Wartawan dan Dana Desa

Kepala Kampung Bumi Depasena Jaya Kecamatan Rawajitu Kabupaten Tulangbawang, Nafian Faiz.

Harianmomentum.com--Dua hari ini berturut-turur saya kedatangan tamu mengakunya wartawan dan LSM, kalau kemarin mereka datang saat istirahat siang di rumah, namun yang sore berdua datang hampir menjelang azan magrib berkumandang.

Saya suka dengan wartawan, karena banyak membantu perjuangan petambak dipasena, bukan saja media lokal, Nasional bahkan Internasional banyak mempublikasikan soal Dipasena masa lalu, saya melihat peran yang mulia dari para wartawan yang selama ini bersentuhan dengan perjuangan petambak Dipasena, masih teringat jelas bagaimana kami menyelundupkan beberapa wartawan media Nasional, seperti Tempo, Kontan, Kompas, atau wartawan Internasonal dari Hongkong, Inggris atau Prancis ke Dipasena di masa itu semut pun sulit lolos masuk ke tambak tersebut--begitu menggambarkan ketatnya Dipasena dimasa lalu--.

Saya dibuat takjub bagaimana mereka mempertaruhkan nyawa bersusah-susah, dan penuh resiko, tidur dan makan dengan fasilitas seadanya, bergerak tengah malam, harus selalu berpindah tempat, berjalan di tanah berlumpur dan nyamuk yang luar biasa banyaknya, dan yang lebih luar biasanya lagi mereka tak meminta uang bahkan justru sebaliknya mereka yang mengeluarkan uang, bagi mereka tugas liputan langsung  dan data valid adalah  sebuah keniscayaan bagi mereka.

Saya juga pernah dapat cerita langsung dari seorang wartawan yang speedboatnya dibrondong tembakan oleh oknum tentara di perairan Teluk Lampung, si wartawan dipaksa berenang meninggalkan speedbooatnya dan digiring berenang mendekati pulau yang banyak ikan hiunya, itu karena si wartawan memberitakan bisnis seorang pengusaha di wilayah tersebut, bagi saya wartawan itu sehabat dan wartawan yang penuh dedikasi adalah  idola saya.

wartawan itu mencari berita, mengolah berita dan mengabarkannya kepada khalayak, wartawan bukan memalak, memeras kepala desa atau pejabat lainnya, kalau ada asumsi awal dan ditengarai ada hal yang menyimpang yang dilakukan, itu tugasnya wartawan untuk melakukan investigasi dengan data dan sumber yang berimbang lalu  diwartakan.

Soal apakah ada unsur kesalahan dan kesengajaan itu bukan ranah wartawan, tapi wartawan yang mampu mengungkap hal tadinya misteri menjadi hal yang terang dan fakta, itu tak akan mampu dilakukan hanya dengan berbekal kartu pers tapi tanpa kompetensi dan tanpa dedikasi, soal bahwa berita disajikan ada tendensius atau ada yang merasa tak nyaman, itu sebuah keniscayaan dari sebuah pemberitaan.

Kembali ke wartawan lokal tuba (alamat Wartawannya tinggal di Tulangbawang) kemaren yang datang ke rumah saya, saya tanya dari media mana?, si abang wartawan bilang " koran cetak harian "..."  bang".

Saya  belum pernah dengar apalagi baca tuh koran, tambahan lagi si abang wartawan bilang maaf kami gak bawa korannya.. duh.

Beberapa wartawan senior di kabupaten ini insya Allah saya kenal dan mereka kenal saya, saya beberapa kali ketemu saat mereka ada liputan atau setidaknya kami pernah berkomunikasi walau lewat aplikasi whattsapp, tapi yang ini,  yang datang ini saya tak taulah siapa.

Saya bilang "Kami nih jauh dari kota, jarang sekali  baca koran cetak, kalau toh korannya tiba sudah seminggu baru tiba dari tanggal terbitnya, jangankan kami yang ada dipantai timur Tuba ini, mungkin sesekali diadakan survei di kantor pemda Tulangbawang, seberapa banyak pegawai yang membaca koran cetak setiap harinya?  Mungkin hanya 1 persen saja".

Ini zaman online, berita perdetik bisa diakses melalaui Smartphone.

Ini zaman Medsos dimana setiap orang pemegang hape adalah pewarta, bebas menulis dan mewartakan apa saja yang dia mau dengan segala resiko tentunya.

Si abang wartawan keluarkan surat tugas dan ID cardnya dan memperlihatkannya ke saya, seolah membaca keraguan saya.

"Hanya ingin bersilaturahim dan kenalan saja bang," katanya dan selanjutnya mereka tak banyak bertanya soal kegiatan dan soal dana desa, lain waktu  kita ngobrol lagi ya Bang kata si wartawan lalu pamit permisi, walau diujung kata penutupnya mohon dibantu ongkos...hem...saya tersenyum saya tak biasa kasih uang jalan atau uang sekedar beli rokok ke wartawan yang datang, bukan apa-apa, saya pas lagi tidak ada uang, lagian kepala kampung tak ada anggaran dari dana desa untuk kegiatan taktis termasuk yang beginian dan saya bukanlah kepala kampung yang kaya.

Lain lagi cerita soal wartawan yang sore kemarin datang, ini sedikit bikin kesal hati, pertama datang sudah sangat sore, kedua kata pembukanya diawal kata yang tak enak didengar dan membuat saya tersinggung.

Begini bang, Rawajitu Timur ini kan jauh dari pusat pemerintahan, dan kelihatan sangat tertinggal sementara dana yang dikucurkan pemerintah lewat  DD, miliaran rupiah, begitu beliau memulainya, setelah kata perkenalan dan basa-basinya.

Saya melihat dia mulai menekan saya dengan mengarahkan hapenya ke saya, mungkin beliau sedang mengaktifkan videonya atau bisa saja hanya berpura-pura, sementara kawannya masih diam saja.

Di ruangan itu hanya kami bertiga, isteri saya masuk kamar saat mendengar ada tamu laki yang datang, karena ruangan rumah kami tak ada ruang lagi selain kamar itu, isteri saya tak biasa ikut nimbrung ngobrol bila saya kedatangan tamu,tapi saya yakin beliau cukup mendengar dengan jelas apa yang saya sampaikan karena saya sedikit emosi saat itu.

Saya segera ambil tripod hape dan menancapkan hape saya diatas tripod, mengarahkan hape ke kami bertiga, saya dan dua tamu wartawan, mengatur jarak, lalu menekan tombol video saya mulai merekam pembicaraan kami.

Saya minta mereka mengulang perkenalannya dan menunjukan ID Card mereka ke arah kamera. Sepertinya mereka berdua  mulai grogi dan saya coba mengusai suasana.

Saya mulai menginterogasi mereka dengan bertanya apakah abang berdua sudah punya data awal yang cukup, soal Dipasena dan soal info yang abang akan dalami ke saya?

Apakah abang sudah pernah mendengar atau membaca informasi tentang saya?
Si abang mulai tersudut dan menjawab, belum bang katanya.

Sekarang, silahkan apa yang akan ditanyakan, saya akan jawab semampu saya, saya menatap tajam kepada salah satu dari mereka, yang menurutku kurang sopan, kurang baca dan gak gaul ini.

Kami mendapat laporan ada masalah penggunaan dana desa dikampung abang kata si wartawan. Saya tercekat, kaget juga mendengarnya. Masih punya nyali rupanya dia.

Oh ya? Laporan darimana itu dan bisakah saya dikasih tau apa dan dimana yang abang bilang bermasalah itu?

Dengan sidikit gugup si abang wartawan justru meneruskan pertanyaannya, bisa disebutkan pembangunan yang dilakukan pada tahun 2016  yang gunakan DD? Katanya.

Kalau itu yang ingin ditanyakan cukup abang datang ke kantor desa, tanyakan ke staf desa, datanglah besok ke kantor kampung pukul sembilan pagi kami tunggu di sana, jawab saya.

Saya mulai menduga mereka cuman mencari-cari kesalahan saja, karena tak berbasis data dan fakta.

Tapi kalau abang punya data awal tentang apa dan dimana  tentang DD kami yang bermasalah ayo kita diskusikan dan Silahkan didalami, silahkan diberitakan jawab saya.

Saya mau kasih tau ya bang, jembatan yang abang lewati tadi itu dibangun swadaya masyarakat pada tahun 2014 sebelum ada DD, bahkan sebelum ada dana GSMK,  abang tau berapa biayanya hampir setengah M?.

Abang tau berapa jembatan besi di kampung kami ini? Tidak kurang dari 70 buah jembatan besi, andaikan gunakan dana desa 10 juta saja, untuk rehabnya tak akan cukup dana desa untuk menenggulanginya, abang tau berapa kilo meter panjang dan  lebar kanal-kanal ini, semuanya kami bangun dan pelihara secara mandiri dan sawadaya.jadi jangan asal ngomong bilang RJT tertinggal.

Kalau abang mau tau se transparan mana kami mengelola DD, cukup lihat rumah ini. "Ini rumah dibangun dan dibuatkan masyarakat, bukan dana desa,  dari 3 tahun lalu dan sampai saat ini saya tak pake kain gorden, isi rumah dan kamar saya terlihat dari luar siang dan malam, rumah ini tak pernah dikunci, yang kadang saat pergi jendela dan pintunya terbuka ayam tetangga pun masuk ke dalam rumah," paparnya.

Saat percakapan itu berlangsung hape saya bergetar ada panggilan masuk, hape saya loudspecker saja, rupanya ibu-ibu kepala sekolah TK se Rawajitu lagi pada ngumpul, mereka melaporkan bahwa Ibu Bupati Winarti akan segera merealisasikan beberapa janji politiknya diantaranya adalah honor dan kesejahteraan guru-guru PAUD, tapi masalahnya ada diantara guru ini sudah dapat dana sertifikasi dan konon kabarnya bahwa  mereka yang sudah dapat dana serifikasi ini tak dapat tunjangan lagi dari pemda, mereka minta kepada saya agar dapat membantu menyampaikan dan meyakinkan Bupati Winartiku Winartiku agar mereka yang telah sertifikasipun tetap dapat tunjangan kesejahteraan dari pemda tuba setidaknya untuk guru-guru TK/PAUD terpencil Rawajitu Timur ini, begitu isi telponan ibu kepsek TK/PAUD ini.

Saya tak bisa janjikan apa-apa karena saya tak punya nomor kontak ibu bupati, seingat saya sudah lebih dari 5  kali ibu bupati ganti no hape, saya hanya menunggu saja kalau ibu bupati yang butuh, tapi saya sampaikan kepada ibu-ibu itu,nanti akan saya sampaikan dengan orang yang dekat beliau jawabku, atau nanti lewat FB ibu bupati, hape saya tutup.

Camera video hape saya matikan dan saya tak perlu kasih penjelasan apa-apa kepada tamu saya ini tentang percakapan lewat hape tersebut, karena mereka mendengarnya dengan jelas.

Tiba-tiba si wartawan menyampaikan permohonan maaf kalau ada kata-kata tak berkenan dan menyinggung, sepertinya mereka salah sasaran.

Saya hanya kasih saran agar mereka lebih profesional dalam menjalankan tugas kewartawanannya, setidaknya mempelajari dengan jelas siapa yang akan diajak bicara, dan persiapkan bahan yang akan dibicarakan, jangan asal tuduh. Mereka permisi pulang, azan magrib telah berkumandang.(*)

Oleh: Nafian Faiz. 16/11/2018.
Penulis adalah Kepala Kampung Bumi Depasena Jaya Kecamatan Rawajitu
Kabupaten Tulangbawang.
Tulisan ini ditulis tanggal 7 November 2018 sebagai solidaritas kepada kawan Kakam Morisjaya, Kabupaten Tulangbawang, yang Jumat malam ada masalah diduga diperas oknum wartawan.

Leave a Comment