Mengenal TSS, Parameter Sederhana untuk Membaca Kondisi Air Sungai

Tanggal 21 Sep 2026 - Laporan Harian Momentum - 189 Views

Oleh: Nida Shulhan Nisa' Zain*)

AIR sungai mungkin terlihat biasa saja. Namun, di balik warna dan kejernihannya, terdapat berbagai partikel yang dapat menggambarkan kondisi badan air tersebut. Untuk mengetahui kandungan padatan yang tersuspensi di dalam air, salah satu parameter yang dapat digunakan adalah Total Suspended Solid (TSS).

Hal tersebut menjadi salah satu pengalaman yang penulis peroleh selama menjalani magang kerja di Balai Laboratorium Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Daerah Istimewa Yogyakarta. Selama kurang lebih dua bulan, sejak 22 Juni hingga 22 Agustus 2026, penulis berkesempatan mengenal secara langsung proses analisis kualitas lingkungan, khususnya pengujian kualitas air.

Magang menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menghubungkan teori yang diperoleh selama perkuliahan dengan praktik di dunia kerja. Bagi penulis sebagai mahasiswa Pendidikan Kimia, pengalaman tersebut memberikan gambaran bahwa ilmu yang dipelajari di bangku kuliah memiliki penerapan nyata, termasuk dalam pemantauan kualitas lingkungan.

Balai Laboratorium Lingkungan DLHK DIY memiliki peran dalam mendukung pengawasan dan pemantauan kualitas lingkungan melalui pengujian berbagai parameter. Salah satu sampel yang dianalisis adalah air sungai. Setiap sampel memiliki karakteristik berbeda bergantung pada kondisi lingkungan di sekitar badan air.

### Mengenal TSS dan Proses Pengujiannya

Salah satu pengujian yang dilakukan selama kegiatan magang adalah Total Suspended Solid (TSS). TSS merupakan parameter yang digunakan untuk mengetahui jumlah padatan tersuspensi dalam air. Padatan tersebut dapat berupa lumpur, pasir halus, bahan organik, maupun partikel anorganik lainnya.

Keberadaan padatan tersuspensi berkaitan dengan tingkat kekeruhan air dan dapat menjadi salah satu parameter dalam menilai kondisi kualitas perairan. Karena itu, pengujian TSS tidak hanya menghasilkan angka, tetapi juga memberikan informasi mengenai kondisi fisik sampel air yang dianalisis.

Pengujian TSS dilakukan menggunakan metode gravimetri, yakni menentukan kadar padatan tersuspensi berdasarkan perbedaan massa media penyaring sebelum dan setelah digunakan untuk menyaring sampel.

Prosesnya dimulai dengan menimbang media penyaring untuk memperoleh berat awal. Sampel air kemudian disaring sehingga padatan tersuspensi tertahan pada media tersebut. Selanjutnya, media penyaring beserta residu dikeringkan menggunakan oven hingga mencapai berat konstan. Setelah itu, dilakukan penimbangan kembali untuk mengetahui pertambahan massa yang menunjukkan jumlah padatan tersuspensi dalam sampel.

Tahapan tersebut terlihat sederhana, tetapi membutuhkan ketelitian. Proses penyaringan, pengeringan, hingga penimbangan harus dilakukan sesuai prosedur karena perubahan massa yang relatif kecil dapat memengaruhi hasil akhir pengujian.

### Ketika Angka Menceritakan Kondisi Sungai

Hasil pengujian terhadap sejumlah sampel air sungai menunjukkan adanya perbedaan nilai TSS. Nilai yang diperoleh berada pada rentang 0–172 mg/L, dengan nilai tertinggi terdapat pada sampel 479A sebesar 172 mg/L. Sementara itu, sampel blanko dan 477B menunjukkan nilai TSS sebesar 0 mg/L.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa jumlah padatan tersuspensi pada setiap sampel tidak sama. Tingginya nilai TSS pada sampel tertentu dapat berkaitan dengan material yang terbawa ke dalam badan air, seperti tanah, lumpur, bahan organik, dan partikel lainnya.

Kondisi lingkungan di sekitar sungai juga dapat memengaruhi jumlah material tersuspensi. Aliran sungai, erosi, curah hujan, hingga aktivitas manusia di sekitar badan air merupakan beberapa faktor yang dapat berkontribusi terhadap keberadaan padatan tersuspensi.

Dari sini, angka hasil pengujian menjadi lebih dari sekadar angka yang tercantum pada lembar kerja. Di balik angka tersebut terdapat kondisi lingkungan yang dapat dipelajari dan dipantau.

### Laboratorium Tidak Sekadar Menghasilkan Angka

Selama magang, penulis tidak hanya terlibat dalam kegiatan teknis di laboratorium, tetapi juga dalam pekerjaan administratif yang mendukung proses pengujian. Salah satunya adalah pencatatan dan pengelolaan data sampel menggunakan Microsoft Excel.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan di laboratorium tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis. Ketelitian dalam mencatat, mengolah, dan menyajikan data juga menjadi bagian penting dari proses kerja.

Mulai dari sampel diterima, diproses, dianalisis, hingga hasil dicatat dan dilaporkan, setiap tahapan memiliki peran. Kesalahan kecil dalam satu proses dapat memengaruhi hasil akhir. Karena itu, kedisiplinan dan kepatuhan terhadap prosedur menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pekerjaan laboratorium.

Bagi penulis, pengalaman tersebut juga memperlihatkan bagaimana ilmu kimia dapat berkontribusi dalam persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kualitas air bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi berkaitan dengan keberlangsungan kehidupan dan aktivitas masyarakat.

### Dari Teori Menuju Pengalaman Nyata

Pengalaman di Balai Laboratorium Lingkungan DLHK DIY memberikan pemahaman bahwa ilmu kimia memiliki penerapan yang luas, salah satunya dalam pemantauan kualitas lingkungan.

Pengujian TSS menjadi contoh bagaimana konsep kimia dan analisis kuantitatif yang dipelajari di perkuliahan diterapkan secara langsung untuk memperoleh informasi mengenai kondisi perairan. Pada saat yang sama, kegiatan tersebut melatih ketelitian, kedisiplinan, tanggung jawab, serta kemampuan bekerja sesuai prosedur.

Pada akhirnya, magang bukan hanya tentang memenuhi kewajiban akademik. Lebih dari itu, magang menjadi kesempatan untuk mengenal dunia kerja dan memahami bagaimana pengetahuan diterapkan dalam situasi nyata.

Dari sungai yang menjadi sumber sampel hingga laboratorium tempat data dihasilkan, setiap tahapan memberikan pelajaran bahwa menjaga kualitas lingkungan membutuhkan lebih dari sekadar kepedulian. Dibutuhkan ilmu pengetahuan, ketelitian, tata kelola data, dan tanggung jawab untuk memastikan kondisi lingkungan dapat dipahami dengan baik.

Bagi penulis sebagai mahasiswa Pendidikan Kimia, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa ilmu yang dipelajari di bangku kuliah tidak berhenti di ruang kelas. Ilmu tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memahami dan menjaga lingkungan—termasuk melalui setetes air sungai yang dibawa ke laboratorium untuk mengungkap cerita di baliknya.(*)

*) Nida Shulhan Nisa' Zain Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


Editor: Muhammad Furqon


Comment

Berita Terkait


Mengenal TSS, Parameter Sederhana untuk Memba ...

Oleh: Nida Shulhan Nisa' Zain*)AIR sungai mungkin terlihat biasa ...


Sains Berhati Nurani: Menyongsong Industri Ta ...

Oleh: Muhammad Naufal Nazhif*) PERADABAN modern dibangun di ...


Bukan Sekadar Angka: Dua Bulan Belajar di Lab ...

Oleh: Alya Faiza Rafif - Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga YogyakartaS ...


Belajar, Beradaptasi, dan Bekerja di Laborato ...

Oleh: Elma Ratna Fadhilah - Pendidikan Kimia Fakultas Ilmu Tarbiy ...


E-Mail: harianmomentum@gmail.com