Erin Menolak Menyerah: Potret Gajah Betina Way Kambas yang Melawan Minder di Balik Sisa Belalainya

Tanggal 02 Okt 2026 - Laporan Wawan/rls - 165 Views
Erin, Gajah Korban Jerat yang Bertahan dengan Belalai Tak Utuh di TNWK

MOMENTUM, Lampung Timur--Suara gemuruh langkah gajah memecah hening belantara Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kamis (1/10/2026). Di antara barisan satwa raksasa yang melintas megah, sesosok gajah betina melangkah perlahan. Tubuhnya kini tegap dan sintal, namun tatapan matanya menyimpan jejak kepedihan masa lalu yang tak pernah benar-benar terhapus.

Dialah Erin. Gajah yang dipaksa takdir untuk berbeda dari kawanannya karena belalainya yang buntung terpotong.

Bagi seekor gajah, belalai adalah nafas kehidupan, jemari untuk menyuap makanan, serta penyambung asa untuk minum dan bertahan. Namun bagi Erin, organ terpenting itu terenggut paksa oleh lilitan kawat jerat pemburu liar sedekade silam.

Tragedi kelam itu bermula pada 13 Juli 2016 di belantara Susukan Baru. Kala itu, Erin yang masih bayi mungil berusia sekitar tiga tahun ditemukan terkulai sendirian. Tubuhnya kurus kering tinggal tulang berbalut kulit, luka menganga di ujung belalainya membusuk, sementara kelompok dan induknya telah lama meninggalkannya karena tak sanggup mengimbangi langkahnya yang tertatih.

Di ambang maut dan kesendirian rimba, takdir mempertemukannya dengan Sukowiyono (56), seorang mahout senior yang memilih mendedikasikan sisa hidupnya untuk menjaga nafas Erin agar tidak padam.

"Yang jelas dari laporan kepala resort, terus dari tim patroli kita yang mengambil. Terus dibawa ke sini. Yang jelas sudah luka, luka benar. Itu sekitar umur 2,5 tahun, 3 tahun lah itu. Dulu sendiri. Ditinggal induknya," kenang Sukowiyono menatap sayu ke arah satwa asuhannya itu.

Sejak hari itu, hidup Sukowiyono tak lagi sama. Merawat Erin bukan sekadar rutinitas dinas, melainkan pertarungan batin melawan keterbatasan fisik sang anak gajah.

Tanpa belalai yang utuh, Erin tak mampu menyedot air ke mulutnya. Ia juga tak bisa menyendok lumpur basah ke punggungnya untuk mendinginkan kulit dari terik matahari yang memanggang belantara Sumatera.

"Lebih ekstra. Karena dia putus belalainya, terus enggak seperti gajah lain bisa main lumpur di rawa. Siang kita telaten mandiin lumpur biar dingin badannya. Terus makan juga kita ajarin," tutur Sukowiyono.

Pada masa-masa awal yang menyayat hati, Sukowiyono harus telaten menyuapkan makanan langsung ke rongga mulut Erin. Pria yang telah mengabdi sebagai mahout sejak 1995 itu dengan sabar mengajarinya cara menyesap cairan dan menjangkau pucuk dedaunan dengan sisa belalai yang buntung. Bahkan demi meluluhkan trauma masa lalu Erin terhadap manusia, ia kerap membawakan seikat rumput segar sembari berbisik menenangkan.

"Memang sudah ada makanan, cuma kita kasih tambahan dari kita. Biar pendekatan-pendekatan. Ya memang sudah profesi kita dan sudah tupoksi kita di sini sesuai dengan SK. Kita melatih gajah," ungkapnya tulus.

Kini, sepuluh tahun berselang, Erin telah menjelma menjadi gajah remaja berusia 13 tahun yang sehat secara fisik. Namun luka psikis di batinnya belum seutuhnya sembuh. Erin tumbuh dengan kepribadian penyendiri, kerap menyingkir dan minder saat kawanan gajah besar mendekat.

"Namanya cacat, makanya dia agak minder lah yang jelas itu. Karena lebih besar yang mendekati. Kalau sama yang kecil juga enggak apa-apa," ujar Sukowiyono lirih.

Masa depan Erin di TNWK memang masih menunggu arah kebijakan program konservasi selanjutnya. Namun satu hal yang pasti, Sukowiyono berikrar tidak akan pernah melepaskan genggaman tangannya dari satwa malang tersebut.

"Kita kan nunggu program ini nanti bagaimana. Kita belum tahu. Alhamdulillah sampai sekarang semangat. Tiap hari semangat," tegas pria paruh baya itu dengan sorot mata berkaca-kaca.

Di belantara Way Kambas—yang kini menaungi sekitar 63 ekor gajah jinak dan 200 gajah liar—belalai Erin mungkin tidak akan pernah tumbuh kembali. Jerat kawat manusia telah merampas kesempurnaannya selamanya.

Namun di balik belalai yang terpotong itu, Erin telah membuktikan ketangguhannya bertahan hidup, bersanding dengan ketulusan seorang manusia yang menolak membiarkannya mati dalam sunyi.(**)

Editor: Agus Setyawan


Comment

Berita Terkait


Perdamaian RS Maria Regina dan Keluarga Pasie ...

MOMENTUM, Kotabumi – Kasus meninggalnya pasien di UGD RS Maria ...


Erin Menolak Menyerah: Potret Gajah Betina Wa ...

MOMENTUM, Lampung Timur--Suara gemuruh langkah gajah memecah heni ...


PWI Pusat Luncurkan Website, Hampir 40 Portal ...

MOMENTUM, Jakarta -- Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat mel ...


Pujakesuma Lampung Barat Salurkan Bantuan unt ...

MOMENTUM, Belalau--Keluarga besar Paguyuban Putra Jawa Kelahiran ...


E-Mail: harianmomentum@gmail.com