MOMENTUM, Bandarlampung — Hanya dalam hitungan jam, Pemerintah Provinsi Lampung mengubah kebijakan kegiatan belajar mengajar (KBM) menyusul kembali meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK).
KBM tatap muka yang sebelumnya diputuskan kembali digelar mulai Rabu (9/9/2026), kini dibatalkan. Seluruh sekolah di Lampung diminta kembali menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama dua hari, Rabu dan Kamis (9-10/9/2026).
Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mengatakan perubahan kebijakan itu dilakukan setelah pemerintah mencermati perkembangan terbaru aktivitas GAK, terutama erupsi pada Selasa sore yang berlangsung lebih lama serta arah angin yang menuju Lampung.
Baca Juga: Dampak Erupsi Menurun, Sekolah Dibuka dan Penerbangan Normal
"Karena ada perkembangan terbaru serta mempertimbangkan arah angin yang menuju Provinsi Lampung dan adanya potensi paparan abu vulkanik kembali, maka kami memutuskan untuk menyesuaikan kembali kebijakan tersebut," kata Jihan dalam konferensi pers di Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Provinsi Lampung, Selasa (8/9/2026) malam.
Keputusan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Gubernur Lampung Nomor 100.3.4/14/V.01/2026 tentang Pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Akibat Dampak Abu Vulkanik. Surat itu ditujukan kepada kepala daerah di 15 kabupaten/kota se-Lampung.
Perubahan kebijakan terjadi setelah GAK kembali erupsi pada Selasa sore pukul 17.51 WIB dengan durasi 31 detik. Erupsi tersebut lebih lama dibandingkan empat erupsi sebelumnya yang terjadi sejak pagi dan seluruhnya berlangsung kurang dari 20 detik.
Selain durasi erupsi, arah angin menjadi pertimbangan pemerintah. Angin bergerak menuju barat laut dan utara dengan kecepatan rendah hingga sedang sehingga potensi sebaran abu vulkanik ke wilayah Lampung masih perlu diwaspadai.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung Thomas Amirico mengatakan keselamatan peserta didik menjadi pertimbangan utama dalam memperpanjang PJJ.
Menurutnya, kondisi yang semula dinilai memungkinkan untuk pembelajaran tatap muka berubah setelah erupsi sore berlangsung lebih lama dan arah angin mengarah ke Lampung.
"Ada pertimbangan bahwa erupsinya memang relatif rendah, kurang dari 20 detik, tapi tadi sore ternyata durasinya agak panjang dan arah anginnya menuju Lampung. Maka kemudian demi keselamatan anak-anak kita karena memang ada potensi akan ada abu lagi, kami putuskan tadi berdasarkan arahan pimpinan untuk memperpanjang daring atau PJJ-nya selama dua hari, dari hari Rabu sampai hari Kamis," ujar Thomas.
Thomas berharap kondisi udara kembali membaik sehingga KBM tatap muka dapat dimulai Jumat (11/9/2026).
Selama PJJ, seluruh satuan pendidikan diminta membersihkan ruang kelas dan lingkungan sekolah dari sisa abu vulkanik. Pembersihan dilakukan untuk memastikan lingkungan sekolah aman sebelum KBM tatap muka kembali diterapkan.
"Selama proses dua hari ini kami juga tekankan kepada seluruh satuan pendidikan untuk terus berkoordinasi dalam rangka membersihkan dengan petugas kebersihan atau BPBD supaya nanti dipastikan pada saat proses pembelajaran anak itu betul-betul steril ruang kelas dan lingkungan sekolahnya," jelasnya.
Kebijakan PJJ berlaku untuk seluruh jenjang pendidikan, mulai PAUD hingga SMA dan SMK di Provinsi Lampung.
Thomas menegaskan kebijakan KBM akan terus disesuaikan dengan perkembangan aktivitas GAK dan kondisi sebaran abu vulkanik.
"Kita akan selalu menyesuaikan dengan kondisi. Perkembangan tentu kita akan selalu monitor. Kemudian dengan otoritas yang berwenang, kita selalu kontak supaya jam per jam kita tahu informasi, sehingga kita tentu akan menyesuaikan dengan apa yang terjadi terkait dengan perkembangan erupsi Anak Gunung Krakatau," katanya.
Jika aktivitas GAK kembali meningkat, pemerintah akan menyiapkan kebijakan lanjutan. Sebaliknya, jika kondisi membaik, KBM tatap muka akan kembali diterapkan.
"Artinya, kalau dia meningkat, tentu ada kebijakan lanjutan. Kalau dia tidak meningkat, tentu ya kita akan tatap muka proses belajar," tandasnya.(*)
Editor: Muhammad Furqon
E-Mail: harianmomentum@gmail.com