MOMENTUM, Bandarlampung--CV Central Intan melakukan ekspor 3.330 ton tepung tapioka dengan nilai Rp26 miliar ke Tiongkok.
Ekspor tersebut merupakan perdana yang dilakukan CV Central Intan yang menjadi anak perusahaan Intan Group.
Pelepasan ekspor oleh Gubernur Rahmat Mirzani Djausai itu berlangsung di Pelabuhan Panjang Bandarlampung, Selasa (5-5-2026).
CEO Intan Group Jeremy Gozal mengatakan, ekspor itu merupakan hasil dorongan Pemerintah Provinsi Lampung agar pelaku usaha tidak hanya bergantung pada pasar domestik, tetapi mulai menembus pasar global.
Terlebih, saat awal kepemimpinan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal, harga singkong di Lampung sempat mengalami penurunan signifikan sehingga para pelaku industri didorong mencari pasar alternatif melalui ekspor.
“Ketika harga singkong sedang terpuruk, kami diminta mencari pasar ekspor. Hari ini ekspor perdana ini menjadi bukti bahwa produk Lampung mampu bersaing di pasar internasional,” kata Jeremy.
Menurut dia, potensi pasar ekspor tepung tapioka Lampung masih terbuka lebar. Selain Tiongkok, sejumlah negara lain seperti Korea Selatan, Bangladesh, dan Thailand juga telah menunjukkan minat. “Beberapa negara tersebut sudah meminta penawaran harga kepada kami,” ujarnya.
Dia menilai, ekspor perdana itu bukan hanya menjadi capaian perusahaan, tetapi juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan petani singkong di Lampung melalui peningkatan nilai tambah produk.
Ekspor tersebut juga merupakan hasil kolaborasi Intan Group dengan Pelindo, Badan Karantina Indonesia, serta dukungan Pemerintah Provinsi Lampung.
Pemerintah Provinsi Lampung menyambut positif langkah tersebut sebagai upaya memperkuat pertumbuhan ekonomi berbasis ekspor sekaligus mempertegas posisi Lampung sebagai salah satu sentra pengolahan hasil pertanian nasional.
Ke depan, ekspor komoditas turunan singkong dari Lampung diharapkan terus meningkat seiring semakin luasnya akses pasar global bagi produk lokal.
Sementara, Gubernu Mirza menegaskan, komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat daya saing industri tapioka dan komoditas singkong.
Menurut Mirza, keberhasilan ekspor itu menjadi bukti bahwa kualitas tapioka asal Lampung mampu bersaing dan diterima di pasar internasional, baik dari sisi mutu maupun harga.
Hal itu menjadi momentum penting setelah sebelumnya produk tapioka Lampung sempat kesulitan bersaing akibat harga yang tidak kompetitif di pasar global.
"Ke depan kita harus terus memperbaiki produktivitas dan kualitas tapioka. Ekspor ini membuktikan bahwa produk kita bisa diterima di dunia dan harganya mampu bersaing," jelasnya.
Dia menyebutkan, meningkatnya permintaan global terhadap tapioka turut menjadi peluang besar bagi Lampung.
Kenaikan konsumsi produk turunan tapioka di berbagai negara berdampak langsung pada meningkatnya harga di pasar dunia, sehingga membuka ruang bagi produk lokal untuk masuk dan bersaing.
Selain itu, Pemerintah Provinsi Lampung juga tengah mendorong perbaikan ekosistem pertanian singkong di tingkat petani.
Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah pengembangan bibit unggul singkong dengan produktivitas tinggi dan kandungan pati yang lebih besar.
"Kita ingin ada bibit unggul yang produksinya tinggi, pati atau acinya banyak, sehingga produktivitas dan pendapatan petani juga meningkat," sebutnya.
Diketahui, sejumlah daerah di Lampung menjadi sentra utama produksi singkong, di antaranya Lampung Tengah, Lampung Timur, Lampung Utara, Tulang Bawang, dan Tulang Bawang Barat.
Mirza juga menyoroti pentingnya peran kebijakan pemerintah pusat dalam menjaga stabilitas harga dan keberlangsungan industri dalam negeri.
Ia menyebut, penghentian impor tapioka menjadi salah satu langkah krusial yang memberikan ruang bagi industri lokal untuk berkembang.
"Saat harga bagus di luar, industri cenderung impor. Tapi ketika impor dihentikan, ada ruang bagi kita untuk menata kembali industri dalam negeri," tutupnya. (**)
Editor: Agung Darma Wijaya
E-Mail: harianmomentum@gmail.com