Hilirisasi Lampung Masih Rendah, Baru 40 Persen Produk Bernilai Tambah

Tanggal 23 Sep 2026 - Laporan Harian Momentum - 104 Views
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal saat menghadiri Rapat Luar Biasa Senat Unila dalam rangka Dies Natalis ke-61 di Gedung Serba Guna Unila, Rabu (23/9/2026). Foto: Ist.

MOMENTUM, Bandarlampung--Hilirisasi komoditas Lampung masih rendah. Dari sekitar Rp165 triliun nilai sektor primer, baru 40 persen yang diolah menjadi produk bernilai tambah. Sisanya masih banyak dijual dalam bentuk bahan mentah.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal meminta Universitas Lampung (Unila) mengambil peran lebih besar untuk mengubah kondisi tersebut. Kampus didorong menjadi motor transformasi ekonomi melalui riset, inovasi dan teknologi yang sesuai dengan potensi daerah.

"Unila ke depan setelah 61 tahun ini harus bisa menjadi kampus, menjadi motor transformasi. Bagaimana ekonomi yang diputar ini, yang diubah ini, motor transformasinya adalah Unila," kata Mirza saat menghadiri Rapat Luar Biasa Senat Unila dalam rangka Dies Natalis ke-61 di Gedung Serba Guna Unila, Rabu (23/9/2026).

Menurut Mirza, persoalan hilirisasi penting karena sebagian besar masyarakat Lampung masih bergantung pada sektor pertanian, perkebunan dan peternakan. Sekitar 70 persen penduduk Lampung bekerja di sektor tersebut.

Ketergantungan itu membuat ekonomi masyarakat mudah terpengaruh oleh perubahan harga komoditas. Karena itu, kenaikan produksi dan harga komoditas dinilai belum cukup jika tidak diikuti pengolahan menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Pertumbuhan ekonomi Lampung saat ini berada di kisaran 5,5 persen. Pemerintah daerah menargetkan pertumbuhan hingga 8 persen untuk mendukung pencapaian Indonesia Emas.

Mirza menilai Unila dapat mengisi celah tersebut dengan mengembangkan teknologi dan inovasi untuk komoditas unggulan Lampung.

"Enggak banyak anak Unila yang terlibat hilirisasi tebu menjadi gula. Enggak banyak anak-anak Unila yang terlibat hilirisasi jagung jadi pakan. Enggak banyak anak-anak Unila yang terlibat hilirisasi dari singkong jadi tapioka, jadi glukosa, jadi sorbitol dan lain-lain," ujarnya.

Singkong menjadi salah satu komoditas yang mendapat perhatian. Lampung menyumbang sekitar 70 persen produksi tapioka nasional. Namun, produktivitas singkong daerah ini masih di bawah 25 ton per hektare, sementara potensinya disebut dapat mencapai 40 hingga 60 ton.

Persoalannya bukan hanya produktivitas. Produk turunan singkong juga belum banyak dikembangkan di Lampung. Tapioka dapat diolah lebih lanjut menjadi berbagai produk, termasuk glukosa dan maltosa.

Padahal, hampir 500 ribu penduduk Lampung menggantungkan aktivitas ekonominya pada komoditas singkong.

Karena itu, Pemprov Lampung bersama Unila mendorong pengembangan National Cassava Center. Program tersebut diarahkan pada pengembangan bibit unggul, peningkatan produktivitas dan pengembangan industri turunan singkong.

Pengembangan bibit unggul ditargetkan mulai dilakukan tahun depan. Peningkatan produktivitas diharapkan memperkuat bahan baku industri sekaligus membuka peluang hilirisasi.

Mirza juga menyoroti produktivitas sejumlah komoditas lain. Produksi padi saat ini sekitar enam ton per hektare dari potensi 10 ton. Jagung sekitar lima ton dari potensi 10 ton.

Menurutnya, peningkatan produktivitas dan hilirisasi harus berjalan bersama. Tanpa pengolahan, peningkatan produksi hanya membuat Lampung tetap menjadi pemasok bahan mentah.

"Unila harus menjadi pusat inovasi dan pengembangan teknologi yang sesuai dengan karakter Lampung," katanya.

Sementara itu, Rektor Unila Lusmeilia Afriani mengatakan kampus harus memberikan dampak yang lebih nyata kepada masyarakat. Riset dan inovasi, menurutnya, tidak cukup berhenti di lingkungan akademik, tetapi harus dapat dimanfaatkan masyarakat dan dunia usaha.

Pada Dies Natalis ke-61, Unila mengusung semangat "Be Strong", dari kampus yang kuat menuju kampus yang berdampak.(*)

Editor: Muhammad Furqon


Comment

Berita Terkait


Perubahan APBD: Belanja Daerah Pringsewu Temb ...

MOMENTUM, Pringsewu--Anggaran belanja Kabupaten Pringsewu dalam P ...


HUT ke 35 Lambar, Kemiskinan Tersisa 9,93 Per ...

MOMENTUM, Liwa--Angka kemiskinan di Kabupaten Lampung Barat (Lamb ...


Hilirisasi Lampung Masih Rendah, Baru 40 Pers ...

MOMENTUM, Bandarlampung--Hilirisasi komoditas Lampung masih renda ...


Gubernur Lampung Dorong Unila Jadi Motor Tran ...

MOMENTUM, Bandarlampung--Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal ...


E-Mail: harianmomentum@gmail.com