Hari Santri Bukan Gerakan Sarungan

Tanggal 27 Okt 2026 - Laporan Harian Momentum - 306 Views
Muhammad Furqon

SETIAP tanggal 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri Nasional. Secara historis, momen ini berakar pada Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari pada tahun 1945. 

Fatwa monumental itu memantik keberanian ulama dan santri untuk mempertaruhkan nyawa mempertahankan kemerdekaan, yang puncaknya meletus dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. 

Namun belakangan ini, perayaan tersebut mengalami pendangkalan makna. Peringatan Hari Santri perlahan kehilangan ruh perjuangannya dan terjebak dalam selebrasi seremonial semata.

Ironi ini terlihat jelas dari gagasan Kementerian Agama pada peringatan Hari Santri 2026 yang mengusulkan gerakan bersarung dan berpeci seminggu sekali bagi pegawai instansi, disertai parade dan peragaan busana. 

Menghidupkan tradisi pesantren tentu tidak salah, namun sangat miris ketika Resolusi Jihad—sebuah ikhtiar perang dan pengorbanan jiwa demi kedaulatan bangsa—hanya direspon dengan kebijakan dangkal sekelas "Selasa Bersarung" dan pameran pakaian tahunan.

Resolusi Jihad pada era modern seharusnya ditransformasikan menjadi perlawanan terhadap musuh nyata bangsa saat ini: kemiskinan, keterbelakangan ekonomi, dan ketertinggalan teknologi. Langkah nyata harus dimulai dari penataan kesejahteraan guru ngaji dan pengajar di madrasah. 

Lembaga pengelola zakat seperti Baznas seyogianya tidak tersita oleh agenda birokratis yang tumpang tindih dengan program pemerintah, seperti bedah rumah. Potensi besar zakat maal, infak, dan sedekah harus difokuskan untuk mengentaskan kemiskinan para pendidik agama di garis depan.

Lebih mendasar lagi, jihad santri hari ini adalah merebut kembali masa keemasan Islam (The Golden Age of Islam) dalam bidang ilmu pengetahuan. Peradaban Islam pernah memimpin dunia melalui karya monumental Ibnu Sina di bidang kedokteran, Al-Khawarizmi dalam aljabar dan matematika, serta Al-Biruni dalam astronomi. Semangat intelektual inilah yang harus dihidupkan kembali untuk merebut kejayaan sains yang sempat hilang.

Untuk itu, pemerintah perlu secara masif mengirimkan santri-santri terbaik ke perguruan tinggi kelas dunia. Santri tidak boleh lagi diisolasi dalam studi keagamaan murni, melainkan didorong menguasai kedokteran, kedirgantaraan, hingga kecerdasan buatan. 

Melalui perpaduan antara kedalaman moral dan penguasaan sains modern, kaum santri akan menjadi penggerak utama kemajuan bangsa. 

Saatnya menyudahi selebrasi pendangkalan makna, dan mengembalikan Resolusi Jihad pada pembebasan yang sejati: membakar semangat santri untuk menguasai sains, menaklukkan dunia, dan meraih kembali kejayaan Islam.

Tabik

Muhammad Furqon - Pemimpin Redaksi Harian Momentum

Editor: Muhammad Furqon


Comment

Berita Terkait


Hari Santri Bukan Gerakan Sarungan ...

SETIAP tanggal 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari San ...


Indonesia Surga Narkoba ...

INDONESIA adalah raksasa tidur dengan 280 juta penduduk, kekayaan ...


Tak Beradab ala Raja Juli ...

KETIKA kekuasaan kehabisan argumen, khotbah moral menjadi jalan p ...


Gibran dan Ujian Kejujuran Pemimpin ...

PERSOALAN Gibran Rakabuming Raka bukan lagi semata soal ijazah. I ...


E-Mail: harianmomentum@gmail.com