan karakter tradisional tetap dipertahankan, sementara bentuk pengolahannya dikembangkan agar lebih dekat dengan selera masyarakat masa kini.

Tentu inovasi bukan satu-satunya cara agar jamu bertahan. Namun, inovasi membuka peluang untuk memperluas pasar sekaligus memperkenalkan produk tradisional melalui cara yang lebih beragam.

Tanaman obat tidak harus selalu hadir dalam bentuk yang sama dari satu generasi ke generasi berikutnya. Selama nilai, identitas, dan akar tradisinya tetap terjaga, perubahan bentuk produk justru dapat menjadi strategi untuk mempertahankan keberadaan jamu.

Dengan begitu, inovasi bukan lawan tradisi. Keduanya dapat menjadi jembatan antara warisan masa lalu dan kebutuhan masyarakat masa kini.

Kemasan Juga Bercerita

Pengembangan jamu tidak berhenti pada proses produksi. Cara sebuah produk diperkenalkan kepada konsumen juga menentukan bagaimana produk tersebut dipandang.

Selama kegiatan magang, penulis turut membantu memasang stiker pada kemasan. Pekerjaan sederhana itu membutuhkan ketelitian agar kemasan terlihat rapi dan identitas produk dapat terbaca dengan jelas.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kemasan bukan sekadar pembungkus. Kemasan juga menjadi bagian dari cara produk membangun kesan dan identitas di mata konsumen.

Jamu yang dibuat dengan baik perlu didukung tampilan yang mampu menarik perhatian. Sebab, di tengah banyaknya pilihan produk, konsumen tidak hanya mempertimbangkan isi, tetapi juga bagaimana sebuah produk diperkenalkan.

Hal ini berkaitan dengan kegiatan Pelatihan dan Sosialisasi Hilirisasi Inovasi Jamu Berbasis Tanaman Obat Keluarga (TOGA), termasuk optimalisasi rumah produksi Kelompok Jamu Gendong Marguna dan penguatan branding Desa Wisata Jamu Kiringan.

Menurut penulis, langkah tersebut penting. Pengembangan jamu tidak cukup berhenti pada kemampuan meracik bahan. Produk juga membutuhkan pengemasan, identitas, strategi pengenalan, dan pemasaran yang mampu memperluas jangkauan konsumen.

Dimulai dari Kebun

Keberlanjutan jamu juga bergantung pada ketersediaan bahan baku. Karena itu, pengembangan tidak semestinya hanya berfokus pada produk jadi.

Selama kegiatan magang, dilakukan penanaman jahe, kencur, dan kunyit dalam polybag di kebun TOGA. Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa proses menghasilkan produk berbasis tanaman obat dapat dimulai dari tahap budidaya.

Kebun TOGA bukan hanya tempat menanam. Lebih dari itu, kebun dapat menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat untuk mengenal kembali berbagai tanaman obat sekaligus menjaga ketersediaan bahan baku.

Dengan demikian, rantai pengembangan jamu dapat dimulai dari tanah, berlanjut ke proses produksi, kemudian bergerak menuju pengemasan dan pemasaran.

Ketika Sains Bertemu Pengetahuan Lokal

Sebagai mahasiswa Pendidikan Kimia, kegiatan tersebut juga memberikan pengalaman menarik mengenai hubungan antara pengetahuan masyarakat dan konsep ilmiah yang dipelajari di perguruan tinggi.

Ketika bahan dipotong menjadi bagian lebih kecil, misalnya, luas permukaannya berubah dan dapat memengaruhi proses pengolahan. Begitu pula ketika tanaman diolah menggunakan air, terjadi proses pelarutan dan ekstraksi yang memungkinkan sebagian komponen bahan berpindah ke dalam pelarut.

Proses tersebut turut memengaruhi karakter produk, seperti warna, aroma, dan rasa.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Konsep yang dipelajari di ruang kuliah dapat ditemukan dalam aktivitas pengolahan bahan yang terlihat sederhana.

Sebaliknya, pengetahuan lokal juga dapat menjadi sumber pengalaman untuk memahami konsep ilmiah secara lebih konkret.

Karena itu, jamu layak dipandang lebih luas. Ia bukan sekadar minuman tradisional, melainkan juga bagian dari pengetahuan lokal, pemanfaatan sumber daya alam, aktivitas ekonomi, pendidikan, dan identitas daerah.

Kiringan telah memiliki fondasi yang kuat. Tantangannya adalah memastikan fondasi tersebut tetap kokoh ketika berbagai inovasi dikembangkan.

Meracik Warisan, Menyajikan Masa Depan

Pada akhirnya, tantangan terbesar bukan memilih antara tradisi atau inovasi, melainkan menemukan titik temu di antara keduanya.

Inovasi semestinya tidak menghilangkan karakter jamu. Sebaliknya, inovasi dapat membantu menghubungkan warisan lama dengan kebutuhan masyarakat hari ini.

Es krim beras kencur, pengembangan produk, pembaruan kemasan, budidaya TOGA, hingga penguatan branding menunjukkan bahwa tradisi dapat dipertahankan sekaligus dikembangkan.

Jamu Kiringan memiliki peluang besar untuk terus bertahan apabila generasi berikutnya tidak hanya mengenalnya sebagai warisan masa lalu, tetapi juga melihatnya sebagai sesuatu yang masih relevan, bernilai, dan layak dikembangkan.

Menjaga jamu pada akhirnya bukan sekadar memastikan sebuah racikan terus dibuat. Yang lebih penting adalah memastikan pengetahuan dan nilai yang terkandung di dalamnya tidak terputus.

Meracik warisan berarti merawat pengetahuan, keterampilan, dan identitas yang telah dibangun oleh generasi sebelumnya. Sementara menyajikan masa depan berarti memberi ruang bagi gagasan baru agar tradisi dapat terus bergerak mengikuti zaman.

Jamu Kiringan telah tumbuh melalui proses panjang yang diwariskan masyarakat. Masa depannya akan sangat bergantung pada kemampuan menjaga akar sembari membuka ruang bagi inovasi.

Sebab, warisan tidak akan hidup hanya karena dikenang. Warisan akan tetap hidup ketika terus dipraktikkan, dirawat, dan dikembangkan.(*)

*Amelia Zahra Sabila - Mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Editor: Muhammad Furqon


Comment

Berita Terkait


Jamu Kiringan: Menjaga Warisan Lokal, Membuka ...

Oleh: Amelia Zahra Sabila*)AROMA jahe, kencur, kunyit, temulawak, ...


NU dan Tenunan Kebangsaan: Merawat Islam yang ...

(Catatan Kecil dari Sahabat aktivis Muhammadiyah)Oleh: Ma'ruf Abi ...


Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepenting ...

Oleh: M Arief PranotoADA satu hal yang menarik untuk di ...


Merawat Desa Deyangan Tetap Antipolitik Uang ...

Oleh: Sarima Saharani*)DEMOKRASI sering kali diuji bukan hanya di ...


E-Mail: harianmomentum@gmail.com