Lembah Hijau: Ketika Kota Berhenti Sejenak di Lereng Gunung Betung

Tanggal 17 Sep 2026 - Laporan Harian Momentum - 255 Views
Majid Lintang

Oleh: Majid Lintang

PAGI di Bandarlampung sering dimulai dengan suara kendaraan, dering telepon, dan orang-orang yang bergegas mengejar urusan masing-masing. Namun, semakin kendaraan menanjak menuju Sukadanaham, suara kota perlahan tertinggal di belakang. Jalan mulai berkelok, pepohonan semakin rapat, dan udara terasa berbeda. Di kawasan perbukitan itulah Lembah Hijau berada—sebuah ruang rekreasi yang seakan mengajak orang kota untuk mengingat kembali bahwa alam tidak pernah benar-benar jauh.

Dari kawasan kota, perjalanan menuju Lembah Hijau seperti memasuki halaman lain Bandarlampung. Gedung dan pertokoan perlahan berganti dengan pepohonan. Bukit-bukit menjadi latar, sementara udara pegunungan menyusup melalui jendela kendaraan.

Lembah Hijau berada di Jalan Raden Imba Kusuma Ratu, Sukadanaham, Kecamatan Tanjung Karang Barat. Kawasan wisata ini dibangun di lingkungan perbukitan dengan konsep yang memadukan rekreasi keluarga, wisata alam, taman satwa, permainan air, dan aktivitas luar ruang.

Namanya memang Lembah Hijau. Tetapi yang ditawarkan bukan sekadar hamparan hijau.

Di tempat ini, seekor orangutan bisa menjadi alasan seorang anak berhenti berlari. Seekor burung yang melintas di udara dapat membuat percakapan keluarga mendadak terputus. Kolam air bisa mengubah anak-anak yang sejak pagi mengantuk menjadi pasukan kecil yang sulit diajak pulang.

Di situlah barangkali daya tarik Lembah Hijau.

Ia tidak meminta pengunjung memilih antara belajar, bermain, atau menikmati alam. Semuanya diletakkan dalam satu kawasan.

Di antara pepohonan dan satwa

Bagian taman satwa menjadi salah satu ruang yang membuat Lembah Hijau berbeda dari taman rekreasi biasa.

Di balik pepohonan dan jalur pengunjung, berbagai satwa ditempatkan dalam kawasan yang memungkinkan pengunjung melihatnya dari dekat. Orangutan, beruang madu, buaya, rusa, serta berbagai jenis burung menjadi bagian dari koleksi taman satwa.

Bagi anak-anak, pengalaman itu tentu berbeda dari melihat binatang melalui layar telepon.

Di hadapan satwa, mereka berhadapan dengan sesuatu yang hidup. Ada gerak, suara, tatapan, dan terkadang perilaku yang tidak bisa diprediksi sebagaimana video yang dapat diputar ulang.

Seorang anak mungkin datang dengan pertanyaan sederhana: Mengapa orangutan mirip manusia?

Pertanyaan semacam itu justru menjadi awal dari pengetahuan.

Wisata kemudian tidak lagi sekadar perjalanan untuk bersenang-senang. Ia berubah menjadi pengalaman kecil yang dibawa pulang dalam ingatan.

Taman satwa juga menghadirkan program seperti pertunjukan burung terbang bebas, sementara aktivitas tertentu memungkinkan pengunjung memperoleh pengalaman lebih dekat dengan satwa sesuai ketentuan pengelola.

Air yang membuat siang terasa pendek

Menjelang tengah hari, suara anak-anak biasanya mulai mendominasi kawasan waterpark.

Air menjadi magnet yang sulit ditolak.

Kolam, seluncuran, permainan air, ember tumpah, kolam arus, hingga wahana seperti Twins Boomerang menawarkan jenis kesenangan yang berbeda. Ada yang datang untuk sekadar berendam, ada yang mengejar seluncuran, sementara sebagian lainnya memilih duduk di tepi kolam sambil mengawasi anak-anak.

Air mempunyai cara sendiri untuk membuat waktu terasa pendek.

Seorang ayah yang semula berkata, “Satu jam saja,” bisa mendapati anaknya masih berdiri di depan kolam dua jam kemudian.

“Sekali lagi.”

Kalimat yang sederhana itu sering menjadi alasan kepulangan tertunda.

Di tempat seperti inilah orang tua mungkin menyadari bahwa kebahagiaan anak tidak selalu membutuhkan sesuatu yang mahal. Kadang cukup air, ruang terbuka, dan kesempatan untuk berlari tanpa terlalu banyak larangan.

Ketika keberanian diuji di arena outbound

Bagi mereka yang ingin sesuatu yang lebih menantang, kawasan outbound menawarkan pengalaman berbeda.

Permainan luar ruang mengandalkan keberanian, keseimbangan, dan kerja sama. Anak-anak belajar melewati rintangan. Kelompok belajar saling membantu. Orang dewasa pun sering kali akhirnya ikut tertawa ketika menyadari bahwa usia tidak otomatis membuat seseorang lebih berani menghadapi ketinggian.

Ada pelajaran sederhana yang sering muncul dari permainan semacam itu: seseorang mungkin tidak dapat menyelesaikan rintangan sendirian.

Tangan orang lain diperlukan.

Dan terkadang seseorang harus berkata, “Ayo, jangan takut.”

Kalimat sederhana yang di arena permainan terasa seperti dukungan, tetapi dalam kehidupan sebenarnya memiliki makna yang jauh lebih panjang.

Lembah Hijau untuk keluarga

Lembah Hijau juga menyediakan sejumlah wahana permainan keluarga seperti kereta mini, carousel, boom boom car, cinema 4D, hingga rumah hantu.

Karena itu, kawasan ini dapat dinikmati oleh anggota keluarga dengan selera berbeda.

Anak yang menyukai satwa mempunyai dunianya sendiri. Anak yang menyukai air menemukan kesenangan di waterpark. Mereka yang menyukai permainan dapat mencari wahana lain, sementara orang tua mempunyai kesempatan menikmati suasana perbukitan.

Konsep seperti ini membuat Lembah Hijau lebih menyerupai sebuah kawasan rekreasi terpadu daripada sekadar satu objek wisata.

Pengunjung datang bukan hanya untuk melihat satu atraksi, melainkan menghabiskan sebagian hari di dalam sebuah ruang yang memang dirancang untuk membuat mereka berhenti sejenak dari rutinitas.

Kota di bawah sana

Ada hal lain yang membuat kawasan perbukitan seperti Lembah Hijau menarik.

Kota selalu tampak berbeda ketika dilihat dari tempat yang lebih tinggi.

Dari kawasan Sukadanaham, Bandarlampung terasa seperti sebuah hamparan yang sibuk tetapi jauh. Jalan raya tampak mengecil, kendaraan berubah menjadi titik-titik bergerak, dan suara kehidupan perkotaan tidak lagi terdengar sekeras ketika kita berada di tengahnya.

Barangkali itulah fungsi lain sebuah tempat wisata.

Bukan sekadar membawa manusia ke tempat baru, melainkan memberi jarak agar manusia dapat melihat tempat yang lama dengan cara berbeda.

Dari bawah, kota terasa penuh.

Dari atas bukit, kota terlihat seperti sesuatu yang sedang beristirahat.

Menjelang sore

Ketika matahari mulai condong, warna hijau pepohonan berubah perlahan. Anak-anak yang sejak pagi berlarian mulai kelelahan. Pakaian renang dikemas kembali. Kamera ponsel penuh dengan foto. Botol minuman tinggal separuh, sementara orang tua mulai melakukan ritual yang hampir selalu sama: menghitung anggota keluarga sebelum meninggalkan tempat.

Ada satu anak yang biasanya masih ingin tinggal.

“Besok ke sini lagi, ya.”

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi justru di situlah sebuah perjalanan wisata memperoleh maknanya.

Tempat yang baik bukan hanya tempat yang berhasil dikunjungi.

Ia adalah tempat yang meninggalkan keinginan untuk kembali.

Lembah Hijau, di lereng Gunung Betung, menawarkan pengalaman semacam itu melalui perpaduan alam, satwa, permainan, dan air. Ia tidak menjanjikan kesunyian hutan yang sepenuhnya liar, karena sejak awal tempat ini memang dibangun sebagai kawasan rekreasi. Namun di antara suara permainan, percikan air, dan langkah pengunjung, masih tersisa sesuatu yang sering hilang dari kehidupan kota: kesempatan untuk berhenti.

Berhenti sejenak.

Memandang pepohonan.

Mendengar anak-anak tertawa.

Dan menyadari bahwa liburan kadang bukan tentang seberapa jauh seseorang pergi, melainkan tentang seberapa lama ia mampu meninggalkan kesibukan di belakang.

Di bawah rindangnya pepohonan Lembah Hijau, kota mungkin tidak benar-benar menghilang.

Ia hanya dibuat sedikit lebih jauh.

Dan dalam jarak itulah, manusia sering menemukan kembali waktu yang selama ini terasa hilang.(*)

Editor: Muhammad Furqon


Comment

Berita Terkait


Lembah Hijau: Ketika Kota Berhenti Sejenak di ...

Oleh: Majid LintangPAGI di Bandarlampung sering dimulai dengan su ...


Danau Ranau: Ketika Seminung Menjaga Air ...

Perjalanan ke Lombok Seminung bukan sekadar perjalanan menuju dan ...


Kampoeng Vietnam: Ketika Bandarlampung Terlih ...

Naik ke bukit, meninggalkan riuh kota, lalu membiarkan angin dan ...


Armada Guncang Lapangan Saburai, Tutup Festiv ...

MOMENTUM, Bandarlampung--Penampilan Armada Band menjadi penutup m ...


E-Mail: harianmomentum@gmail.com