Ratusan Mangrove Mati di Telukpandan, Warga Minta Pemerintah Turun Tangan

Tanggal 11 Agu 2026 - Laporan Rifat Arif. - 146 Views
Pohon mangrove dalam kondisi kering dan mati di pesisir Telukpandan, Pesawaran. Foto: Ist

MOMENTUM, Telukpandan--Ratusan pohon mangrove ditemukan mati di kawasan konservasi Hutan Mangrove Petengoran, Desa Gebang, Kecamatan Telukpandan, Kabupaten Pesawaran.

Kondisi tersebut terekam dalam foto dan video pendek yang beredar di sejumlah media sosial pada 8 Agustus 2026. Warga meminta pemerintah segera melakukan pengecekan untuk mengetahui penyebab kematian tanaman pesisir tersebut.

Salah seorang warga Desa Gebang, Tony Yunizar mengatakan, jumlah mangrove yang mati terlihat cukup banyak dan ditemukan di sejumlah lokasi, termasuk kawasan yang berbatasan langsung dengan areal tambak udang.

Menurut dia, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena Hutan Mangrove Petengoran merupakan kawasan konservasi yang juga dikembangkan sebagai ekowisata serta menjadi lokasi penelitian mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi.

"Kami melihat banyak mangrove yang mati. Ini kawasan konservasi, jadi kami berharap pemerintah turun langsung melihat kondisi di lapangan dan mencari tahu penyebabnya," kata Tony, Selasa (11-8-2026).

Ia mengatakan, kematian mangrove perlu mendapat perhatian serius karena tanaman tersebut memiliki fungsi penting bagi ekosistem pesisir dan kehidupan masyarakat sekitar.

Menurut Tony, sejumlah faktor perlu diperiksa, mulai dari kondisi saluran air, kualitas lingkungan, aktivitas di sekitar kawasan, hingga kemungkinan faktor lainnya.

Meski demikian, ia menegaskan penyebab kematian mangrove belum dapat disimpulkan hanya berdasarkan kondisi yang terlihat di lapangan. Pemeriksaan dan kajian dari instansi berwenang diperlukan agar penyebabnya dapat diketahui secara objektif.

Berdasarkan dokumentasi yang diperoleh, kematian mangrove tersebut diduga telah berlangsung cukup lama dan terjadi secara bertahap.

"Temuan warga baru dilaporkan sekitar dua hingga tiga hari sebelum informasi ini disampaikan, sementara kematian mangrove diperkirakan telah terjadi dalam kurun lima hingga enam bulan," ujarnya.

Tony juga menyebut terdapat indikasi penumpukan material limbah di salah satu titik yang menutupi bagian akar mangrove. Kondisi tersebut diduga dapat mengganggu proses pernapasan tanaman, namun masih membutuhkan kajian lebih lanjut.

Selain itu, terdapat dugaan kematian mangrove berkaitan dengan aktivitas pengembangan lahan untuk tambak. Namun, dugaan tersebut belum dapat dipastikan dan masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

"Saya tidak mengatakan ini faktornya, hanya indikasinya ada ke arah sana. Tetapi sekali lagi perlu kajian agar hasilnya jelas karena membutuhkan tindak lanjut serius, bukan hanya berdasarkan dugaan," katanya.

Tony berharap dinas terkait di Provinsi Lampung segera melakukan pengecekan langsung ke lokasi. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui luas kawasan terdampak, jumlah mangrove yang mati, serta kondisi tanaman yang masih bertahan.(*)

Editor: Muhammad Furqon


Comment

Berita Terkait


Ratusan Mangrove Mati di Telukpandan, Warga M ...

MOMENTUM, Telukpandan--Ratusan pohon mangrove ditemukan mati di k ...


PWRI Lampung Barat Peringati HUT Ke-64, Perku ...

MOMENTUM, Liwa – Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) ...


Damkar Tubaba Padamkan Kebakaran Lahan di Tol ...

MOMENTUM, Waykenanga--Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (D ...


Persiapan Capai 80 Persen, DPD KNPI Tanggamus ...

MOMENTUM, Tanggamus--Dewan Pengurus Daerah (DPD) Komite Nasional ...


E-Mail: harianmomentum@gmail.com