MOMENTUM, Bandarlampung--Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung berkolaborasi dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) menggelar talkshow bertajuk “Kayu Ara dalam Membangun Arsitek Lampung Maju Berbasis Kearifan Lokal” di Nuwa Baca Zainal Abidin Pagar Alam, Gedung Perpustakaan Lampung, Senin (2/11/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan strategis yang dihadiri oleh jajaran Pemprov Lampung, pengurus IAI, praktisi arsitektur, hingga kalangan mahasiswa. Empat narasumber dihadirkan untuk menguraikan pentingnya menjadikan nilai-nilai budaya serta kearifan lokal sebagai fondasi utama pembangunan arsitektur di Bumi Ruwa Jurai.
Mewakili Gubernur Lampung, Plt. Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Daerah Provinsi Lampung, Dr. Ir. Mulyadi Irsan, M.T., menyampaikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya ajang ini. Ia menilai forum Kayu Ara menjadi momentum krusial untuk mengarahkan perkembangan arsitektur Lampung agar tetap berpijak pada identitas lokal di tengah gempuran modernisasi.
Mulyadi juga menyoroti kehadiran karya inovasi arsitektur dan instalasi semi-kontemporer gagasan Ir. Anshori Djausal, M.T. Karya tersebut memadukan arsitektur, teknologi modern, dan ragam budaya Lampung secara harmonis.
Ia mengaitkan karya tersebut dengan filosofi pohon kayu ara yang memiliki perakaran kuat, tumbuh kokoh, serta memberi naungan rindang. Begitu pula pembangunan Lampung ke depan, diharapkan mampu bertumpu pada akar budaya daerah sembari memberi kemanfaatan luas bagi masyarakat.
Majelis IAI Provinsi Lampung, Ar. Ir. Tjetjeng Sofjan Surjana, M.M., M.T., IAI, yang jugas salah satu narasumber menegaskan kearifan lokal tidak boleh dimaknai secara sempit sekadar bentuk fisik atau ornamen visual bangunan belaka.
Menurut Tjetjeng, kearifan lokal mencakup pengetahuan teknis dan adaptasi ekologis masyarakat terdahulu dalam merespons kondisi alam, iklim, hingga perubahan cuaca yang diwariskan lintas generasi.
Oleh karena itu, ia mendorong sinergi yang lebih erat antara praktisi arsitek, akademisi perguruan tinggi, dan masyarakat. Kolaborasi ini penting agar warisan pengetahuan lokal tidak berhenti sebagai nostalgia sejarah, melainkan bertransformasi menjadi karya arsitektur modern yang adaptif dan ramah lingkungan.
Talkshow Kayu Ara ini diharapkan mampu menjadi katalis pertukaran gagasan yang berkelanjutan. Pembangunan arsitektur Lampung yang maju tidak sekadar mengejar kemegahan fisik, melainkan menyelaraskan antara kemajuan teknologi, kelestarian lingkungan, dan identitas budaya lokal.(**)